alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Dalem Tumenggungan Jadi Sarana Melawan Propaganda Kolonial

25 Oktober 2020, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Dalem Tumenggungan Jadi Sarana Melawan Propaganda Kolonial

BERDASARKAN catatan sejarah, Taman Putro Mangkunegaran merupakan Taman Kanak-kanak (TK) tertua di Kota Bengawan. Berdiri sejak 1943-2014, sebelum akhirnya diminta meninggalkan bangunan berbentuk joglo itu.

Bekas-bekas aktivitas TK masih terlihat dengan adanya sejumlah wahana permainan. Seperti perosotan, dan lainnya di sisi barat pendapa. Bekas ruang kelas di pendapa masih dapat ditemukan jika jeli memperhatikan.

Pada sejumlah tiang penyangga pendapa masih tampak engsel pintu yang dulunya digunakan untuk menyekat ruangan. “Sejarahnya lokasi itu memang digunakan untuk sarana pendidikan. Menjadi salah satu TK tertua yang ada di Solo,” kata Kepala Bidang Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kota Surakarta Sungkono, Sabtu (24/10).

Fungsi lainnya, ketika bangunan masih ditempati salah seorang patih dari Pura Mangkunegaran, Dalem Tumenggungan kerap digunakan menyiarkan kesenian tradisional menggunakan pemancar radio. Seperti karawitan dan wayang orang.

“Lokasi ini tercatat sebagai salah satu embrio radio pertama di Indonesia. Waktu itu bentuknya masih radio amatir untuk misi kebudayaan,” jelas dia.

Pada masa itu, Mangkunegoro VII menjadi tokoh sentral lahirnya radio pertama di Indonesia. Jauh sebelum Radio Republik Indonesia (RRI) lahir, bahkan belasan tahun sebelum kemerdekaan.

Dokumen sejarah mencatat keberadaan Solosche Radio Vereening (SRV) yang terbentuk pada 1 Apirl 1933 dengan Sarsito sebagai ketuanya. Kala itu Sarsito dan kawan kawan memiliki kekurangan dana untuk membeli sebuah pemancar radio baru.

Saat itulah SRV meminta bantuan kepada Mangkunegoro VII menutup kekurangan pembelian alat pemancar. Alhasil, radio pertama di tanah air itu melakukan siaran perdana pada 5 Januari 1934.

“Waktu itu belum punya studio. Sementara menggunakan bangunan yang kini dikenal dengan Dalem Tumenggungan atau Taman Putra,” jelas Sungkono.

SRV menjadi salah satu sarana melawan propaganda kolonial dan melestarikan budaya nusantara. SRV kehilangan taringnya ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942. Radio milik anak bangsa diambil alih dan diganti nama Hoso Kyoku. 

Dalem Tumenggungan ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2014 karena telah memenuhi kriteria sesuai Undang Undang Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP