alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

XL Smart Aquaculture, Solusi IoT Tingkatkan Kualitas Budidaya Ikan

24 Oktober 2020, 21: 31: 07 WIB | editor : Perdana

XL Smart Aquaculture menjadi solusi IoT untuk petambak ikan dan udang.

XL Smart Aquaculture menjadi solusi IoT untuk petambak ikan dan udang.

Share this      

JAKARTA - PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) terus mengembangkan solusi berbasis Internet of Thing (IoT) yang mengakomodir para pelaku usaha dari berbagai segmen. Bagi kalangan petani tambak, XL Axiata mengembangkang solusi precision farming bernama XL Smart Aquaculture.

Solusi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas budidaya ikan dan udang. Diimplementasikan oleh sejumlah petani tambak ikan kerapu dan udang di Jawa Timur. Solusi ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas rata-rata sebesar 20 persen.

Chief Enterprise & SME Officer XL Axiata Feby Sallyanto mengatakan, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Sehingga potensi marine-culturenya sangatlah besar. Namun, saat ini Indonesia hanya menempati urutan keempat sebagai negara penghasil udang terbesar di dunia setelah Vietnam.

Tantangan terbesar yang dihadapi sebagian besar petambak Indonesia untuk meningkatan produksi budidaya dalam negeri adalah metode budidaya konvensional yang belum banyak mendapatkan sentuhan teknologi. Serta minimnya data historis.

"Perencanaan yang kurang matang, cuaca yang berubah-ubah, pemberian pakan kurang/berlebih, menyebabkan kualitas air tambak menjadi fluktuatif. Sehingga kegagalan panen dapat terjadi sewaktu-waktu. XL Smart Aquaculture memungkinkan metode budidaya dengan teknologi berbasis data yang presisi," ujar Feby.

Solusi XL Smart Aquaculture bekerja dengan cara mengambil dan mengolah data kualitas air secara otomatis dengan memadukan IoT dan machine learning. Sehingga petambak dapat langsung mengetahui keadaan tambak yang dikelolanya.

Variabel penting yang dimonitor pada XL Smart Aquaculture ini adalah kondisi air di tambak. Dengan mengetahui data keadaan tambak, mereka dapat melakukan berbagai hal seperti mencegah penyakit, menghindari pemberian pakan yang berlebihan, dan mengoptimalkan kapasitas tambak.

Manfaat lain dari solusi ini adalah kemudahan dalam membaca kondisi tambak. Penggunaan XL Smart Aquaculture cukup mudah. Petambak hanya perlu mencelupkan sensor kualitas air. Kemudian data akan secara otomatis muncul di layar smartphone atau tablet.

Petambak juga dapat memisahkan data tiap tambak, sehingga luas tambak 5.000 meter persegi hanya membutuhkan satu unit alat. Selain itu, sistem pada solusi ini dapat memudahkan pengguna untuk melakukan input data tambak, baik dari sisi kualitas air, data pakan, data panen, ataupun data penyakit.

“Metode budidaya dengan data akurat dapat mencegah dan menanggulangi masalah yang ada di perairan. Perlakuan tepat bagi komoditas yang dibudidayakan dapat meningkatkan produktivitas budidaya dengan kualitas hasil panen yang sesuai dengan permintaan pasar. Solusi XL Smart Aquaculture berbasis IoT ini selain mampu meningkatkan kualitas dan produksi hasil panen, juga mengurangi tingkat resiko kegagalan panen,” papar Feby.

Agar dapat menjawab salah satu tantangan para petani tambak, di mana sebagian lokasi tambak berada di area yang tidak terjangkau sinyal seluler yang stabil, solusi ini dikembangkan untuk dapat tetap bekerja secara maksimal di saat tidak mendapat sinyal seluler.

Selain itu, solusi ini dapat ditambahkan fitur-fitur atau alat lainnya sesuai kebutuhan. Antara lain alarm, alat pemberian pakan secara otomatis, pengendali kincir air, kamera, serta machine learning untuk prediksi cuaca dan penyakit.

Saat ini, XL Smart Aquaculture telah diterapkan oleh para petani tambak di Pacitan dan Situbondo. Salah satu petambak ikan kerapu di Situbondo menjelaskan, solusi IoT dari XL Axiata ini mudah diterapkan.

Selain itu, XL Axiata juga memberikan layanan pendampingan, terutama konsultasi, pelatihan penggunaan alat, dan layanan purna jual. Menurut petambak, bagaimana pun canggihnya suatu alat, jika mereka tidak bisa menggunakan, maka akan sia-sia saja. Apalagi, kebanyakan petambak Indonesia saat ini sudah cukup berumur dan butuh waktu untuk adaptasi teknologi baru. (*/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya