alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Manfaatkan Donor ASI Tak Bisa Serampangan

Sibuk Kerja Jangan Jadi Pembenar

25 Oktober 2020, 11: 55: 59 WIB | editor : Perdana

BERIKAN YANG TERBAIK: Nia, ibu muda yang berprofesi sebagai tenaga pendidik tunjukkan alat pumping guna tetap memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya.

BERIKAN YANG TERBAIK: Nia, ibu muda yang berprofesi sebagai tenaga pendidik tunjukkan alat pumping guna tetap memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Layanan donor air susu ibu (ASI) marak di media sosial (medsos). Sebagian besar melakukan donor karena kelebihan stok. Padahal donor ASI harus ekstraketat. Mencegah penularan penyakit bagi bayi yang menerima donor.

AKTIVITAS donor ASI diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2012. Dalam surat legal tersebut tertulis donor aksi hanya dapat dilakukan dalam keadaan darurat.

Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cabang Surakarta Dini Rosa Siti Ayu menegaskan, ada tiga kondisi dinyatakan sebagai keadaan darurat.

“Pertama ibu sakit, kedua ibu sudah tidak ada atau meninggal, dan terakhir terpisah dengan bayinya. Selain (kondisi) itu tidak darurat,” katanya, kemarin (24/10). 

Dalam PP tersebut tidak disebutkan ibu yang bekerja. Artinya, ibu yang sibuk bekerja tidak termasuk dalam kondisi darurat. Saat bekerja, seorang ibu masih memiliki opsi tetap memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Seperti memerah alias pumping, ataupun cara lain.

“Hal seperti ini yang kami sering edukasi. Ibu pekerja memilih menggunakan donor ASI karena belum tahu cara memberikan ASI ekslusif,” kata ibu enam anak ini.

Dalam kondisi darurat pun, lanjut Dini, juga harus ada persetujuan keluarga. Tanpa persetujuan keluarga, donor ASI tidak dapat dilaksanakan. 

Perempuan yang juga konselor menyusui itu menegaskan, aktivitas donor ASI tidak dapat dilakukan serampangan. Beberapa syarat harus diperhatikan, seperti riwayat kesehatan pendonor, cara memerah ASI, cara mengemas, cara menyimpan, serta cara pengiriman.

“Donor ASI jika tidak memperhatikan riwayat pendonor akan riskan tertular penyakit. Misalnya HIV/AIDS kan bisa menular lewat ASI tersebut. Data dan riwayat pendonor menjadi penting dalam sudut pandang agama Islam, karena terkait hubungan nasab,” urainya.

Untuk menjamin kualitas ASI yang didonorkan, AIMI berharap ada uji lab yang dapat memeriksa kandungan serta kelayakan ASI untuk didonorkan. 

“Pandemi Covid-19 menjadi salah satu keadaan yang diperbolehkan karena darurat. Hal itu ditegaskan WHO dan Kementerian Kesehatan, bahwa ibu yang terpapar Covid-19 dapat mengambil opsi donor ASI,” terang Dini.

Selain melakukan donor ASI, ada alternatif lain saat ibu bayi terpapar korona, yakni memerah ASI atau mengganti dengan susu formula. Namun lagi-lagi AIMI meminta hal tersebut dilakukan atas dasar persetujuan keluarga.

“Prinsipnya pemberian ASI ekslusif adalah pilihan terbaik untuk kesehatan bayi. Jika terpaksa melakukan donor, maka harus diketahui riwayat pendonor dan kondisi ASI-nya,” tegasnya. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya