alexametrics
Jumat, 27 Nov 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Pipanisasi Air Cokro Tulung Zaman Kolonial

Hanya Dinikmati Kaum Ningrat 

15 November 2020, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

KEBUTUHAN UTAMA: Jaringan pipa air bersih yang dibangun pada zaman Belanda. Menghubungkan sumber mata air Cokro Tulung, Klaten ke Kota Solo. 

KEBUTUHAN UTAMA: Jaringan pipa air bersih yang dibangun pada zaman Belanda. Menghubungkan sumber mata air Cokro Tulung, Klaten ke Kota Solo. 

Share this      

Pembuatan jaringan pipa dari Cokro Tulung ke Kota Solo membawa perubahan fundamental pada pembangunan Kota Bengawan di zaman Belanda. Meskipun yang menikmati air bersih dari jaringan pipa tersebut hanya kalangan bangsawan dan kaum elit kolonial.

SEJARAWAN Universitas Sebelas Maret (UNS) Susanto menyebut, pembuatan jaringan pipa air bersih sejak 1925 dan mulai digunakan pada 1928 merupakan simbol perubahan pola hidup masyarakat Kota Solo. 

“Jaringan air bersih dari Klaten ke Solo dikerjakan saat J.H. Niuenhuizen menjabat Residen Surakarta pada 1924-1927,” ujarnya.

Meski dieksekusi tahun itu, ide menyambungkan pipa menjadi satu kesatuan telah muncul beberapa tahun sebelumnya. Dimulai ketika kunjungan Alexander Willem Frederik Idenburg pada 1915. Kala itu Idenburg menjabat gubernur jenderal Hindia-Belanda (18 Desember 1909-21 Maret 1916.

Idenburg kerap menginspeksi perkampungan. Melihat tata kehidupan masyarakat belum baik, si gubernur jenderal menyuarakan perbaikan kepada direktur pekerjaan umum. 

Mulailah dilakukan pembenahan. Rumah warga yang kurang layak disemen. Rangka bangunan diganti kayu yang lebih baik. Termasuk penggantian atap yang sebelumnya dari daun diganti genting.

Berlanjut pembuatan irigasi untuk mengairi lahan dan persawahan masyarakat. Banyak tanah pribumi yang disewa Belanda untuk dijadikan usaha dalam bidang pertanian. Adanya sistem pangairan tersebut, industri perkebunan dan ekonomi masyarakat tumbuh pesat.

“Kota Solo mengalami perubahan pesat, dari desa menjadi kota besar. Tumbuh usaha-usaha milik Tionghoa, industri hotel dan hiburan. Solo menjadi jujukan migrasi perempuan Belanda,” terang dia.

Meskipun kota menjadi gemerlap, di daerah pinggiran masih banyak warga miskin hidup kurang layak. Masyarakat kelas bawah tidak memiliki sanitasi yang baik. Aktivitas mandi, buang air, dan mencuci dilakukan di sungai setempat.

Kebutuhan konsumsi air minum dipenuhi dengan membuat sumur. Seiring berjalannya waktu, kualitas air tanah menjadi buruk. Mereka yang mengonsumsinya rawan terkena penyakit. Tak heran di masa itu warga Kota Bengawan dihantui dua pagebluk, yakni wabah PES di 1915 dan flu pada 1918.

Maka sejak ditempatkannya Niuenhuizen sebagai Residen Surakarta pada 1924-1927, pemerintah mulai fokus pada pengerjaan jaringan pipa air bersih Cokro Tulung, Klaten ke Kota Solo.

“Niuenhuizen sudah memikirkan masalah ini sejak masih menjabat kontrolir Wonogiri pada 1909-1911,” terang Susanto. 

Pembuatan jaringan pipa dimulai 1925-1928. Pada 1928, warga Kota Solo mulai bisa menikmati mata air Cokro Tulung, Klaten. Hanya saja masih terbatas untuk kaum elit dan bangsawan, sedangkan masyarakat kelas bawah masih bertahan dengan konsumsi air tanah dari sumur.

Fasilitas layanan air bersih itu, lanjut Susanto, membuat pertumbuhan Kota Solo kian maju. Usaha dan bisnis warga menjamur. Tingkat kesehatan dan pola hidup masyarakat makin baik.

“Sebagai contoh pembangunan Ponten Ngebrusan oleh Mangkunegara VII pada 1937. Ini dibuat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat kecil karena sudah disediakan sanitasi,” pungkasnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya