alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Mengatasi Masalah Sampah dengan Cara Budidaya Maggot

23 Oktober 2020, 23: 59: 19 WIB | editor : Perdana

Budidaya maggot bisa mengurai sampah.

Budidaya maggot bisa mengurai sampah. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Sampah masih menjadi masalah serius. Untuk menangani ini butuh berbagai terobosan. Di Klaten ada sekelompok masyarakat membudidayakan maggot atau belatung dari lalat black soldier fly. Nah, maggot ini bisa dimanfaatkan untuk mengurai sampah. 

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

PASAR tradisional selalu menjadi salah satu pemasok terbesar sampah setiap hari di Klaten. Selama ini sampah-sampah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Semakin lama bila tidak dikendalikan tentu akan menjadi masalah besar. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Klaten mulai melirik cara baru. Saat ini DLH masih mendata pembudidaya maggot di Kota Besinar. Harapannya maggot-maggot ini bisa digunakan untuk mengurai sampah di pasar tradisional Klaten. 

“Kalau dalam grup yang kami kelola memang ada 130 pembudidaya. Tetapi yang aktif 100 persen hanya 80 pembudidaya,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Dampak Lingkungan DLHK Klaten Dwi Maryono di sela-sela acara sosialisasi budidaya maggot di Desa Wangen, Kecamatan Polanharjo, Kamis (22/10).

Dwi Maryono menjelaskan, saat ini ada dua pasar tradisional yang sampah organiknya dikelola pembudidaya maggot. Yakni, Pasar Srago dan Pasar Pedan. Ada empat pembudidaya yang memanfaatkan sampah organik Pasar Srago hingga 7 kuintal setiap harinya untuk diurai dengan maggot.

Sedangkan sampah organik Pasar Pedan yang dihasilkan setiap hari mencapai 3 kuintal, yang dikelola satu komunitas. Di dalamnya berisi 18 pembudidaya yang mengelola sampah organik untuk diurai dengan maggot. 

Dwi Maryono pun mengapreasiasi para pembudidaya yang secara tidak langsung ikut mengurangi sampah yang dibawa ke Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPAS) Troketon.

“Ke depan akan kami dukung dalam bentuk sarana dan prasarana. Misalnya butuh armada kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah organik. Terutama bagi mereka yang sudah membentuk kelompok dan memerlukan angkutan,” jelasnya.

Diakui dia, sebenarnya ada kendala dalam penguraian sampah organik pasar tradisional dengan maggot. Terutama untuk memilah sampah organik dan anorganik di tingkat pedagang pasar sendiri. Maka dari itu, DLH terus mendorong pentingnya dalam memilah sampah dilakukan sejak pertama.

“Jadi selama ini teman-teman pembudidaya yang langsung mengambil sampah organik dari pasar. Tapi yang menjadi hambatannya selama ini ya terkait pemilahan sampahnya,” jelasnya.

Sebagai gambaran, sampah yang dihasilkan warga Klaten setiap hari mencapai 160 ton. Tetapi baru bisa ditangani sebanyak 70 ton di TPAS Troketon. Diharapkan dengan banyaknya pembudidaya maggot di Klaten bisa ikut serta dalam mengurai sampah organik yang dihasilkan warga Klaten setiap harinya.

“Kalau datanya sudah fix ada berapa dan aksesnya di mana saja, bisa menjadi dasar kami untuk mengambil kebijakan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Joho Yulis Tanto yang hadir dalam acara sosialisasi itu mengungkapkan, di desanya juga terdapat pembudidaya maggot dalam bentuk komunitas. Hal itu bagian dari pemberdayaan yang dilakukannya karena bisa memberikan pendapatan terhadap pembudidaya.

“Selama ini kami tekankan untuk selalu koordinasi dengan pemerintah desa  jika ingin berkembang. Kaitannya untuk bantuan-bantuan, tentunya kami dukung para pembudidaya maggot,” ujarnya. (*/bun/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP