alexametrics
Kamis, 29 Oct 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Perusakan Ketipung oleh Polisi di Gantiwarno Hoax, Ini Faktanya

05 Oktober 2020, 23: 02: 43 WIB | editor : Perdana

Unggahan di Facebook mengenai perusakan alat musik ketipung oleh polisi dipastikan hoax.

Unggahan di Facebook mengenai perusakan alat musik ketipung oleh polisi dipastikan hoax. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Polres Klaten menegaskan, informasi di media sosial Facebook yang menyebutkan adanya perusakan alat musik ketipung saat pembubaran pertunjukan musik di Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno oleh anggota polisi pada Minggu (4/10), adalah tidak benar. Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu telah melakukan klarifikasi kepada petugas piket Polsek Gantiwarno, pemilik alat musik ketipung yakni Eka, dan Hendra, pemilik akun Facebook yang mengunggah informasi soal perusakan alat musik ke media sosial.

Dalam klarifikasi juga dihadiri perwakilan Paguyuban Seniman Kabupaten Klaten (Sekaten) di Mapolsek Gantiwarno. Pemilik ketipung, Eka mengungkapkan jika alat musiknya rusak akibat dirobeknya sendiri. Tetapi saat pengambilan alat musik yang sempat disita di Mapolsek Gantiwarno, dia tidak melihat kondisinya. Eka baru mengetahui jika alat musik ketipungnya terdapat robekan kecil saat sudah berada di rumahnya.

Mengetahui robekan kecil itu, Eka pun merasa alat musik tersebut tidak bisa digunakan secara maksimal lagi. Dia pun merusak alat musiknya sendiri dengan merobek pada bagian kulit. Saat itu Eka merasa kesal dan foto alat musik yang rusak itu dijadikan status dalam aplikasi WhatsApp (WA).

Sementara itu, Hendra selaku pemilik akun Facebook yang mengunggah informasi tersebut mengaku memang mengambil foto dari status milik Eka. Selanjutnya diunggah di akun Facebook dengan nama Hendra AR. Diakui Hendra, dia tidak melakukan konfirmasi terhadap status milik Eka sehingga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Atas perbuatan itu, Eka dan Hendra kemudian meminta maaf karena sudah menyebarkan informasi tidak benar yang menyudutkan anggota polisi. Mereka menyatakan siap untuk mematuhi protokol kesehatan dan peraturan perundang-undangan lainnya terkait gelaran musik di masa pandemi Covid-19.

“Adanya kegiatan klarifikasi ini sudah clear dan jelas bahwa tidak ada perusakan alat musik ketipung oleh pihak kepolisian. Tetapi hanya kesalahpahaman dari Hendra yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya, namun mengunggah di akun Facebook miliknya,” jelas Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu, Senin (5/10).

Sebagai informasi, pembubaran pertunjukan musik itu sebenarnya terjadi pada Minggu (4/10) pukul 20.30, di Dusun Karanggumuk, Desa Jogoprayan. Berawal dari patroli gabungan Rayon Jogonalan yang menerima informasi jika ada kegiatan orgen tunggal tanpan izin. Bahkan tidak mematuhi protokol pencegahan Covid-19. Sehingga dilakukan upaya pembubaran.

“Petugas juga melakukan upaya lainnya dengan mengamankan alat musik berupa organ dan ketipung. Termasuk memanggil penyelenggara dan pemilik alat orkes dengan membuat surat pernyataan untuk tidak lagi mengadakan acara hiburan tanpa izin. Kemudian,pada malam itu juga polsek menyerahkan alat musik kepada pemilik,” jelas Edy.

Tetapi masalah berlanjut karena rekan pemilik ketipung, yakni Hendra mengunggah informasi di media sosial Facebook disertai gambar dan narasi. Intinya, alat musik tersebut disita dan dirusak polisi sehingga perlu dilakukan klarifikasi bersama. Namun ternyata informasi di media sosial Facebook yang menyebutkan adanya perusakan alat musik ketipung oleh polisi saat pembubaran dipastikan tidak benar. (ren/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP