alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Embung Pengantin, Diabadikan dari Kisah Pilu Dua Sejoli

01 November 2020, 10: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Embung Pengantin, Diabadikan dari Kisah Pilu Dua Sejoli

Libur panjang tak lengkap rasanya jika hanya bersantai di rumah. Ada satu destinasi wisata menarik yang cukup dekat dengan Kota Solo, yakni Embung Pengantin. Wisatawan bisa naik perahu kayuh hingga bermain ribuan ikan.

EMBUNG Pengantin berada di Dusun Godegan, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Hanya berjarak 5 kilometer sebelah timur Kota Solo. Akses ke lokasi sangat mudah, melintasi jalan Solo-Bekonang.

Embung Pengantin cukup murah dan mempunyai banyak spot foto yang bagus. Tiket masuknya hanya Rp 2.000, pengunjung sudah mendapat bonus pakan ikan satu wadah seukuran gelas air mineral. Pagi dan sore waktu yang tepat untuk berkunjung. Karena panas matahari tak terlalu terik. Memasuki pintu masuk, Kita akan melewati jembatan bambu yang  membentang di atas embung.

Kita bisa memberi makan ikan dari atas jembatan atau ke pingir embung. Ada ikan mas dan nila. Sementara di sebelah utara embung terdapat taman dengan aneka macam bunga. Juga tempat duduk yang teduh untuk menikmati embung ini. Ada dua gazebo mini bertuliskan gubuk asmoro dan gazebo berbentuk segitiga. Pokoknya instagramable banget.

Ada pula pilihan menikmati embung dengan menaiki perahu. Perahu kayuh kecil yang muat untuk empat orang tarifnya Rp 10.000. Sementara perahu yang muat sampai belasan orang tarifnya Rp 5.000. Khusus untuk perahu besar, bisa mengelilingi embung yang luasnya mencapai 1,5 hektare. Menu kuliner yang tersedia mulai dari soto dan nasi pecel dengan harga yang terjangkau. Embung ini baru dibuka Lebaran tahun lalu. Tetapi sudah banyak dikunjungi wisatawan.

Koordinator pengelola, Syadimun mengungkapkan, Embung Pengantin dulunya hanya sawah yang tanahnya dikeruk untuk menguruk pembangunan saluran irigasi Dam Colo. Karena menjadi cekungan, akhirnya terisi air hingga menjadi embung. Sempat dijadikan tempat pemancingan, namun karena tidak terawat, akhirnya jadi kumuh.

”Warga Godean akhirnya berinisiatif mengembangkan embung ini jadi tempat wisata. Awalnya warga di tiga RT gotong royong membersihkan sampah, teratai air sampai enceng gondok selama hampir dua bulanan. Akhirnya jadilah embung ini,” jelas Syadimun.

Nama Embung Pengantin ternyata punya cerita sejarahnya tersendiri. Syadimun menceritakan, pada 1982 silam, ada sepasang pengantin baru yang bermain di embung ini. Namun keduanya meninggal karena tenggelam. Sejak saat itu, embung ini dinamai Embung Pengantin.

”Cerita itu kejadian nyata, bukan mitos,” imbuhnya.

Kini, Embung Pengantin terus dikembangkan. Jumlah wisatawan sudah mencapai ribuan. ”Kalau hari biasa 200 sampai 300 pengunjung. Kalau hari libur terutama Sabtu-Minggu bisa sampai 2.000 pengunjung,” bebernya. (mg10/mg12/adi)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya