alexametrics
Minggu, 29 Nov 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Peluang & Tantangan Generasi Milenial Dalam Menghadapi Era Society 5.0

28 Oktober 2020, 18: 47: 07 WIB | editor : Perdana

Suyatmin Waskito Adi, Kabag ACEC- UMS Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS

Suyatmin Waskito Adi, Kabag ACEC- UMS Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS

Share this      

Oleh : Suyatmin Waskito Adi, Kabag ACEC- UMS Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS

TEKNOLOGI manusia semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Sehingga negara-negara maju mulai melakukan perubahan. Salah satunya melalui Society 5.0 yang digagas oleh negara Jepang. Pada awal 2019, Jepang mencanangkan Society 5.0 sebagai langkah lanjutan dari Revolusi 4.0. Pada era Society 5.0, penggunaan teknologi bukan hanya pada bisnis. Namun bagaimana kegiatan manusia sehari-hari diintegrasikan dengan teknologi informasi dan basis data. Perpaduan penggunaan artificial, drown, robot dan big data akan mengoptimalkan teknologi dalam memberikan support dan dukungan pada kegiatan sehari-hari manusia, termasuk untuk peningkatan kesehatan dan pendidikan.

Konsep Society 5.0 merupakan penyempurnaan dari konsep-konsep sebelumnya. Pada Society 1.0, manusia masih berada di era berburu dan mengenal tulisan. Pada Society 2.0 adalah era pertanian dimana manusia sudah mulai mengenal bercocok tanam. Lalu pada Society 3.0 sudah memasuki era industry, yaitu ketika manusia sudah mulai menggunakan mesin untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Setelah itu munculah Society 4.0 yang kita alami saat ini, yaitu manusia yang sudah mengenal komputer hingga internet juga dalam penerapannya di kehidupan.

Jika Society 4.0 memungkinkan kita untuk mengakses juga membagikan informasi di internet. Internet bukan hanya sekadar untuk berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan. Society 5.0 menciptakan masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Manusia mempunyai peran di era digital, sehingga dibutuhkan keseimbangan antara pencapaian ekonomi dan penyelesaian masalah sosial.

Society 5.0 dimaksudkan untuk mengantisipasi era Industri 4.0, dimana peran masyarakat dirasakan masih kurang. Society 5.0 merupakan suatu konsep masyarakat yang berpusat kepada manusia (human-centered) yang berbasis teknologi (technology based). Perkembangan teknologi yang begitu pesat, termasuk adanya peran manusia yang tergantikan oleh kehadiran robot cerdas, dianggap dapat mendegrasi peran manusia. Hal ini yang melatar belakangi lahirnya Society 5.0 yang diperkenalkan di kantor Perdana Menteri Jepang.

Melalui Society 5.0 kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan serta the Internet of Things akan menjadi sesuatu kearifan yang baru, yaitu nilai humanistik secara keseluruhan dan akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan. Transformasi teknologi ini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna memiliki arti “memanusiakan manusia”.

Dengan demikian dalam era Society 5.0 kecerdasan buatan digunakan untuk mengubah semua data di semua aspek kehidupan. Dengan demikian bagi Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang besar namun dengan sebaran ilmu pengetahuan dan pendidikan yang tidak merata, Society 5.0 bisa menjadi faktor pelengkap keberhasilan jika diimplementasikan dengan baik.

Di negara kita, implementasi Era Industri 4.0 masih belum tuntas. Memang transformasi digital yang mengalami perkembangan yang sangat cepat telah mengubah kebiasaan masyarakat dan industri. Salah satu dampak transformasi digital adalah menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi sangat pesat. Sehingga bisa dinikmati semua orang dengan mudah. Dalam hal ini, big data dan Internet of Things (IoT) harus menjangkau setiap aspek kehidupan masyarakat, yang akan berubah menjadi kecerdasan buatan. Sehingga untuk memperkuat peran masyarakat dalam menyukseskan transformasi digital tersebut, masyarakat harus mampu memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat menjadi peluang bisnis.

Sehingga untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan peran seluruh pihak baik dari pemerintahan maupun nonpemerintahan, agar mampu menjawab tantangan bangsa dengan memberdayakan seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian society 5.0 akan mendekati kehidupan kita dengan segala kemudahan teknologi, “era milenial ini memaksa kaum yang tidak produktif untuk dapat mengejar kaum yang produktif dalam segala aspek.

Era Society 5.0 menjadi tantangan tersendiri bagi pebisnis milenial Indonesia. Generasi milenial merupakan generasi yang mengagumi Revolusi Industri 4.0, namun cenderung mengabaikan masalah sosial. Dalam era Society 5.0 perlu diarahkan pada peran generasi milenial untuk kemajuan masa depan bangsa Indonesia. Sehingga diperlukan integrasi selain dengan pemerintah sebagai regulator, juga dengan perguruan tinggi, industri, komunitas atau masyarakat dan peran media untuk menyukseskan ini. Sehingga dalam era Society 5.0, salah satu kunci kesuksesan bisnis yang dikelola para milenial di Indonesia adalah jika konsep pentahelix dapat diimplementasikan dengan baik. Sebagaimana kita ketahui konsep pentahelix menekankan bagaimana integrasi dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas atau masyarakat dan media dapat bekerja sama dengan baik. Diharapkan dengan adanya integrasi dan kolaborasi tersebut, para milenial memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai tambah secara konsisten dari inovasi teknologi mulai dari input hingga output. Sehingga inovasi yang dihasilkan dapat menciptakan keunggulan bersaing. Dari semua kelebihan yang ada di dalam era Society 5.0, terdapat tantangan-tantangan yang bisa menjadi ancaman bagi generasi milenial. Tantangan kaum milenial dalam menghadapi era Society 5.0 ini adalah akumulasi data yang melimpah akan membuat kaum milenial menjadi lebih sulit dalam memperoleh data yang akurat. Dalam artian akan sulit mengetahui kebenaran data tersebut sehingga timbul informasi hoaks. 

Dalam kehidupan saat ini, ekonomi merupakan hal yang sangat penting, untuk itu keberadaan Society 5.0 dapat mengintegrasikan antara kehidupan dunia nyata dan dunia maya. Sebenarnya konsep revolusi 4.0 dan Society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Hanya saja konsep Society 5.0 lebih memfokuskan konteks terhadap manusia. Jika Revolusi industry 4.0 menggunakan AI, dan kecerdasan buatan yang merupakan komponen utama dalam membuat perubahan di masa yang akan datang. Sedangkan Society 5.0 menggunakan teknologi modern hanya saja mengandalkan manusia sebagai komponen utamanya. Society 5.0, sebuah masa di mana masyarakat berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial oleh sistem yang mengintegrasikan ruang dunia maya dan ruang fisik. Society 5.0 akan menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan menyelesaikan masalah sosial. Memang terdengar sulit untuk dilakukan mengingat saat ini masalah tersebut masih saja terjadi terutama di Negara berkembang seperti Indonesia. namun bukan berarti tidak bisa di lakukan. Jepang sendiri sudah membuktikan sebagai Negara dengan teknologi paling maju saat ini. Tentunya dengan hal tersebut. Jepang akan terus mengembangkan teknologi hingga konsep Society 5.0 bisa terealisasikan sepenuhnya. Indonesia saat ini masih berfokus kepada Society 4.0, bisa jadi Indonesia terutama kaum milenial masih belum siap menghadapi Society 5.0 yang merupakan masyarakat super pintar.

(rs/aya/per/JPR)

 TOP