alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Nasib Pemain Kian Terjepit: Liga Tak Jelas, Tarkam Sulit Diharapkan

03 November 2020, 12: 29: 53 WIB | editor : Perdana

M. Isa saat membela PS HW Wonorejo melawan Puma Klumprit di Lapangan HW Wonorejo di sebuah ajang tarkam.

M. Isa saat membela PS HW Wonorejo melawan Puma Klumprit di Lapangan HW Wonorejo di sebuah ajang tarkam. (M. ISA FOR RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Ketidakjelasan pelaksanaan Liga 2 2020 yang berujung pada pemulangan kembali para pemain oleh beberapa klub, hanya bisa ditanggapi dengan pasrah. Salah satunya oleh striker Persis Solo M. Isa.

Dia memang mengaku hanya bisa pasrah. “Ya, itu tergantung ke PSSI. Karena belum ada izin surat di kepolisian, ya kami jadi terkatung-katung begini tidak ada kejelasan. Kalau (pemain) diliburkan, ya wajar. Soalnya klub tidak mau ambil risiko lagi.  Daripada lebih merugi,” ujarnya.

Jika di waktu normal, ketika jeda kompetisi biasanya para pemain pro akan unjuk gigi di beberapa ajang turnamen antarkampung (tarkam). Sayang, karena saat ini masih pandemi Covid-19, tarkam pun tak memungkinkan digelar. Alasannya tentu karena antisipasi penyebaran Covid-19, sehingga dilarang membuat kegiatan yang menimbulkan kerumunan.

Walau begitu, Isa sempat ikut sebuah kompetisi tarkam yang memperebutkan Piala DPRD Karanganyar, beberapa bulan lalu. Sejatinya kompetisi ini sempat tertunda dan dihentikan sementara karena pandemi Covid-19. Namun, akhirnya bisa dilanjutkan dan dituntaskan dengan menjalani protokol kesehatan ketat.

“Kemungkinan masih ada sebagian yang mengadakan tarkam juga, tetapi saya ikutnya tarkam di Karanganyar saja kemarin,” terangnya.

Padahal di tahun-tahun sebelumnya, tarkam jadi hal yang ditunggu. Ini lantaran pemain pro bisa mendapat uang tambahan beberapa ratus ribu setiap kali main tarkam. Bahkan sebulan, kadang jadwal tarkam pemain pro bisa cukup padat dari satu lapangan ke lapangan lainnya.

Sebelumnya memang tengah menjamur beberapa laga amal di Karanganyar. Beberapa pemain pro terlihat hadir. Bahkan sosok seperti penggawa Timnas U-18 Bagas Kaffa juga sempat main pada laga amal di Bumi Intan Pari, Juli lalu.

Isa mengakui dari sisi komisi, laga amal dengan tarkam jauh berbeda. Saat tarkam, biasanya yang mengundang adalah orang berduit yang gila bola. “Kadang Pak kades atau pengusaha yang mengundang. Kami dapat komisi saat bergabung dengan timnya. Kalau bisa juara tarkam, nanti bisa dapat bonus tambahan,” terangnya.

“Untuk laga amal, tidak ada uang transportasi sama sekali. Karena niatnya memang hanya untuk cari amal,” sambungnya.

Di lain sisi, tak jelasnya Liga 2 membuat Isa fokus menjalani studinya. Dia tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan Administrasi Negara di Universitas Surakarta (Unsa). “Meski kompetisi berhenti, ini waktu tepat untuk mengurus kuliah. Semoga saja bisa segera menyelesaikan kuliah,” ucap pria asal Polokarto, Sukoharjo tersebut. (ryn/nik/ria)   

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP