alexametrics
Jumat, 04 Dec 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features
Pipanisasi Air Cokro Tulung Zaman Kolonial

Perbaikan Pipa Butuh Rp 10 Miliar per Kilometer

15 November 2020, 09: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Perbaikan Pipa Butuh Rp 10 Miliar per Kilometer

JARINGAN pipa air bersih dari Cokro Tulung, Klaten ke Kota Solo sudah berumur lebih dari 90 tahun. Namun, untuk memerbaikinya butuh anggaran besar. Karena itu, perbaikan kebocoran pipa dilakukan dengan tambal sulam.

Direktur Utama PDAM Kota Surakarta Agustan mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan pasokan air bersih dari Cokro Tulung menurun. Di antaranya pertambahan jumlah penduduk dan pelanggan PDAM. Akhirnya, air dari Cokro Tulung hanya bisa meng-cover separo wilayah Kota Solo.

“Tekanan air terutama pada wilayah utara tidak terdistribusi dengan baik. Distribusi air bersih yang harusnya beroperasi 24 jam per hari. Tapi saat ini baru 20-22 jam per hari. Artinya, ada waktu tertentu air tidak bisa mengalir. Ini jadi PR (pekerjaan rumah) bersama yang terus dievaluasi. Tinggal di wilayah utara itu (PR-nya), wilayah tengah dan selatan tidak masalah,” jelas Agustan.

Faktor lainnya, kualitas jaringan pipa transmisi sepanjang sekitar 30 kilometer sudah dimanfaatkan sejak 1928. Tentu tidak sedikit kerusakan. Potensi kebocoran air hingga 37 persen dan hanya dilakukan perbaikan secara tambal sulam. Mengingat perbaikan total butuh biaya besar.

“Anggaran penggantian pipa sekitar Rp 10 miliar hanya untuk satu kilometer. Kalau mau digati seluruhnya, ya tinggal dikalikan saja (30 kilometer),” terang dia.

Untuk sementara ini, baru jaringan pipa sepanjang satu kilometer yang sudah dilakukan penggantian awal 2020 karena sifatnya mendesak. Mengingat pipa transmisi terdampak proyek Flyover Purwosari.

Ketika terjadi kebocoran pipa, dilakukan penambalan secara terpisah. Pada era 1980, penambalan dengan cara pakal, yaitu menancapkan potongan kayu jati pada lubang. Memasuki era 2000, sudah menggunakan klem, yakni memasang pelat besi tambahan. 

Solusi lainnya, PDAM Surakarta akan membangun reservoir di sejumlah titik. Yang paling dekat adalah reservoir Kleco. Detail engineering design (DED) telah tersedia dengan anggaran Rp 15 miliar, masa pengerjaan sekitar 3 bulan. 

Reservoir ini berfungsi seperti tandon air. Jadi air dari Cokro Tulung terlebih dahulu masuk ke reservoir sebelum didistribusikan ke pelanggan. Ini sangat berguna mengurangi kehilangan air, menyimpan cadangan air, dan mendistribusikannya dengan kualitas lebih baik.

“Reservoir di Kleco ini untuk wilayah tengah. Kami lengkapi dengan reservoir serupa di Kartasura dan Jebres. Di wilayah selatan, kami bangun di Semanggi dan Pajang. Dengan begitu, kemampuan sumber air Cokro Tulung yang saat ini baru bisa meng-cover separo Kota Solo, bisa memenuhi wilayah selatan dan tengah Kota Solo,” urainya.

Bagaimana dengan wilayah utara Kota Solo? Agustan menyebut disuplai dari Waduk Gajah Mungkur seperti yang telah direncanakan pada 2020. Hanya saja penerapannya mundur pada 2024. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP