alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Keunikan Numismastik, Hobi Mengoleksi Uang

18 Oktober 2020, 13: 50: 59 WIB | editor : Perdana

KOMPAK: Harsito Budi Santosa (kiri) dan Andreas Novriyanto menunjukkan koleksi, kemarin (16/10). Didapat dari sesama kolektor.

KOMPAK: Harsito Budi Santosa (kiri) dan Andreas Novriyanto menunjukkan koleksi, kemarin (16/10). Didapat dari sesama kolektor. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Hobi Numismastik tidak lekang digerus zaman. Sebab setiap tahun selalu muncul desain mata uang baru. Masing-masing punya cerita sejarah dan keunikan tersendiri.

ISTILAH numismastik masih terdengar asing bagi orang awam. Namun hobi mengumpulkan mata uang baik koin, token, uang kertas ini cukup banyak peminatnya. Di antaranya Harsito Budi Santosa, 46 warga Dusun Sidosari, Desa Krajan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo dan Andreas Novriyanto, 40 warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres. Mereka mengaku sudah lama menyukai uang kuno, khususnya kertas. Koleksinya sudah ratusan lembar. 

Harsito mengatakan, uang memiliki kisah dan sejarahnya sendiri. Setidaknya, uang di Indonesia secara umum dibedakan berdasarkan dua. Yakni uang kolonial atau uang pada zaman penjajahan Belanda dan uang RI atau uang Indonesia. Uang Indonesia dibagi lagi menjadi uang periode awal kemerdekaan atau Oeang Republik Indonesia (ORI) dan uang-uang yang lebih mutakhir. Mulai dari dekade 1960-an sampai sekarang.

”ORI sendiri dibagi lagi, ada ORI Daerah (Orida). Sebab, pada awal kemerdekaan, terdapat tiga mata uang yang berlaku di Indonesia. Yaitu mata uang Hindia Belanda, Jepang, dan ORI. Indonesia ingin menjadikan ORI sebagai mata uang yang berdaulat. Namun, saat diedarkan terdapat kendala untuk dapat mendistribusikan ORI ke daerah-daerah. Pada akhirnya, setiap daerah membuat ORI-nya sendiri-sendiri yang dikenal dengan istilah Orida. Solo juga termasuk daerah yang mempunyai Orida, selain Banten dan Sumatera,” jelas Harsito. 

Ada juga uang revolusi. Yakni, uang pada zaman Soekarno. Pada zaman itu, uang tidak hanya sekadar sebagai alat tukar. Tapi juga terdapat kode atau sandi rahasia untuk perjuangan. ”Saya paling suka uang Soekarno seri Irian Barat. Uang ini hanya beredar di Irian,” kata Andre.

Andre menambahkan, minat masing-masing numismastis dalam mengoleksi uang berbeda. Ada yang berdasarkan negara, berdasarkan serinya, keunikan desan dan nomor seri. Ada juga kolektor yang khusus mengoleksi uang-uang kolonial maupun uang orida.

”Ada yang mengoleksi seri pahlawan, seri hewan ataupun seri budaya serta seri pekerja. Bahkan, ada yang juga mengoleksi uang yang salah cetak (misprint) dan salah potong (miscut) dan uang yang belum dipotong. Jadi setiap koleksi punya cerita sejarahnya sendiri,” imbuh Andre. (kwl/adi)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP