alexametrics
Kamis, 22 Oct 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Peluang dan Tantangan UMKM di Tengah Tekanan Pandemi Covid-19

17 September 2020, 22: 04: 42 WIB | editor : Perdana

Peluang dan Tantangan UMKM di Tengah Tekanan Pandemi Covid-19

Oleh: Suyatmin Waskito Adi, Kabag ACEC- UMS, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Ketua Koperasi KSU Mandiri Sukses UMS

UPAYA mengatasi penyebaran virus korona (Covid-19) gencar dilakukan pemerintah. Mulai dari penerapan physical distancing dan ditingkatkan menjadi PSBB (pembatasan sosial berskala besar). 

Menurut  Peraturan Menteri Kesehatan No. 9/2020 tentang Pedoman PSBB dalam rangka Percepatan Penanganan Covid-19, PSBB meliputi pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19. Termasuk pembatasan terhadap pergerakan orang dan/atau barang untuk satu provinsi atau kabupaten/kota tertentu. Agar penyebaran Covid-19 bisa dicegah. 

Pandemi Covid-19 memukul berbagai sektor bisnis di dalam negeri. Tidak hanya bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) saja. Tetapi juga bisnis dengan skala besar. Dalam situasi pandemi ini, menurut Kementrian Koperasi dan UKM, ada 37.000 UMKM yang terdampak sangat serius. Dari jumlah itu, 56 persen mengalami penurunan penjualan, 22 persen bermasalah pada aspek pembiayaan, 15 persen terkndala distribusi barang, dan 4 persen kesulitan mendapatkan bahan baku mentah. 

Masalah tersebut semakin meluas jika dikaitkan dengan kebijakan PSBB di beberapa wilayah di Indonesia. Imbasnya, hampir semua pelaku bisnis terpukul akibat banyaknya orang yang tetap stay di rumah. Bahkan, tak kurang dari 1,6 juta pekerja dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).  Mengingat lemahnya likuiditas keuangan perusahaan, ditambah beratnya beban biaya tenaga kerja. 

UMKM merupakan ujung tombak perekonomian nasional dan berperan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Di 2019, UMKM berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB). Menyumbang 60 persen PDB dan berkontribusi 14 persen pada total ekspor nasional. 

Kini, UMKM jadi salah satu sektor yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Padahal serapan tenaga kerja oleh UMKM sangat tinggi. Terus bertumbuh mencapai 96,99-97,22 persen dengan jumlah pelaku UMKM mencapai 62 juta atau sekitar 98 persen dari pelaku usaha nasional. Bahkan, pemerintah sejak awal pandemi menempatkan UMKM sebagai prioritas penerima manfaat dalam pemulihan ekonomi nasional.

Sektor bisnis mempunyai kemampuan untuk mencari solusi melalui teknologi, inovasi, dan investasi. Serta mengatasi dampak negatif pada lingkungan dan sosial melalui rantai nilai dan rantai pasok operasi bisnis mereka. Sektor bisnis hingga kini juga telah mengambil bagian untuk mengembangkan UMKM. Sehingga upaya kolektif berbagai sektor sangat dibutuhkan untuk mendukung kebangkitan UMKM yang sangat terpukul oleh dampak pandemi Covid-19. 

Pandemi Covid-19 memberi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah untuk menjaga eksistensi UMKM. Dibutuhkan solusi jangka pendek untuk membantu UMKM dan pekerja yang tergabung di dalamnya. Termasuk solusi jangka panjang, jika dikaitkan dengan era industri 4.0 yang mensyaratkan ketersediaan teknologi digital untuk mendukung aktivitas ekonomi. 

Menurut OECD, beberapa solusi perlu dilakukan untuk menjaga eksistensi UMKM. Yakni protokol kesehatan ketat, penundaan pembayaran hutang atau kredit, bantuan keuangan, dan kebijakan struktural. 

Sementara strategi jangka panjang fokus pada pengenalan dan penggunaan teknologi digital bagi UMKM. Sekaligus persiapan memasuki era Industri 4.0. Pertama, tidak perlu panik dan terus waspada untuk menjaga kesehatan dan keamanan diri, karyawan, dan pelanggan. Kedua, think positive dan percaya bahwa dalam setiap krisis pasti ada opportunity yang bisa diambil. 

Ketiga, berkaitan dengan strategi adaptasi dan sesuai model bisnis dengan kondisi saat ini. Keempat, membuat rencana keuangan tiga bulanan (kuartal). Kelima, sebagai pelaku bisnis, kita juga harus aware dan memahami berbagai program yang ditawarkan pemerintah agar dapat dimanfaatkan dengan tepat guna. Strategi jangka pendek dan panjang ini harus disiapkan, sembari berharap vaksin Covid-19 segera ditemukan dan diproduksi masal. (*)sep

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya