alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarsolo
Home > Nasional
icon featured
Nasional

Temui Kang Emil, Keluarga Inggit Serahkan Dokumen Penting ke Negara

29 September 2020, 18: 09: 55 WIB | editor : Perdana

Gubernur Jabar Ridwan Kamil bersama keluarga besar Inggit Ganarsih.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil bersama keluarga besar Inggit Ganarsih.

Share this      

BANDUNG - Lewat akun Instagram @ridwankamil, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengabarkan kedatangan keluarga besar Inggit Garnasih, Senin (28/9). Kedatangan anak dan cucu Inggit Ganarsih tersebut untuk menyerahkan dokumen penting bersejarah, yakni surat nikah dan akta cerai Soekarno-Inggit kepada negara.

“Ternyata cucu ibu Inggit ada tujuh. Dari dua anak angkat,” kata Ridwan Kamil saat menerima kedatangan rombongan tamunya.

Ya, mayoritas keluarga besar dari Inggit Ganarsih telah membuat kesepakatan untuk menyerahkan dokumen penting bersejarah, surat nikah dan akta cerai Soekarno-Inggit kepada negara.

“Tidak untuk dijual kepada kolektor pribadi,” ujar gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu. 

Bahwa negara nanti akan mengganti biayanya, keluarga besar menyerahkan kepada aturan dan regulasi yang berlaku. Tentu, sebagaimana yang diharapkan masyarakat Indonesia, Kang Emil merespons positif maksud baik keluarga ibu Inggit tersebut.

”Insya Allah jika semua rencana berjalan baik, kami akan proses secara prosedural. Dan, menurut hemat kami, dokumen bersejarah tersebut akan lebih afdal jika disimpan di Gedung Arsip Nasional, bukan di lingkungan Pemprov Jawa Barat,” papar dia.

Pertemuan keluarga besar Inggit Garnasih dan Kang Emil menunjukkan ikatan mendalam sesama warga Jawa Barat. Pada kesempatan tersebut, Kang Emil tidak sebatas memosisikan diri sebagai seorang pemimpin.

Lebih dari itu, dia berperan aktif menjadi anak bangsa yang wajib menjaga risalah penting milik bapak bangsanya, Ir Soekarno.  Sehingga dokumen berharga itu tetap bisa diakses melalui lembaga resmi negara, yakni Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Di sisi lain, antara Ir Soekarno, Bandung dengan Kang Emil sendiri ada ikatan emosianal yang tak bisa diabaikan. Di Bandung, sang Proklamator menyelesaikan pendidikan tinggi. Dalam semangat pergerakan nasional melawan penjajah.

Di sana pula, si Bung Besar merasakan lantai dingin penjara Banceuy (1929) dan penjara Sukamiskin (9 Desember 1930 - 31 Desember 1931), karena lantangnya menyerukan perlawanan terhadap rezim kolonial Belanda.  

Pun, cinta putra Sang Fajar bersemi di Kota Kembang. Ia mempersunting perempuan Sunda, Inggit Garnasih pada 1923. Kemudian bercerai pada 1942, sebelum menikahi Fatmawati. 

Peristiwa-peristiwa tersebut terbingkai apik dalam sejarah bangsa ini. Sudah 90 tahun lamanya. Bila mengacu pada masa Soekarno menjalani hukuman penjara.

Sementara generasi belakangan, lewat representasi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil terus berkomitmen menjaga bingkai sejarah terkait Bandung dan sang Prokalamator agar tetap terawat, tak lusuh digerogoti “rayap zaman”. 

Pada 2015, Kang Emil meresmikan nama Jalan Dr Ir Sukarno. Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Sebagai wali kota Bandung, dia ingin mengabadikan nama presiden RI pertama, menggantikan nama Jalan Cikapundung Timur. Di sebelah Gedung Merdeka.

Tidak sampai di situ. Kepekaan Kang Emil atas pentingnya sejarah Bandung dan Bung Karno, juga diwujudkan lewat revitalisasi monumen Penjara Banceuy pada 2015. Memeriahkan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). 

Apresiasi Kang Emil terhadap sosok bapak bangsa juga tampak dalam garapan Monument de Soekarno. Kang Emil mendapat kepercayaan mendesain monumen-taman di lokasi strategis tengah kota ibu kota Aljazair, Alger. Sedangkan pembuatan patung dada Bung Karno oleh pematung, Dolosora Sinaga.

Peresmian Monument de Soekarno dilakukan pemerintah Aljazair, Juli 2020. Monumen tersebut menandakan hubungan persahabatan kedua negara yang sangat erat. Kang Emil menggabungkan sisi ketokohan Bung Karno dan ke-Aljazair-an sekaligus, dalam desainnya yang begitu apik. 

Maka terciptalah taman berbentuk bulan sabit dengan patung Bung Karno di tengahnya, sedang menunjukkan jari ke atas. “Seolah sedang berteriak, ‘Wahai negara Asia-Afrika, kita lawan kolonialisme!’” kata Kang Emil.  (*/yun/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya