alexametrics
Sabtu, 24 Oct 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Siswa SMAN Ciptakan Wastafel Panel Surya, Air-Sabun Keluar Otomatis

15 Oktober 2020, 23: 15: 09 WIB | editor : Perdana

Siswa SMAN 1 Polanharjo, Klaten, memperlihatkan wastafel panel surya di sekolah setempat, kemarin (14/10)

Siswa SMAN 1 Polanharjo, Klaten, memperlihatkan wastafel panel surya di sekolah setempat, kemarin (14/10) (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Pandemi telah melahirkan banyak inovasi. Salah satunya seperti dilakukan siswa SMAN 1 Polanharjo, Klaten ini. Mereka berhasil menciptakan wastafel tenaga panel surya. Apa keunikan dari wastafel ini?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

PERSEBARAN Covid-19 yang didominasi melalui sentuhan membuat sejumlah SMAN 1 Polanharjo tergugah untuk memutus mata rantai virus tersebut. Apalagi potensi penyebaran di lingkungan sekolah cukup tinggi. Salah satunya karena penggunaan wastafel saat cuci tangan harus menyentuh kran air terlebih dahulu.

Kondisi itu membuat Yusril Tegar Jaya, 16, siswa kelas XI IPA bersama rekan-rekan mengutarakan rencana kepada guru pendampingnya untuk membuat wastafel yang aman. Dalam artian tetap bisa digunakan tanpa harus menyentuh. Sehingga mencegah penyebaran virus antarsiswa bisa diminimalkan. Akhirnya terbesit membuat wastafel dengan mengandalkan panel surya sebagai penggerak utamanya.

Dipilihnya panel surya dengan memanfaatkan terik sinar matahari karena dinilai lebih hemat dibandingkan menggunakan listrik. Apalagi tetap bisa digunakan dalam kondisi apapun. Mengingat sinar matahari yang diterima oleh panel surya langsung disimpan ke aki dengan daya kekuatannya sekitar 12 volt.

Untuk wastafel karya siswa-siswi SMAN 1 Polanharjo ini, tidak hanya airnya saja yang keluar secara otomatis. Tetapi sabun yang digunakan untuk cuci tangan bisa keluar dengan sendirinya. Hal itu didukung dengan keberadaan sensor yang dipasang pada bagian depan dan samping dari wastafel itu.

Namun, diakui Yusril dan teman-temannya, menciptakan wastafel panel surya bukannya tanpa kendala. Mengingat mereka tidak memiliki background di bidang elektronika maupun robotik. “Kalau referensi, saya lihat di internet hingga menonton film tentang fantasi ilmiah. Dari situ terpikir untuk membuat wastafel panel surya ini,” ucap Yusril ditemui di sekolah setempat.

Kendala yang dihadapi dalam menciptakan wastafel panel surya itu terkait sensitifnya sensor. Saat uji coba ketika siswa melintasi wastafel itu, kran air maupun sabun sering keluar sendiri. Padahal, bagian tangan sedang tidak sedang didekatkan ke kran air. Kekurangan ini bisa diatasi dengan pengaturan switch on off.

“Saat kami menguliti bagian kabel dan hendak disambungkan, terkadang secara tidak sengaja kepotong dengan tidak tepat. Tapi kami terus berupaya untuk melakukan uji coba sensor air dan sabunnya terlebih dahulu sebelum disambungkan. Hingga akhirnya kami berhasil merakit wastafel beberapa hari ini,” ucapnya.

Kendala dalam menciptakan wastafel panel surya sebenarnya juga dirasakan sang guru pendamping yakni Wahyu Tri Mulyandari. Terutama komponen harus didatangkan dari luar daerah karena di Klaten belum ada yang menjual. Salah satunya panel surya yang memiliki ukuran 25 cm x 35 cm.

“Kami terus sempurnakan dengan melakukan uji coba-uji coba. Termasuk jika wastafel ini terkena hujan sudah dipastikan aman. Soalnya bagian panel dan komponen elektronik di dalam sudah terlindungi,” tambah Wahyu yang mengampu mata pelajaran fisika di sekolah setempat.

Saat ini baru ada tiga unit wastafel panel surya di sekolah itu yang masih dalam tahap penyempurnaan. Rencananya dibuat 15 unit wastafel panel surya untuk kebutuhan di sekolah. Setiap unitnya bisa digunakan oleh siswa dari dua kelas sekaligus.

Selain itu, wastafel panel surya karya siswa SMAN 1 Polanharjo juga akan ditawarkan ke luar lingkungan sekolah. Harapannya bisa dimanfaatkan di masing-masing institusi sehingga mendorong terciptanya pola hidup bersih. Termasuk menjadikan sekolah lebih mandiri dengan inovasi yang /riadimilikinya. (ren/bun/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP