alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

90 Persen Berita Hoax Disengaja: Mahasiswa Harus Cerdas Bermedsos

13 November 2020, 16: 17: 55 WIB | editor : Perdana

Forum diskusi publik Peran Mahasiswa dalam Menyukseskan Pemilihan Serentak 2020 yang digelar Kemenkominfo RI.

Forum diskusi publik Peran Mahasiswa dalam Menyukseskan Pemilihan Serentak 2020 yang digelar Kemenkominfo RI. (SEPTINA FADYA/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) mencatat setidaknya sebanyak 40 persen generasi milenial akan berpartisipasi dalam pemilihan serentak pada 9 Desember mendatang. Kuantitas yang cukup banyak tersebut diharapkan diiringi dengan kualitas yang baik. Sehingga mampu menyukseskan pemilihan kepala daerah (pilkada) di 270 kabupaten dan kota di Tanah Air.

"Mahasiswa sebagai pemilih muda adalah opinion leader dalam komunitasnya. Terlebih sebagai masyarakat virtual yang kehidupannya bergantung pada gadget. Mahasiswa harus waspada dengan era post truth. Seolah-olah ada kebenaran dalam dunia virtual. Padahal belum tentu benar," beber Dirjen IKP Kemkominfo RI Widodo Muktiyo dalam Forum Diskusi Publik yang diselenggarakan Kemkominfo RI di Solo Paragon Hotel and Residence, kemarin.

Dalam diskusi bertajuk Peran Mahasiswa dalam Menyukseskan Pemilihan Serentak 2020 yang diikuti 56 mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Bengawan dan 100 lebih dari peserta daring via zoom, Widodo menyebut penting bagi mahasiswa untuk memiliki kecerdasan bermedia sosial. Mahasiswa harus mengakses informasi dengan sehat dan mengkritisinya. Sebab, di era post truth, sering kali pengguna media sosial dikecohkan dengan narasi dan gambar yang seolah-olah benar.

"Di dunia virtual, tidak ada dewan redaksi. Maka, kontrol kebenaran menjadi tugas individual pengguna media sosial. Untuk menyeleksi informasi hoax, kita harus merespons dan mencerna semua berita dengan kepala dingin," sambungnya.

Widodo mengklaim, sebanyak 90 persen berita hoax yang tersebar di masyarakat ada unsur kesengajaan. Artinya, siapapun yang menyebarkan berita hoax tersebut bertujuan untuk menghasut. Dalam kondisi inilah, peran mahasiswa dibutuhkan untuk mengkritisi berita-berita hoax tersebut.

"Generasi milenial itu tidak suka politik. Tapi mahasiswa diharapkan memiliki kepedulian terhadap politik saat ini. Nah, mahasiswa banyak menerima informasi dari media sosial. Maka, mahasiswa diharapkan punya netralitas dan integritas yang tinggi dalam pemilihan serentak ini. Punya independensi, komitmen, dan loyalitas berjuang untuk rakyat. Mahasiswa harus mengawal demokrasi untuk menentukan masa depan bangsa," imbuh Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Jamal Wiwoho.

Senada disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Sofyan Anif. Bahwa mahasiswa memiliki karakter potensial sebagai agent of change. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini muncul shock social dan terjadi banyak perubahan di semua sektor kehidupan.

"Kecenderungannya dengan adanya pandemi ini bisa saja yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS) itu berkurang persentasinya. Inilah agen perubahan bertugas. Mahasiswa harus mampu memberikan edukasi dan penjelasan bahwa seluruh warga negara Indonesia berkewajiban menyukseskan pemilu," pungkasnya. (aya/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP