alexametrics
Jumat, 18 Sep 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Mengenal Pradana Ricardo, Juara Lomba Esai Nasional di Tengah Pandemi

09 Agustus 2020, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Mengenal Pradana Ricardo, Juara Lomba Esai Nasional di Tengah Pandemi

Idul Adha memang telah berlalu. Namun, esensi dari hari raya tersebut harus terus melekat di sanubari umat muslim. Bukan sekadar menyembelih hewan kurban. Yang lebih penting adalah keikhlasannya.   

IRAWAN WIBISONO, Solo, Radar Solo

POIN tersebut dituangkan secara apik oleh Pradana Ricardo dalam esainya dan mengantarkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini memboyong juara pertama lomba menulis esai yang digelar Departemen Syiar Strategis Keluarga Muslim Psikologi (KMP) Universitas Gadjah Mada (UGM), pekan lalu.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia angkatan 2019 itu membuat esaI bertajuk 'Menelisik Esensi Kurban dalam Bingkai Kearifan Lokal di Tengah Pandemi Virus Corona'.

"Awalnya dapat informasi lomba esai yang disebarkan oleh teman Psikologi UGM. Saya tertarik dan ingin mencoba untuk mengikuti lomba tersebut," terangnya. 

Filosofi jawa, lanjut Ricardo, menjadi nilai yang dipilih untuk mengulik esensi dari berkurban. Melalui hasil riset, membaca beberapa literatur, mengikuti seminar online, dan berdiskusi dengan dosen, akhirnya terpilihlah filososi jawa memayu hayuning bawana ambrasta dur hangkara.

Filosofi ini dipilih karena dia melihat makna yang terkandung dalam kalimat tersebut mewakili esensi-esensi dalam berkurban. “Ternyata makna dari filosofi tersebut sesuai dengan esensi-esensi pelaksanaan ibadah kurban. Oleh karena itu, saya mencoba menggali hal-hal yang semestinya dilakukan manusia ketika berkurban melalui filosofi tersebut,” urai dia.

Dalam beberapa kesempatan, dia melakukan diskusi bersama dengan teman-temannya. Topik berkurban ini menjadi salah satu isu yang dibicarakan oleh mereka. Narasi di tengah masyarakat yang menilai siapa yang berkurban akan mendapatkan “kendaraan” ketika menyeberangi jembatan shiratal mustaqim membuat tidak sedikit masyarakat percaya jika semakin besar hewan kurban akan semakin besar ibadahnya dan semakin baik “kendaraan” yang akan didapatnya kelak.

Dari diskusi tersebut, Ricardo berpandangan bahwa ada esensi berkurban yang tidak sesuai.  "Berkurban yang diharapkan mengangkat nilai keikhlasan, menjadi berkurban sebagai ajang perlombaan dalam hal ukuran hewan. Pemikiran tersebut menginspirasi saya untuk mengangkat isu tersebut menjadi sebuah esai," ungkapnya.

Poin yang ingin disampaikan Ricardo melalui karyanya, yakni sebagai manusia, seseorang harus selalu memahami nilai-nilai apa saja yang seharusnya dihayati dalam beribadah, dalam hal ini adalah ibadah kurban. 

"Jangan terfokus pada sifat-sifat serakah, tamak, dan egois. Tetapi harus mengutamakan kelurusan niat dan keikhlasan hati ketika menjalankan ibadah tersebut.  Harapannya, kita akan semakin dekat kepada Allah SWT melalui ibadah yang diniatkan sungguh-sungguh,” tuturnya. 

Dalam proses pembuatan karya, mahasiwa yang memiliki cita-cita menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menjelaskan, durasi singkat menjadi tantangan tersendiri. Namun dengan dukungan dosen, teman-teman dan kakak tingkat di unit kegiatan mahasiswa (UKM) Keilmiahan baik di tingkat Fakultas Ilmu Budaya, Sarasati Community (SSC) dan di tingkat universitas, Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM), akhirnya Ricardo berhasil membulatkan tekad mengikuti lomba menulis esai tersebut.

Selama proses, lanjutnya, didapati banyak masukan, khususnya dari kepala Prodi Sastra Indonesia. “Budaya konsultasi atau diskusi bersama dosen ketika mengikuti lomba menjadi salah satu penyemangatnya untuk terus berprestasi. Lingkungan yang suportif ini juga membuat hubungan antara mahasiswa dengan dosen menjadi dekat dan baik,” ucapnya.

Tak puas dengan prestasi yang telah diraihnya, mahasiswa yang akan masuk semester tiga ini mengaku tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti beberapa perlombaan dalam waktu dekat.

Semangatnya untuk menulis dan membuat karya terus ditekuninya sampai suatu saat dia bisa menjadi bagian dari tim peneliti di bidang kebudayaan LIPI. (*/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia