alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Sekolah Virtual Ala Gubernur, Pakar: Solusi Siswa Miskin Putus Sekolah

14 Oktober 2020, 20: 35: 37 WIB | editor : Perdana

Launching sekolah virtual secara daring oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Launching sekolah virtual secara daring oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Share this      

SOLO - Langkah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membuat sekolah virtual, yang dimulai di Boyolali dan Brebes, untuk mengatasi persoalan anak putus sekolah diapresiasi pakar pendidikan. Mereka menilai, ini merupakan terobosan luar biasa untuk mengatasi persoalan pendidikan di Indonesia.

Pengamat pendidikan dari Universitas Katolik Soegidjapranata (Unika) Tukiman Tarunasayoga mengatakan, selama ini masih banyak masyarakat mengalami kesulitan belajar karena persoalan biaya.

“Saya sangat mendukung langkah ini. Sekolah virtual merupakan jalan keluar bagi anak-anak yang tidak bisa sekolah karena persoalan biaya,” katanya.

Tukiman menerangkan, hak pendidikan harus dimiliki setiap anak. Mereka yang masih berusia di bawah 18 tahun, hak mereka harus dipenuhi, termasuk hak memperoleh pendidikan. “Apapun yang terjadi, apakah tidak mampu atau karena faktor lain, pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi hak pendidikan anak. Dan ini yang dilakukan oleh gubernur dengan membuat sekolah virtual ini,” papar dia.

Ketua Dewan Pendidikan Jateng Rustono menegaskan, tidak boleh anak-anak usia sekolah telantar hanya karena faktor ekonomi. “Alhamdulillah ada gagasan membuat sekolah virtual ini. Dengan begitu, maka mereka mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak,” ucapnya.

Masyarakat, lanjut dia, pasti senang dengan kabar ini. Sebab, banyak masyarakat yang tidak mampu menyekolahkan anaknya hanya karena urusan biaya. “Jateng daerahnya cukup besar, dan masih banyak yang memerlukan akses pendidikan. Untuk itu, saya harap sekolah virtual bisa dilanjutkan dan diperluas jangkauannya ke daerah-daerah terpencil,” tegasnya.

Sebagai salah satu pihak yang ikut merancang sekolah virtual, Rustono mengatakan, anak-anak yang menjadi siswa sekolah virtual akan mendapat hak sama dengan siswa sekolah reguler lainnya. Sebab, mereka akan masuk dalam dapodik sekolah negeri yang mengampu, yakni SMAN 3 Brebes dan SMAN 1 Kemusu Boyolali.

“Mereka terdaftar sebagai siswa, sehingga resmi. Lulusannya juga diakui dan mendapat hak yang sama, bisa bekerja atau melanjutkan kuliah. Semuanya sama, hanya saja metodenya yang berbeda karena sekolah virtual ini lebih banyak daring dan sesekali tatap muka,” ujarnya. (rgl/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP