alexametrics
Jumat, 18 Sep 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Pejabat Harus Jadi Contoh Disiplin Protokol

09 Agustus 2020, 08: 20: 59 WIB | editor : Perdana

Pejabat Harus Jadi Contoh Disiplin Protokol

SOLO – Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta Sugeng Riyanto mengingatkan para pejabat untuk memberi contoh masyarakat terkait pencegahan penyebaran Covid-19. Sebab, dia melihat masih ada pejabat yang tetap berkegiatan di luar setelah ditetapkan sebagai kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif korona. 

Perilaku para pejabat itu dinilai menjadi contoh buruk bagi masyarakat. "Sebagai tokoh, mereka berinteraksi dengan banyak orang di berbagai kegiatan. Artinya, peluang penularan makin luas,” ujarnya, Sabtu (8/8).

Menurut Sugeng, seharusnya pejabat patuh menjalani karantina mandiri sesuai peraturan pemerintah. Setidaknya sampai hasil tes swab dipastikan negatif Covid-19. Apalagi saat ini masyarakat mulai terbiasa beraktivitas secara virtual tanpa harus tatap muka.

“Yang bisa dilakukan dengan online, ya online saja, sehingga acara apapun tetap bisa berjalan dan risiko penularan bisa ditekan semaksimal mungkin. Kalaupun harus karantina mandiri, toh tidak terlalu lama. Paling banter dua minggu,” katanya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menganggap sosialisasi terkait aturan karantina mandiri kepada warga yang kontak erat dengan pasien Covid-19 belum dilaksanakan dengan baik. Sugeng merasa mendapat pengarahan yang cukup setelah pengambilan sampel swab di Rumah Sakit (RS) Bung Karno akhir Juli lalu.

“Cuma dibilang besok ambil swab lagi. Tidak ada pengarahan soal karantina. Mungkin dianggap sudah tahu. Tapi menurut saya tetap harus ada penekanan agar setelah di-swab harus karantina,” katanya.

Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 RS UNS Solo Tonang Dwi Ardyanto mengakui adanya berbagai kendala di lab uji PCR di Indonesia. Mulai dari antrean sampel yang terlalu panjang, minimnya sediaan reagen, dan kendala teknis lainnya. Akibatnya, uji PCR yang normalnya hanya membutuhkan waktu 2-3 hari, bisa molor hingga lebih dari sepekan.

“Diperlukan kesadaran bahwa kalau saya diambil swab lalu tidak karantina mandiri, maka tanggung jawab sosial saya dipertanyakan,” terangnya.

Karantina mandiri usai pengambilan sampel swab, lanjut Tonang, diperlukan untuk menekan potensi penularan lebih luas. Setiap warga yang diambil sampel swab setelah kontak erat dengan pasien positif Covid-19 harus memikirkan kemungkinan hasil positif maupun negatif.

“Kalau hasilnya negatif ya Alhamdulillah berarti sesuai harapan kita. Tapi kalau positif, berarti saya sudah menghidarkan orang lain dari tertular Covid-19,” ungkap dia. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia