alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Apa Kabar Kusrin, Lulusan SD yang Rakit Televisi

Pernah Bikin LED, tapi Pemasaran Seret

13 September 2020, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

BIKIN BANGGA: Kusrin menggotong televisi tabung hasil produksinya di Wonosari, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar.

BIKIN BANGGA: Kusrin menggotong televisi tabung hasil produksinya di Wonosari, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Lima tahun lalu, Muhammad Kusrin membuat heboh tanah air. Usaha perakitan televisi milik lulusan sekolah dasar (SD) ini digerebek polisi karena dituding melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, UU Perdagangan, dan UU Perlindungan Negara. 

Divonis  enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun dan denda Rp 2,5 juta. Televisi rakitan Kusrin disita lalu dimusnahkan dengan cara dibakar. Fenomena tersebut menyedot perhatian publik, hingga Presiden Joko Widodo.

Memang tidak ada jalan mudah meraih sukses. Warga RT 02 RW 03 Wonosari, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar itu akhirnya mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) atas produk televisi rakitannya.

“Waktu itu barang baku dan alat produksi sebanyak tujuh truk disita. Kalau ditaksir Rp 700 juta. 75 persen barang yang disita dikembalikan, 25 persen sisanya dimusnahkan (dibakar),” ungkapnya.

Kisah pilu itu tinggal kenangan. Setelah mengantongi SNI, Kusrin fokus dengan produknya yang diberi merek Maxreen, Veloz dan Zener. Pasarnya tembus nasional. Manajemen produksi lebih tertata.

“Tapi kalau soal penjualan memang lebih banyak zaman dulu,” ujarnya. Lho kenapa? saat belum ber- SNI, Kusrin bisa menekan harga jual televisi rakitannya. Ditambah datang gelombang pandemi.

Awal merakit, Kusrin menjual televisi tabung sekitar Rp 325 ribu. Saat ini menjadi Rp 490 ribu untuk ukuran 14 inci, Rp 550 ribu ukuran 17 inci, dan Rp 950 ribu ukuran 21 inci.

Sebelum pandemi, dalam sehari, Kusrin dapat memproduksi 100 unit televisi. Sekarang hanya separonya.

Di lain sisi, manajemen pekerja yang merakit televisi diubah. Dari satu pekerja merampungkan satu televisi, menjadi satu pekerja hanya fokus di bagian tertentu.   

“Untuk merakit (televisi) tanpa kesalahan itu butuh tujuh sampai delapan bulan latihan. Umumnya saat mereka sudah bisa, malah keluar,” terangnya. 

Komponen televisi diimpor Kusrin dari Tiongkok. Sisanya, seperti monitor memanfaatkan barang bekas.

Usaha perakitan televisi di bawah bendera UD Haris Elektronika ini membawa visi menyediakan televisi murah berkualitas bagi masyarakat.

Kenapa tidak merakit televisi LED? Kusrin mengaku pernah mencobanya. Tetapi pemasarannya seret. Selain itu, dinilai kurang awet dan sulit diperbaiki dibandingkan televisi tabung. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news