alexametrics
Kamis, 24 Sep 2020
radarsolo
Home > Jateng
icon featured
Jateng

Sepekan, 25 Ribu Orang Terjaring Operasi Protokol Kesehatan di Jateng

15 September 2020, 08: 22: 53 WIB | editor : Perdana

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Share this      

SEMARANG – Penegakan hukum terkait protokol kesehatan di Jawa Tengah sudah dilakukan selama sepekan.  Gubernur Ganjar Pranowo kemarin melakukan evaluasi. Seluruh kepala satpol PP se Jateng dihadirkan melalui rapat virtual. 

Dalam rapat itu, Ganjar mendapat laporan bahwa pelaksanaan penegakan hukum sudah dilaksanakan serentak di Jawa Tengah sejak awal September lalu. Sampai saat ini, tercatat ada 25.669 orang yang terjaring operasi protokol kesehatan itu.

“Mereka dihukum dengan ketentuan masing-masing daerah. Ada yang diminta kerja sosial dengan membersihkan lingkungan, penyitaan KTP, dan hukuman lain,” kata Kepala Satpol PP Provinsi Jateng Budiyanto.

Budiyanto menerangkan, operasi penegakan hukum akan terus dilakukan. Bahkan, pihaknya sedang menyusun rencana untuk pelaksanaan operasi serentak kembali dilakukan pada Oktober. “Ada 175 operasi yang kami rencanakan secara serentak di bulan Oktober nanti. Tiap-tiap daerah, minimal ada lima titik operasi,” jelasnya.

Dari evaluasi pelaksanaan operasi penegakan hukum selama ini, Budiyanto menerangkan, masih banyak masyarakat yang ngeyel. Selain itu, pemenuhan sarana prasarana bagi petugas satpol PP juga harus dipenuhi.

Hal senada disampaikan Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto. Kepada Ganjar, Fajar mengeluhkan terkait hukuman protokol kesehatan yang kurang memberikan efek jera. “Ada warga yang dihukum menyapu jalan atau push up. Mereka malah senyum dan selfie ria. Ada yang nekat minta difotokan petugas satpol PP. Jadi, menurut kami, hukuman ini harus benar-benar yang memberikan efek jera,” ucap Fajar.

Sementara itu, Ganjar mengatakan, evaluasi penegakan hukum di Jateng memang perlu dilakukan. Untuk itu, dia sengaja mengumpulkan seluruh satpol PP di Jateng untuk menggelar rapat terkait ini.

“Saya minta seluruh satpol PP se Jateng secara intens tetap melakukan penegakan hukum. Sambil kita evaluasi, apa saja yang kurang saat mereka melakukan penegakan hukum, apakah sarana prasarana, kelengkapan APD, dan lainnya. Intinya, semuanya harus dilengkapi, jangan sampai membahayakan satpol PP dalam bertugas,” katanya.

Satpol PP se Jateng, lanjut Ganjar, diminta membuat jadwal penanganan dan melihat momentum atau event yang terjadi sampai akhir tahun. Misalnya, akan ada berapa banyak hari besar agama, ada berapa event yang akan digelar, dan ada berapa tren yang meningkat dalam masyarakat. Semuanya harus terdata dan dilakukan antisipasi-antisipasi.

“Saya contohkan, akhir-akhir ini marak lomba lari liar di Jalan Pahlawan Semarang. Ternyata ini tren nasional. Saya lihat di daerah lain misalnya Bekasi juga sama. Jadi ini harus dilakukan pencegahan,” ucapnya.

Patroli rutin, lanjut Ganjar harus dilakukan untuk mencegah adanya pelanggaran-pelanggaran protokol kesehatan. Patroli warung, restoran, tempat pariwisata, kantor, sekolah harus terus dilakukan. “Saya minta semua dinas melakukan review terkait ini. Warung Bu Fat di Semarang jadi klaster, artinya ada potensi warung lain juga terjadi seperti itu. Maka harus diantisipasi, dilakukan tindakan di destinasi wisata, kuliner, pasar, perkantoran, sekolah, dan lainnya. Saya minta semuanya di-review dengan ketat,” tegasnya.

Terkait hukuman pada pelanggar disiplin, Ganjar mengatakan, masukan dari satpol PP dalam evaluasi ini akan menjadi catatan. “Karena ini sudah berjalan, jadi kami evaluasi. Apakah ada efek jeranya atau tidak. Biro Hukum saya minta evaluasi, mengajak ahli pidana untuk membahas itu. Kami berharap, hukuman nantinya bisa dilaksanakan dengan baik dan benar-benar memberikan efek jera," ujarnya. (bay/bun/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia