alexametrics
Sabtu, 24 Oct 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Suparno, Hampir Setengah Abad Tekuni Kerajinan Jaran Kepang

16 Oktober 2020, 23: 45: 38 WIB | editor : Perdana

Suparno Diharjo membuat jaran kepang di rumahnya Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo, kemarin.

Suparno Diharjo membuat jaran kepang di rumahnya Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo, kemarin. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Tak banyak perajin yang konsisten membuat jaran kepang. Apalagi memakai bahan lembut dari daun gebang. Suparno Diharjo salah satunya. Sudah puluhan tahun dia menekuni kerajinan ini. Seperti apa lika-likunya?

RYAN AGUS, Solo, Radar Solo

BIASANYA kebanyakan perajin membuat jaran kepang dari anyaman bambu lalu dipercantik dengan cat warna-warni. Namun, Suparno malah memilih bahan lain. Pria 71 tahun ini menggunakan bahan daun gebang dengan hiasan kain beludru, benang wall, dan pernak-pernik lain. Bahan lain dari serat nanas dan limbah kardus sebagai kerangka.

“Limbah kardus dibentuk seperti kuda sesuai ukuran yang diinginkan pemesan. Setelah dilem, kemudian dilapisi daun gebang dan kain beludru. Selanjutnya diberi manik-manik dan kain wall seperti kuda pada bagian mata dan mulutnya,” ucap pria yang akrab disapa Parno ini ditemui di rumahnya di Baluwarti RT 4 RW 1, Pasar Kliwon.

Alasan Parno menggunakan daun gebang sebagai bahan membuat jaran kepang ini karena terbilang aman dipakai praktik anak-anak. Permukaannya yang halus dan lembut tidak akan membuat anak terluka karena sisi jaran kepang dilapisi kain beludru.

“Saya pernah melihat kejadian anak-anak yang memainkan jaran kepang berbahan lain bisa mencelakakan anak. Kulit anak tersebut sobek akibat tergores anyaman bambu atau paku. Kalau saya mengandalkan teknik lem saja sehingga aman,” ungkap pria kelahiran Wonogiri ini.

Di usia senjanya ini, Parno resah. Sebab, tidak ada lagi pemuda di desanya mau belajar membuat jaran kepang. Kondisi ini tentu mengancam regenerasi dan kepunahan perajin jaran kepang. Padahal, sebenarnya kalau ditekuni bisnis ini sangat menjanjikan. Jaran kepang miliknya pernah diminati hingga ke Australia, Singapura, dan Malaysia. Sedangkan di pasar lokal menyasar beberapa tempat wisata, seperti Borobudur, Prambanan, Malioboro, Bogor, dan beberapa daerah lain.

“Di era 1975-1980-an bisnis ini berkembang pesat. Saya sempat mendapat tawaran membuat 200-300 jaran kepang per pekan dan dikirim ke Australia. Kalau sekarang bisa menghasilkan puluhan juta rupiah. Apalagi para turis yang minat sebagai souvenir,” tuturnya.

Harga jaran kepang bermacam-macam tergantung ukuran. Mulai Rp 5 ribu hingga Rp 250 ribu. Parno termotivasi membuat kerajinan ini bukan karena ikut-ikut orang lain. Dia lebih menyasar ke pasar dunia pendidikan, wisata, terutama turis asing. Dia tidak mau menjual di jalan-jalan.

“Banyak yang ingin cari karya saya sampai datang ke rumah. Tak hanya warga lokal, namun turis yang fasih berbahasa Indonesia dari Jogja juga datang ke sini hanya untuk membeli jaran kepang buatan saya,” ujarnya.

Pada masa pendemi ini diakui Parno penjualan jaran kepangnya sempat turun. Sebab, banyak turis menunda berwisata ke Indonesia. Dia berharap wabah ini cepat berlalu agar penjualan jaran kepangnya bisa kembali moncer. (*/bun/ria)

   

(rs/ria/per/JPR)

 TOP