alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Edukasi Ibu Hamil lewat Pendampingan Intensif Ala Sekoci

24 Oktober 2020, 22: 05: 09 WIB | editor : Perdana

Aktivis sekoci damping ibu hamil agar mereka paham terhadap kesehatan janin.

Aktivis sekoci damping ibu hamil agar mereka paham terhadap kesehatan janin. (ISTIMEWA)

Share this      

Angka kematian ibu (AKI) masih tinggi. Ini dapat ditekan bila ibu hamil rela periksa rutin. Namun, tak sedikit ibu hamil tidak menuntaskan pemeriksaan. Perlu sebuah gerakan bersama guna menyadarkan ini.  

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

ALASAN inilah yang melatarbelakangi Rizka Ayu Setyani membentuk Sekolah Komplementer Cinta Ibu (Sekoci) pada awal 2020 lalu. Kesehatan ibu hamil dan menyusui menjadi concern utamanya dalam berkontribusi di dunia kesehatan. Alumni Kebidanan Universitas Sebelas Maret (UNS) ini menyebut Sekoci bukanlah sebuah komunitas atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Sekoci adalah sebuah inovasi pengembangan kelas ibu hamil. Kali pertama kami kembangkan di dua puskesmas di Sleman, Jogjakarta,” beber perempuan asal Solo ini.

Alasan memilih puskesmas di Sleman ini, menurut Rizka karena puskesmas tersebut menyumbang AKI cukup banyak. Padahal, jika ibu hamil mau melakukan pemeriksaan secara teratur, kematian ibu dapat dicegah. Seharusnya, kunjungan atau pemeriksaan satu orang ibu hamil setidaknya dilakukan empat kali.

“Tapi ibu-ibu hamil di sana tidak semua menyelesaikan pemeriksaan tersebut. Maka, kami melakukan inovasi dan juga mengajak kader untuk turut bergerak,” sambungnya.

Rizka menjelaskan, Sekoci hadir untuk melengkapi dan menambahkan asuhan kebidanan atau materi yang belum ada di kelas ibu hamil. Seperti pijat bayi dan senam bayi, pijat ibu hamil yang bisa dilakukan oleh suami, perawatan kehamilan, self healing, dan cara membangun ikatan antara ibu dan anak.

“Ada juga kelas yoga untuk melepas stres dan agar ibu hamil lebih rileks. Di sini kami mengajarkan para ibu untuk melakukan semua itu secara mandiri. Kami pun menekankan partisipasi aktif dari para ibu,” ungkapnya.

Selain kelas ibu hamil, inovasi dilakukan dari segi teknologi dengan membuat ASIK (aplikasi sayang ibu bayi komplementer). Aplikasi ini dapat digunakan para ibu hamil untuk memantau secara mandiri usia kehamilannya dan kapan tanggal lahirannya, laporan kader, sajian informasi untuk ibu hamil dan menyusui, serta untuk konsultasi.

Mantan runner up Putri Solo 2011 ini memulai Sekoci bersama dua rekannya sesama dosen di salah satu universitas swasta tempat dia mengajar saat ini. Awal tahun, mereka berhasil memperoleh dana program hibah Dikti hingga kemudian bermitra dengan dua puskesmas hingga beberapa tahun ke depan.

Melaksanakan gerakan ini bukanlah hal yang mudah. Pada tahap awal, Rizka membutuhkan kerja lebih keras. Mulai dari menyusun perencanaan awal, advokasi ke puskesmas, dan meyakinkan mereka bahwa program ini penting dan dibutuhkan. Beruntung, antusiasme terhadap program ini sangat baik.

“Pertemuan tatap muka sudah terlaksana tiga kali. Karena pandemi Covid-19, kelas ini berlanjut dengan kelas daring atau webinar melalui Zoom Cloud Meetings, Instagram, dan Youtube Sekoci Indonesia,” katanya.

Kelas daring inilah yang kemudian juga menjadi tantangan baru Rizka dan tim. Namun, tanpa disangka kelas daring tersebut justru mendapat animo luar biasa. Tidak hanya dari puskesmas mitra, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

“Setelah dibuka untuk umum, banyak yang tertarik. Satu kali kelas daring bisa 50-60 orang, bahkan sampai 90 peserta,” imbuhnya.

Rizka mengklaim kelas daring ini membuka kesempatan kolaborasi yang lebih lebar. Bahkan para peserta diberi kesempatan untuk konsultasi daring dengan para pengajar pada setiap minggunya. Tidak hanya para ahli di bidang kesehatan, Sekoci juga berkolaborasi dengan psikiater sampai chef yang membahas soal makanan sehat, tapi enak untuk ibu hamil dan menyusui.

“Kami juga ada relawan pengajar dari berbagai wilayah Indonesia, seperti dosen. Kami menyediakan dan menawarkan wadah untuk pengabdian secara daring. Terlebih di masa pandemi ini. Ada juga relawan fasilitator seperti moderator, admin, dan konten kreator. Kami berharap ke depan lebih luas,” ujarnya. (*/bun/ria) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya