alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Gubernur Ganjar Launching Sekolah Virtual, Sasar Anak Putus Sekolah

14 Oktober 2020, 20: 32: 25 WIB | editor : Perdana

Gubernur Ganjar Pranowo me-launching kelas virtual pada SMAN 1 Kemusu, Boyolali dan SMAN 3 Brebes, Selasa (13/10).

Gubernur Ganjar Pranowo me-launching kelas virtual pada SMAN 1 Kemusu, Boyolali dan SMAN 3 Brebes, Selasa (13/10).

Share this      

SEMARANG - Belum semua anak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan karena berbagai kendala. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menginisiasi sekolah virtual. Tahap awal ini diterapkan di SMAN 1 Kemusu, Boyolali dan SMAN 3 Brebes.

Launching sekolah virtual itu dilakukan secara daring oleh Ganjar di ruang kerjanya, kemarin (13/10). Hadir dalam acara itu, sejumlah siswa yang mengikuti sekolah virtual beserta orang tua masing-masing.

Para siswa yang notabene dari kalangan tidak mampu ini merasa sangat bersyukur dengan dibukanya sekolah virtual itu. Mereka yang semula tidak bisa melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi, akhirnya bisa melanjutkan cita-citanya.

“Bersyukur sekali dengan adanya sekolah virtual ini, saya bisa kembali sekolah dan melanjutkan cita-cita. Kemarin tidak mendaftar SMA/SMK karena tidak punya biaya. Bapak hanya petani yang penghasilannya tidak bisa diharapkan,” kata Aprilia Lestari, 15, salah satu siswa kelas virtual di SMAN 1 Kemusu Boyolali.

Hal senada disampaikan Yevi Nurfahmi, 16, siswa sekolah virtual lain asal Brebes. Orang tua yang hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga, membuat harapannya memperoleh pendidikan lebih tinggi pupus.

“Nggak daftar SMA karena faktor ekonomi, orang tua hanya bekerja sebagai ART (asisten rumah tangga). Senang sekali ada sekolah virtual ini, jadi saya bisa kembali sekolah. Saya ingin menjadi seorang penyanyi,” ucapnya.

Sementara itu, Ganjar menerangkan, ide awal pembuatan sekolah virtual ini adalah untuk memberikan semua anak-anak kesempatan belajar. Banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah atau berhenti sekolah karena alasan biaya.

“Maka, kami buat konsep sekolah virtual ini, agar mereka yang tidak sekolah atau berhenti sekolah karena faktor ekonomi, tetap bisa sekolah dengan baik. Akan kami dampingi dan bantu mereka melanjutkan cita-citanya,” ucapnya.

Untuk sementara, rintisan sekolah virtual dibuka di dua tempat, yakni di Boyolali dan Brebes. Masing-masing sekolah diikuti oleh 36 siswa. Sekolah virtual di dua tempat itu diampu oleh sekolah negeri di wilayah terkait. Yakni, SMAN 1 Kemusu, Boyolali dan SMAN 3 Brebes. Sehingga, proses belajar mengajar bisa tetap memenuhi standar pendidikan nasional.

“Sekolah virtual ini diampu oleh SMA/SMK negeri di daerah setempat. Harapannya, anak-anak ini bisa tetap belajar di rumah dengan sistem daring dan sekali-kali bisa tatap muka. Maka, mereka anak-anak yang punya cita-cita bagus akan mendapatkan kesempatan,” jelasnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Padmaningrum mengatakan, setidaknya ada 45 ribu anak di Jawa Tengah yang tidak sekolah atau putus sekolah karena permasalahan biaya. Sekolah virtual ini diharapkan bisa menjadi solusi atas persoalan itu.

“Sekolah virtual ini merupakan solusi agar anak-anak miskin yang tidak sekolah bisa tetap melanjutkan belajarnya dengan baik. Mereka yang ikut sekolah virtual ini semuanya gratis. Kami berikan fasilitas berupa handphone dan juga beasiswa,” jelasnya.

Tahap awal ini Disidkbud Jateng membuka sekolah virtual di dua tempat. Namun, ke depan akan menjangkau daerah-daerah pelosok dan tergolong miskin. Sistem sekolah virtual sama dengan sekolah reguler. Mereka yang menjadi siswa sekolah virtual, juga akan tercatat dalam data dapodik siswa. Mereka akan mendapatkan kurikulum yang sama, serta saat lulus juga mendapatkan ijazah yang diakui.

“Prosesnya sama, lulusan juga berhak mendapat ijazah. Hanya saja, metodenya sedikit berbeda. Mereka banyak sekolah di dunia maya, dan sesekali dilakukan tatap muka,” ujarnya. (rgl/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP