alexametrics
Sabtu, 24 Oct 2020
radarsolo
Home > Sukoharjo
icon featured
Sukoharjo

Sukoharjo Zona Merah, Prokes Diperketat: Tak Taat Isolasi, Dijemput!

17 Oktober 2020, 13: 03: 03 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi (IRECK OKTAVIANTO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Status zona merah atau risiko tinggi penularan Covid-19 menjadi perhatian utama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo. Penertiban pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) dilakukan lebih ketat.

“Masyarakat sudah bosan dengan segala pembatasan. Namun, kalau tidak dipaksa untuk tertib, maka bakal kejadian seperti Jakarta. Rumah sakit-rumah sakit penuh. Pak Luhut Binsar Pandjaitan (menteri koordinator bidang kemaritiman dan investasi) dalam Zoom Meeting meminta TNI-Polri lebih tegas lagi melakukan penertiban prokes,” beber Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Yunia Wahdiyati. 

Menurut dia, mereka yang melakukan isolasi mandiri di rumah ternyata tidak taat tata laksana pencegahan dan penularan Covid-19. Karena tanpa gejala, mereka merasa dirinya sehat. Imbasnya, banyak anggota keluarga dan tetangga yang tertular. Maka, nantinya, bagi yang tidak taat akan dijemput kemudian dirawat di rumah isolasi di desa-desa.

“Untuk pemerintah desa, bisa mengaktifkan lagi rumah-rumah karantina. Sekaligus mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan yang dikarantina. Termasuk APD (alat pelindung diri) bagi tenaga medisnya,” terangnya.

Yunia optimistis, ketika masyarakat lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan, maka status zona merah dapat segera melandai.

Diberitakan sebelumnya, sesuai situs covid19.go.id, Kota Makmur termasuk dalam 53 kabupaten/kota zona merah Covid-19. Sebab itu, masyarakat terus diminta meningkatkan kewaspadaan dan lebih disiplin dengan prokes.

Ada beberapa indikator yang digunakan untuk menghitung status zona risiko Covid-19 di Indonesia, yaitu epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan.

"Peta zonasi risiko daerah dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan," kata Yunia.

Indikator epidemiologi seperti penurunan jumlah kasus positif dan probable pada pekan terakhir sebesar lebih 50 persen dari puncak, penurunan jumlah kasus suspek pada pekan terakhir sebesar lebih 50 persen dari puncak. Kemdian, penurunan jumlah meninggal kasus positif dan probable pada pekan terakhir lebih dari 50 persen dari puncak dan penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar lebih dari 50 persen dari puncak dan sebagainya. (kwl/wa/ria) 

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP