alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Ini Aturan Baru Acara Hajatan Pernikahan di Solo, Tanpa Tempat Duduk

16 November 2020, 07: 06: 13 WIB | editor : Perdana

Simulasi acara pernikahan di masa pandemi di salah satu hotel, beberapa waktu lalu.

Simulasi acara pernikahan di masa pandemi di salah satu hotel, beberapa waktu lalu. (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

SOLO – Kasus Covid-19 di Kota Solo kembali meledak. Minggu kemarin (15/11), ada tambahan 100 lebih kasus baru. Guna menekan kasus agar tidak semakin meluas, pemkot kembali memperketat aturan melalui surat edaran, salah satunya terkait penyelenggaraan hajatan di tengah pandemi.

Dalam surat edaran itu, acara hajatan pernikahan hanya boleh digelar dengan konsep standing party atau tanpa tempat duduk. Hidangan harus dikemas dan wajib dibawa pulang.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surakarta Ahyani mengatakan, surat edaran itu dibuat sebagai bentuk evaluasi akan perkembangan Covid-19 di Kota Solo. Mengingat penambahan kasus baru sangat signifikan dalam beberapa pekan terakhir, pemkot memutuskan mengeluarkan surat edaran tersebut. 

“Belakangan ini kasusnya naik pesat, ini perlu jadi perhatian bersama. Bukan hanya pemerintah namun juga untuk warga,” kata dia.

Dalam Surat Edaran Walikota Surakarta Nomor 067/2739.1 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kota Surakarta, perubahan paling kentara ada pada bagian pelonggaran kegiatan di sejumlah ruang publik. Khususnya dalam hal penyelenggaraan hajatan pernikahan. 

“Sejauh ini kepatuhan masyarakat akan penyelenggaraan pernikahan sudah baik. Tapi karena kasus terus bertambah, aturannya harus lebih diperketat,” jelas Ahyani.

Perubahan aturan itu terdapat pada nomor 5 bagian poin e. Dalam SE itu dituliskan, pelaksanaan resepsi pernikahan menerapkan model standing party atau tidak menyediakan meja dan kursi untuk tamu. Sementara untuk hidangan dikemas dan dibawa pulang. 

“Jadi tidak perlu menyajikan hidangan secara piring terbang atau prasmanan. Hidangannya diganti parselan saja, biar dibawa pulang agar lebih simpel,” terang dia.

Mengenai aturan lainnya masih sama dengan aturan sebelumnya. Misalnya kapasitas hanya 50 persen dari kapasitas maksimal, durasi kegiatan dibatasi maksimal dua jam untuk acara yang melibatkan banyak orang. 

“Kami upayakan agar kerumunan dalam hajatan bisa dikurangi. Kalau mau mengundang orang saat ijabnya saja. Itupun hanya beberapa orang saja yang boleh hadir. Penularan makin tinggi, warga harus lebih peduli, khususnya yang mau punya hajatan,” tutur dia. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surakarta Siti Wahyuningsih membenarkan bahwa terjadi lonjakan 106 kasus pada Minggu (15/11). Rinciannya 19 orang merupakan suspek naik kelas, enam orang dari hasil tes mandiri, dan 81 lainnya dari hasil tracing yang dilakukan dalam beberapa waktu terakhir.

“Paling tinggi dari yang pernah ditemukan di Solo. Ini perpanjangan dari 34 indeks kasus,” jelas dia Minggu (15/11) malam.

Mayoritas pasien baru itu datang dari klaster keluarga yang muncul sebelumnya, yang kemudian berbuntut dan menulari sejumlah orang lainnya. Dinkes segera melakukan tracing dengan jangkauan lebih luas. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP