alexametrics
Sabtu, 28 Nov 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Melihat Konsep Hajatan Drive Thru yang Diizinkan Digelar di Boyolali

28 Oktober 2020, 23: 46: 47 WIB | editor : Perdana

Hajatan ala drive thru, tamu undangan memberikan selamat kepada pengantin dari dalam mobil.

Hajatan ala drive thru, tamu undangan memberikan selamat kepada pengantin dari dalam mobil. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

Cukup lama warga Kota Susu menunggu perizinan dilangsungkannya hajatan. Penantian itu tak sia-sia. Pemkab Boyolali memberikan izin hajatan di tengah pandemi dengan syarat cukup ketat.

TRI WIDODO, Boyolali, Radar Solo

TENDA hajatan menghiasi halaman Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Boyolali, kemarin (27/10). Namun, tidak tersedia kursi untuk tamu. 

Terlihat, pasangan pengantin dan pihak keluarga berdiri di pelaminan. Mereka seperti tak lelah menebar senyum dan memberikan salam “Namaste” kepada pengendara mobil yang melintas di depan pelaminan.

Lho ada apa? Belakangan diketahui, pengendara mobil tersebut merupakan tamu undangan hajatan pernikahan. Mereka memberi penghormatan kepada pengantin secara drive thru. Makanya, di lokasi tersebut tidak disediakan kursi tamu.

Terus bagaimana cara menyerahkan kado maupun amplop untuk si empu hajat? Di akses yang dilintasi mobil, terdapat beberapa perempuan dengan dandanan adat Jawa dan membawa wadah khusus. Nah, di wadah itulah kado dan amplop dimasukkan.

Itulah gambaran sederhana simulasi pelaksanaan hajatan di masa pandemi. Awal bulan depan, Pemkab Boyolali mengizinkan hajatan dengan mengutamakan protokol kesehatan (prokes).

Selain itu, dalam acara hajatan tak boleh ada acara resepsi maupun standing party. “Jadi sistemnya banyu mili, (tamu) terus berjalan (datang dan pergi),” terang Kepala Kesbangpol Boyolali Suratno.

Guna memudahkan masyarakat memahami regulasi hajatan, pemkab setempat membuat video tutorial. Isinya,  hajatan yang sesuai prokes dan yang melanggar prokes.

Hajatan yang melanggar prokes juga disimulasikan, kemarin. Puluhan tamu undangan asyik berjoget tanpa memerhatikan jaga jarak fisik. Ditambah warga setempat ikut berbaur. Belum lagi antrean foto bersama pengantin tanpa menggunakan masker. 

Pelanggaran prokes ditindaklanjuti dengan pembubaran yang dilakukan tim satgas covid-19 dipimpin camat, kapolsek, dan danramil. Bila tuan rumah tak menggubris, bisa dijerat sanksi pinda dan denda sesuai undang-undang. 

“Ibarat laju kendaraan, biasanya bisa melaju pada gigi 5. Tapi kali ini cukup gigi tiga saja, yang penting (hajatan) jalan,” jelas Suratno.

Ada beberapa syarat yang harus dipatuhi masyarakat dalam menggelar hajatan di masa pandemi. Di antaranya, mengajukan perizinan kepada satuan tugas (Satgas) Covid-19 di tingkat kecamatan.

Setelah dipelajari, tim satgas kecamatan mengecek lokasi untuk hajatan. Dari situ, petugas akan memberi rekomendasi. Mulai dari tata letak, jumlah tamu undangan, dan sebagainya.

Syarat lainnya, tuan rumah dilarang menggelar resepsi. Ijab kabul dilaksanakan sehari sebelum hajatan. Dan hajatan hanya diperbolehkan siang hari. 

Untuk penerapan prokes, tamu yang datang dicek suhu tubuhnya, mencuci tangan menggunakan hand sanitizer yang telah disiapkan, serta mengenakan masker. Tamu memberi ucapan kepada pasangan pengantin dan keluarga dari jarak yang telah ditentukan. Selanjutnya mengambil paket menu makanan yang telah disiapkan untuk dibawa pulang.

“Tamu tidak berhenti di tempat hajatan. Tak ada sesi foto maupun makan di tempat,” jelasnya.

Meskipun tidak ada batasan jumlah tamu, si empu hajat harus mengatur waktu kedatangan tamu. Begitu juga hiburan untuk mengisi hajatan tak dilarang. 

“Baik itu campursari, dangdut atau sebagainya, hanya boleh berada di tempatnya. Sebab biasanya penyanyi campursari itu ke mana-mana menghampiri tamu. Nah nanti tidak boleh. Harus berada ditempatnya,” tegasnya.

Dengan diizinkannya hajatan ini, lanjut kepala kesbangpol, diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Khususnya bagi pegiat seni. (*/wa/ria) 

(rs/wid/per/JPR)

 TOP