alexametrics
Sabtu, 24 Oct 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Rekonstruksi Kasus Kekerasan di Doa Pernikahan Mertodanan, Kejar 5 DPO

18 September 2020, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Rekonstruksi kasus penganiayaan disertai kekerasan di Mertodanan, Pasar Kliwon, digelar kemarin.

Rekonstruksi kasus penganiayaan disertai kekerasan di Mertodanan, Pasar Kliwon, digelar kemarin. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Rekonstruksi kasus penganiayaan disertai kekerasan saat acara midodareni atau doa pernikahan di Kampung Mertodanan, Pasar Kliwon, digelar kemarin. Dalam kasus ini, delapan orang ditetapkan sebagai tersangka dan lima orang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Reka ulang ini dimulai saat tiga orang yang diduga sebagai otak aksi berkumpul di sebuah rumah ibadah. Mereka menginformasikan kalau di lokasi sedang ada acara yang mereka anggap menyimpang dari ajaran agama. Kemudian salah seorang saksi berinisial R mengendarai sepeda motor melintas di jalan depan rumah korban.

Saksi sempat bertanya pada ketua RT setempat soal acara tersebut. Karena ketua RT tidak tahu, R dan ketua RT mendatangi kediaman korban. Namun, belum sampai ke lokasi, R pamit untuk kembali.

Ternyata pelaku R pergi untuk memberi kabar kepada teman-temannya lewat grup WhatsApp kalau di rumah korban ada kegiatan menyimpang. Rekan-rekan R langsung terpancing info itu dan mendatangi lokasi yang diinfokan oleh R.

Kelompok pelaku memaksa masuk ke rumah korban untuk membubarkan paksa acara. Namun, hal ini berhasil dihalau oleh aparat kepolisian. Kapolresta Surakarta yang saat itu masih dijabat Kombes Pol Andy Rifai (diperankan peran pengganti, Red), terlihat mencoba meminta massa membubarkan diri. Namun, massa tak mau pergi sebelum acara di dalam rumah korban dihentikan.

Tak selang berapa lama, satu per satu kendaraan dari area rumah korban keluar. Saat mobil kedua berjalan, salah seorang pelaku menendang bagian pintu depan sebelah kiri. Ada pula pelaku lain yang menendang bagian mobil lain. 

Hal serupa juga terlihat pada mobil ketiga saat keluar. Salah satu pelaku melempar batu ke arah mobil dan mengenai korban yang duduk di bangku penumpang.

Kondisi paling parah saat tiga orang yang mengendarai dua unit sepeda motor yang tidak lain adalah UA beserta anaknya HU, 15, serta HA, 57. Mereka menjadi sasaran amuk massa sehingga jatuh tergeletak di tengah jalan. Mereka sempat dievakuasi ke rumah sakit oleh aparat kepolisian di lokasi.

Setelah kejadian tersebut polisi memukul mundur massa. Dua mobil tersisa berhasil dievakuasi dan massa membubarkan diri dari lokasi.

Kasat Reskrim Polresta Surakarta AKP Purbo Adjar Waskito mengatakan, rekonstruksi ini akan disertakan dalam berkas tersangka. “Berkas rekonstruksi ini juga akan kami serahkan ke kejaksaan agar diteliti lebih lanjut. Ada 77 adegan dalam rekonstruksi tadi," kata Purbo.

Disinggung perkembangan kasus, ada lima orang yang saat ini menjadi DPO. Namun, dia enggan menjelaskan secara rinci terkait inisial serta peran mereka. “Nanti dari lima ini kemungkinan bisa berkembang lagi DPO lain,” ujar Purbo.

Sementara itu, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta Cahyo Madriastanto mengatakan, rekonstruksi ini bisa menjadi bahan penelitian dari jaksa. “Apalagi kejadian ini malam ya, sehingga dengan ini bisa jelas menggambarkan situasi yang sebenarnya,” kata Cahyo.

Jaksa penuntut umum (JPU) akan dibentuk setelah berkas dinyatakan lengkap. Sementara untuk lokasi sidang akan dipertimbangkan apakah tetap di PN Surakarta atau lokasi lain.

Di lokasi yang sama, kuasa hukum para tersangka, Moch Aminnudin mengatakan, hasil rekonstruksi ini juga akan menjadi pertimbangan di pengadilan. “Apalagi tadi ada tersangka yang merasa tidak melakukan perbuatan ini, nanti kita buktikan saja di pengadilan,” ujarnya. (atn/bun/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP