alexametrics
Rabu, 28 Oct 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Bayar Retribusi Sampah Tinggal Scan

17 Oktober 2020, 11: 41: 44 WIB | editor : Perdana

Launching pembayaran nontunai penarikan retribusi pelayanan persampahan/kebersihan, kemarin (16/10).

Launching pembayaran nontunai penarikan retribusi pelayanan persampahan/kebersihan, kemarin (16/10). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pelayanan publik dengan sistem nontunai menjadi salah satu andalan pemkot dalam melakukan inovasi. Terbaru, penarikan retribusi pelayanan persampahan/kebersihan (RPP/K) disempurnakan dengan Quick Respon Code Indonesian Standard (QRIS).

E-retribusi sampah dan kebersihan ini merupakan pengembangan yang dirintis sejak Oktober 2018. Waktu itu, proyek percontohannya dilakukan di tiga RT di RW 09 Kelurahan Pucangsawit, Jebres. 

Uji coba itu berjalan dengan berbagai catatatan. Di satu sisi menunjukkan ketertiban administrasi dan kemudahan transaksi nontunai. Di lain sisi, banyak kendala teknis yang dipengaruhi berbagai faktor, sehingga membuat terobosan itu kurang maksimal.

“Selama ini, di sektor rumah yang jadi percontohan melakukan pembayaran retribusi dengan kartu e-money. Karena alat pembayaran (mobile point of sale/mPos) berada di tempat masing-masing ketua RT, pembayaran juga harus dilakukan di sana, sehingga muncul ketidakefektifan dalam hal teknis. Walaupun jika dilihat dari unsur pembayarannya tetap mudah, karena hanya tinggal gesek,” urai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta Gatot Sutanto.

Berkaca dari fenomena tersebut, dilakukan penyempurnaan e-retribusi persampahan. Konsep pembayaran nontunai dengan model e-money diubah menggunakan QRIS agar lebih efisien.

"Ini aplikasi uang elektronik berbasis server, dompet digital, atau mobile banking. Jadi pengguna GoPay, OVO, LinkAja, dan lainnya bisa bertransaksi dengan mudah karena sistem e-retribusi persampahan sudah menggunakan sistem pembayaran nontunai ini," ujarnya.

Untuk sementara, pembayaran menggunakan QRIS diterapkan pada wajib retribusi sampah dan kebersihan untuk sektor usaha. Asumsinya, sektor usaha seperti toko, hotel, dan sebagainya lebih terbiasa menggunakan smartphone dan sistem QRIS daripada sektor rumah tangga.

”Untuk sektor rumah tangga, termasuk di RW 9 Pucangsawit yang sudah menggunakan e-money masih belum menggunakan QRIS. Tapi targetnya semua bisa menggunakan pembayaran nontunai model seperti ini agar lebih mudah dan tertib administrasi,” papar Gatot. 

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo optimistis program tersebut dapat berjalan baik lantaran sistem pembayaran jauh lebih mudah. Ini melengkapi berbagai usaha pemkot dalam menggalakkan pembayaran nontunai.

"Sebelumnya sektor usaha masih menggunakan uang tunai, sekarang bisa langsung membayar lewat handphone (berbasis) Andorid. Ini melengkapi model pembayaran nontunai lainnya yang juga dilakukan dalam berbagai sektor," pungkasnya. (ves/wa/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP