alexametrics
Sabtu, 24 Oct 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Syekh Ali Jaber dan Akhlakul Karimah

17 September 2020, 22: 02: 33 WIB | editor : Perdana

Syekh Ali Jaber dan Akhlakul Karimah

Oleh:  H. Priyono, Wakil Dekan I Fakultas Geografi UMS

KASUS penusukan Ali Saleh Mohammed Ali Jaber yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber saat menjadi pembicara pada wisuda tahfidz Alquran di Masjid Falahudin Lampung, Minggu lalu (13/9) masih menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Islam. Sang pelaku Alfin Adrian, 24, disebut memiliki gangguan jiwa. 

Namun, banyak kalangan meragukan ini. Bahkan mereka geram dan tidak terima atas kejadian ini. Sebab, penusukan terhadap ulama sudah terjadi berkali-kali dan pelaku kebanyakan dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan. Kepolisian dituntut agar mengusut kasus ini secara tuntas sampai kepada aktor di belakang kejadian ini.   

Syekh Ali Jabeer sendiri tampak tenang menghadapi kejadian ini. Meski mendapatkan serangan yang hampir merenggut nyawanya, Syekh Ali Jaber justru menyatakan bersyukur. Sebab, saat itu dia memakai jubah hitam sehingga darah yang bercucuran tidak begitu terlihat jelas. 

“Untung saya pakai jubah hitam. Belasan tahun saya sudah lama nggak pakai jubah hitam, selalu putih. Kalau warna putih bisa stres jamaah yang rata-rata anak-anak itu karena hitam saja baju sudah basah (darah) semua,” katanya. 

Bahkan sesaat setelah kejadian, dalam video penyerangan yang viral di medsos itu tampak Syekh Ali Jaber-lah yang melerai supaya jamaah tidak main hakim sendiri kepada pelaku. Beliau mengatakan bahwa pemuda yang menusuknya itu bukan sampah dan tidak sepatutnya dipukuli seperti itu. 

“Dia memang salah, tapi bukan begitu caranya. Dia tetap manusia, mohon diamankan sampai polisi datang. Bahkan waktu diamankan ada jamaah yang kesal, mau ditarik kakinya. Saya cegah dan bilang eh ini manusia bukan sampah,” demikian ucap Syekh Ali Jabir.

Reaksi tindakan dan ucapan Syekh Ali Jaber ini merupakan suri tauladan tentang akhlakul karimah yang nyata. Meski ditikam hingga mendapat 10 jahitan di tangan kanannya, beliau tetap berusaha memperlakukan pelaku kejahatan itu dengan adil. 

Di akhir zaman seperti saat ini, dimana akhlak mazmumah atau tercela merajalela di mana-mana. Perilaku akhlakul karimah yang ditunjukkan Syekh Ali Jaber ini ibarat hujan di musim kemarau, yang menjadi penyejuk bagi masyarakat kita saat ini. 

Akhlakul karimah merupakan indikator kesempurnaan keimanan dan keislaman seorang muslim. Antara akhlak dengan keimanan atau akidah terdapat hubungan yang sangat erat. Akhlak yang baik merupakan bukti dari keimanan, sebaliknya akhlak yang buruk sebagai bukti lemahnya iman. 

Semakin sempurna akhlak seorang muslim berarti semakin kuat imannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya” (HR Tirmidzi).

Dalam kehidupan kita, selalu akan ada masalah, konflik, dan beda pendapat. Karena itu, Islam membawa ajaran yang mewajibkan seluruh pengikutnya memiliki akhlakul karimah. Mengutamakan kasih sayang dari pada garang, bersimpati dari pada membenci sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. 

Islam lebih menekankan terciptanya masyarakat yang ideal, yakni masyarakat yang akhlakul karimah sehingga tercipta keadilan, kedamaian dan masyarakat yang religius. Lebih-lebih bagi masyarakat Indonesia yang sangat plural, akhlakul karimah penting ditunjukkan dalam berdakwah.

Nabi Muhammad pun pernah menegaskan bahwa beliau diutus selain mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah SWT, juga memperbaiki akhlak manusia. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Bukhari).

Bahkan akhlak dalam pandangan ajaran Islam, bisa lebih utama dari ibadah ritual. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa pernah ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, bahwa si Fulan salatnya dan puasanya baik, tetapi dia sering mengganggu dan menyakiti hati tetangganya. Lalu Rasulullah  menjawab, “Dia di api neraka.”

Hadis di atas sama sekali bukan merupakan ajakan untuk mengecilkan pelaksanaan ibadah-ibadah ritual seperti salat, puasa dan lainnya. Namun, seseorang dapat mencapai kedudukan tinggi melebihi kedudukan orang yang banyak salat dan puasa adalah karena akhlakul karimahnya atau budi pekertinya yang luhur. Maka mari sempurnakan akhlak kita seiring dengan peningkatan ibadah kita. Karena akhlak merupakan buah ibadah. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP