alexametrics
Sabtu, 24 Oct 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Niteni, Nirokne, dan Nambahi; Jurus Ampuh Belajar Membuat Puisi

16 Oktober 2020, 20: 31: 02 WIB | editor : Perdana

Niteni, Nirokne, dan Nambahi; Jurus Ampuh Belajar Membuat Puisi

Oleh: Drs. Antonius Untung Wintoro,SMA Negeri 2 Cepu 

BERBICARA soal pengajaran sastra di sekolah maka tujuan yang harus dicapai adalah siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. (B.Rahmanto, 2000:654).

Pengajaran puisi kelas X SMA terdapat pada kurikulum dasar (KD) 4.16. Intinya tentang mendemonstrasikan (membacakan atau memusikalisasikan) satu puisi dari antologi puisi atau kumpulan puisi dengan  memerhatikan vokal, ekspresi, dan intonasi (tekanan dinamik dan tekanan tempo). 

Persoalannya sekarang bahwa pengajaran puisi di sekolah, dimasukkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga, kemungkinan besar, pelajaran puisi tidak begitu banyak diajarkan kepada siswa, karena lebih menekankan pelajaran tata bahasa. Terlebih lagi, apabila gurunya tidak suka akan puisi maka pelajaran puisi akan dilewati. Kondisi ini tentu sangat ironis.

Menulis puisi biasanya berkaitan dengan beberapa hal seperti pencarian ide, pemilihan tema, diksi, jenis puisi, dan permainan bunyi. Kemudian pemilihan pengucapan, pemanfaatan gaya bahasa, pembuatan larik atau tipografi dan judul yang menarik.

Dalam membuat puisi ini bisa menggunakan beberapa cara. Niteni, nirokne, dan nambahi. Dengan cara ini, seseorang siswa pada mulanya diajak untuk mengingat-ingat sebuah karya puisi. Selanjutnya disuruh untuk mencoba mencontoh naskah puisi tersebut. Kemudian diajak untuk menambahi atau mengubah kata-kata lain sesuai dengan kreativitas pikirannnya.

Epigonal, aforisme, outbond, dan cinta. Epigonal; di mana seorang siswa disuruh menirukan naskah-naskah puisi yang sudah ada dengan menambahi sesuai kreativitasnya. Aforisme; pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum. Para siswa diajak menulis puisi, berangkat dari peribahasa yang telah diajarkan guru sebelumnya. Tentu dalam hal ini, perlu kreativitas tersendiri bagi siswa. Outbond; para siswa diajak di luar sekolah guna mengamati apa saja yang ada di luar sekolah tersebut. 

Dunia baca puisi atau poetry reading saat ini sedang banyak digemari oleh kalangan masyarakat. Mulai dari kalangan pelajar untuk kegiatan perlombaan hingga di acara-acara tertentu. Bagi pemula mungkin sulit, tapi bila sudah terbiasa maka akan lebih mudah. 

Selain aspek di atas, perlu pula seorang pembaca puisi mempunyai penampilan seni atau nyeni  (performance-art). Artinya seorang pembaca puisi tidak harus bersikap sempurna seperti tentara akan baris, tapi usahakan juga berakting dengan indah, melalui gerak tangan dan kaki, ekspresi muka, dan lain sebagainya. 

Termasuk memanfaatkan panggung di sekitarnya. Biasanya disebut sebagai teknik menghidupkan suasana atau mood, ini agar bacaan puisi menjadi intelligible (dapat dimengerti dan menyakinkan pendengar) dan audible (dapat didengar dengan jelas pelafalan bacannya). Kemudian isi puisi yang dibacakan bisa ditangkap oleh penonton.

Membaca puisi, yang juga merupakan cabang seni membaca indah, memang tidak mudah. Karena itu perlu latihan lebih intens. Pembaca yang baik adalah yang sudah terbiasa di atas pentas, sehingga tidak ada lagi kata demam panggung. Intinya bahwa membaca puisi itu gampang. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP