alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Jelang Uji Coba Tatap Muka SMP, Siswa: Waswas,tapi Tetap Pilih Sekolah

14 Oktober 2020, 09: 34: 05 WIB | editor : Perdana

Siswa SMPN 4 Surakarta mengikuti simulasi teknis protokol kesehatan sekolah jelang pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka.

Siswa SMPN 4 Surakarta mengikuti simulasi teknis protokol kesehatan sekolah jelang pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) bakal digelar di dua SMP dan satu MTsN di Kota Solo. Mereka sudah mulai mempersiapkan diri. Meski sejumlah siswa mengaku waswas, namun mereka lebih memilih belajar di sekolah daripada dalam jaringan (daring).  

Kemarin, sebanyak 16 perwakilan siswa kelas IX SMPN 4 Surakarta bersama wali murid melakukan simulasi teknis protokol kesehatan (prokes) sekolah. Sekaligus pembuatan video tutorial simulasi PTM. Mulai dari proses pengantaran hingga penjemputan. 

Salah satu peserta simulasi kelas IX SMPN 4 Surakarta Navisa Mitzy Alexandra, mengatakan, ada perasaan khawatir saat mengikuti simulasi. Meski dipastikan orang tua akan mengantar dan menjemput ke sekolah dan selama belajar meminimalisasi kontak antarsiswa dan guru, kemungkinan terpapar tetap ada. 

“Ini kali ketiga saya ke sekolah. Sebelumnya ada kegiatan OSIS dan mengerjakan tugas. Perasaan waswas tentu ada. Namun, saya senang bisa PTM. Karena di rumah belum tentu paham materi. Kalau mau bertanya pada guru, takut dia lagi sibuk,” ungkap siswi asal Jagalan, Jebres, Solo ini. 

Selama PTM, Navisa diwajibkan mengenakan masker dan faceshield. Mengaku agak merasa pengap, namun Navisa menilai tidak masalah. Karena untuk melindungi diri agar tidak tertular Covid-19. Selain itu, pembelajaran akan berlangsung selama 120 menit. Untuk tiga mata pelajaran (mapel) dengan masing-masing berdurasi 40 menit. Selain itu, dipastikan selama PTM tidak ada jam istirahat.

“Saya juga mulai mempersiapkan diri. Terutama mental dan imun tubuh. Termasuk membawa handsanitizer, sapu tangan, sarapan tiap pagi, membawa bekal, dan menyiapkan alat tulis sendiri. Biar nggak meminjam teman. Karena dulu sering pinjam dan meminjamkan. Juga rutin minum vitamin,” imbuhnya. 

Navisa mengaku, PTM kali ini akan meminimalkan kontak dengan siswa. Ada nilai positif yang bisa diambil. Karena mereka sudah kelas IX, sehingga bisa memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan materi ujian nasional (UN) maupun ujian sekolah (US) untuk kelulusan. 

Hal serupa juga dirasakan Mohamad Excel. Dia mengaku selalu mengenakan masker dan faceshield ke sekolah untuk meminimalkan paparan virus. “Saya selalu diantar orang tua. Tadi begitu turun motor langsung dicek thermogun, mencuci tangan, masuk bilik semprot disinfektan baru ke kelas. Dan tempat duduk dibuat berjarak,” katanya.

Meski sudah diatur, namun belum tentu aman dari paparan corona. Karena memang belum tahu orang yang interaksi itu sudah kontak dengan siapa saja. Excel tentu tetap merasa waswas. “Harus mulai menjaga dari diri sendiri. Dengan menjaga jarak dan menahan diri agar tidak kontak fisik. Meski waswas, mending PTM daripada online malah nggak paham materinya,” katanya. 

Salah satu wali murid kelas IX SMPN 4 Surakarta Triwik Dwi Hastuti mengaku, teknis pelaksanaan dalam pembelajaran sudah baik. Namun, Triwik masih mengkhawatirkan adanya penumpukan penjemputan oleh orang tua. 

“Yang perlu diperhatikan tanggung jawab orang tua yang besar. Begitu mendukung kegiatan ini orang tua harus tepat waktu mengantar dan menjemput siswa. Dan insya Allah saya sendiri siap. Karena saya selalu memjemput anak dan tidak menggunakan jasa ojek online, meski jaraknya cuma 1 kilometer (km),” terang warga Purwodiningratan ini. 

Triwik mengatakan, seluruh prokes yang dijalankan sudah baik. Namun, yang dikhawatirkan saat mekanisme penjemputan. Sebab, proses penjemputan satu anak mencapai 5 menit. Dan berpotensi ada penumpukan penjemputan orang tua. 

Kepala SMPN 4 Surakarta Sri Wuryanti mengatakan, sosialisasi pada orang tua sudah dilakukan secara daring sejak jauh hari. Dan untuk mematangkan simulasi tatap muka ini, sekolah juga membuat simulasi dengan melibatkan orang tua dan siswa. Masukan dari orang tua akan dijadikan pertimbangan untuk pemenuhan prokes yang lebih baik lagi. 

“Dari segi sarpras semua kami siapkan secara rigit dan evaluasi, serta masukan orang tua akan kami akomodasi. Kami libatkan guru untuk mengawasi dan mengarahkan siswa saat simulasi dimulai. Selain itu, kami juga melibatkan paguyuban orang tua dan alumni untuk membantu pendampingan,” terangnya. 

Sementara itu, Kepala MTsN 1 Surakarta Kirno Suwarno mengatakan, Kemenag telah berkoordinasi dengan pemkot. Pelaksanaan PTM menyesuaikan kebijakan pemkot. Dalam simulasi ini, MTsN 1 Surakarta juga mengajak guru untuk melihat prokes yang diterapkan. 

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo Etty Retnowati mengatakan, pihaknya membuat video simulasi sesuai arahan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kota Surakarta. Sebelumnya, disdik mengajukan 23 sekolah untuk simulasi PTM. Namun, wali kota menghendaki agar simulasi dilakukan pada dua SMP. Yakni, SMPN 4 Surakarta dan SMP Al Azhar Syifa Budi, serta MTsN 1 Surakarta. Karena Kemenag bergabung dan menyesuaikan dengan kebijakan Pemkot Surakarta. 

“Karena guru dan karyawan atau petugas di depan harus di-rapid test. Kalau kebanyakan sekolah nanti berat juga. Dan biayanya ditanggung pemkot. Sementara dua SMP dulu dan dua minggu setelahnya sekolah lain bisa menyusul. Video simulasi ini nanti untuk patokan sekolah-sekolah lain,” terangnya. 

Selain itu Etty juga mengarahkan sekolah lain juga membuat video tutorial disesuaikan dengan kondisi sekolah. Secara garis besar alur prokes yang diterapkan sesuai yang dilakukan SMPN 4 Surakarta. Hanya saja, disdik tidak mewajibkan adanya bilik disinfektan. Dia menekankan prokes, mulai dari masker, mencuci tangan, menjaga jarak. 

“Kapasitas ruangan hanya untuk setengah siswa. Jadi hanya sekitar 16 siswa. Teknisnya, sepekan PTM, sepekan daring. Jadi pergantiannya sepekan sekali. Sebenarnya kami ingin PTM akhir Oktober ini, tapi ada cuti bersama. Lalu ada rapid test juga. Kami akan komunikasikan dengan dinas kesehatan dulu,” ungkapnya. 

Dua pekan awal akan dilakukan evaluasi. Begitu berjalan baik, bisa disusul kelas VIII dan VII. Begitu pula untuk SD kelas IV, V, VI, dan disusul SD kelas I, II, III, serta TK/PAUD. Targetnya, Januari 2021 semua sekolah bisa melakukan PTM. Namun, menyesuaikan situasi dan kondisi ke depan. (rgl/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP