alexametrics
Kamis, 24 Sep 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

4 Mahasiswa Ciptakan Alat Bantu Dengar & Belajar Bicara Orang Tuli

Harga Alat Lebih Murah dari Implan Koklea

15 September 2020, 23: 56: 49 WIB | editor : Perdana

Dari kiri, Ahmad Baktiar, Rizqi Misbakhus, Andayani Yuwana, dan Henry Probo.

Dari kiri, Ahmad Baktiar, Rizqi Misbakhus, Andayani Yuwana, dan Henry Probo. (ISTIMEWA)

Share this      

Terinspirasi dari kafe tuli, empat mahasiswa ini berhasil membuat alat bantu dengar. Harganya diklaim lebih murah dari pada implan koklea. Bagaimana ceritanya?

RAGIL LISTIYO, Solo, Radar Solo

DESAIN alat bantu dengar berbentuk handband diperlihatkan Andayani Yuwana Sari, mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS). Dia merancang alat pendengaran dan belajar bicara bagi orang tuli. Alat ini dibuat bersama ketiga temannya, yakni, Henry Probo Santoso asal fakultas teknik, Rizqi Misbkahus Suroya dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, dan Ahmad Baktiar Kris Aziz asal sekolah vokasi kampus yang sama.  

Alat bantu dengar hasil karya tim mahasiswa UNS.

Alat bantu dengar hasil karya tim mahasiswa UNS. (ISTIMEWA)

“Awalnya saya melihat orang-orang tuli itu kesulitan berkomunikasi. Karena mereka sama sekali tidak bisa mendengar. Karena alat bantu dengar saat ini juga belum efektif. Dan salah satu caranya harus implan koklea yang harganya mahal,” ungkap Andayani pada Jawa Pos Radar Solo.

Keterbatasan tersebut tak ayal mengganggu aktivitas penyandang tuli. Bahkan, kesulitan komunikasi juga berimbas pada sulitnya bekerja. Terinspirasi dari berita yang dibacanya tentang kafe tuli, Andayani ingin merancang alat dengan harga terjangkau agar kawan-kawan tuli bisa mendengar dan mendapat pekerjaan. Andayani lantas menggandeng ketiga temannya untuk pengembangan alat tersebut.

“Alat bantu dengar bagi teman tuli sebenarnya sudah banyak. Namun, tidak bisa ditampik jika teman tuli tidak begitu menyukainya. Karena saat digunakan alat bantu dengar tersebut menimbulkan distorsi, membuat telinga sakit, telinga terasa berdengung, serta bising ketika mendengar banyak suara," katanya. 

Di tempat lain, tim dari Swinburne University, Melbourne sebenarnya juga tengah mengembangkan aplikasi GetTalking. Alat tersebut dirancang untuk bayi yang lahir tuli dan menerima implan koklea. Anak yang lahir tuli akan menerima implan aplikasi untuk membantu kesulitan dalam menghubungkan suara yang didengar dengan suara yang keluar dari mulutnya.

Aplikasi tersebut nantinya akan dikembangkan dalam alat bantu dengar yang dirancang. Namun, aplikasi tersebut masih membutuhkan waktu yang lama. Sebab keterbatasan kata dan kalimat dalam aplikasi tersebut harus menyesuaikan dengan perkembangan kemampuan bicara bayi.

"Alat yang kami rancang bentuknya headband. Dan tersusun dari deretan modul getar dan akan disambungkan ke Google Assistant pada Android smartphone. Setiap suara yang diterima oleh Google Assistant akan dikirimkan ke alat dan diubah menjadi pola getaran,” terang Andayani.

Pola getaran ini akan dimaknai teman tuli sebagai pengalaman untuk mengenali suara. Teman tuli bisa belajar mendengar dan bicara berdasar pola getaran yang terbentuk. Alhasil memudahkan dalam berkomunikasi.

Andayani mengatakan, jika alat ini dapat membantu pemerintah Indonesia. Terutama dalam mengatasi permasalahan pengendalian faktor risiko dan penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kesehatan pada masyarakat. 

“Rancangan produk ini seharga Rp 2,5 juta. Namun, jika diproduksi untuk komersial harganya bisa ditekan. Selain itu, ini lebih murah dari pada implan koklea. Semoga dengan alat bantu dengar ini, nantinya bisa membantu teman tuli dalam berkomunikasi. Dan mereka bisa mandiri dan bekerja seperti orang normal lainnya,” imbuhnya. Melalui alat ini, dia ikut mendukung program pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Ramah Difabel. (*/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia