alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radarsolo
Home > Boyolali
icon featured
Boyolali

Boyolali Zona Merah Lagi, Tetap Boleh Gelar Hajatan: Konsep Banyu Mili

16 November 2020, 08: 46: 31 WIB | editor : Perdana

Konsep hajatan dengan protokol kesehatan di Boyolali.

Konsep hajatan dengan protokol kesehatan di Boyolali. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Boyolali kembali masuk zona merah atau risiko tinggi penyebaran Covid-19. Setelah kasus konfirmasi positif Covid-19 meningkat tajam selama sepekan kemarin. Kendati demikian, tak memengaruhi surat edaran (SE) digelarnya lagi hajatan di Kota Susu.

Surat edaran (SE) hajatan dikeluarkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Boyolali. Meski zona merah, hajatan diperbolehkan. Karena masyarakat sudah diberi petunjuk teknis pelaksanaan hajatan melalui video simulasi dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Kepala Kesatuan Bangsa dan politik (Kesbangpol) Boyolali Suratno menjelaskan, aturan hajatan di tengah Pendemi Covid-19 sudah jelas. Mulai dari persiapan hingga hari-H.

“SE itu mengatur aktivitas hajatan lebih detail. Sebagai tindak lanjut peraturan bupati (perbup). Jadi tidak ada masalah (meski zona merah atau resiko tinggi, Red),” terangnya.

Menurutnya, jika masyarakat menggelar hajatan sesuai SE tersebut, diklaim bakal meminimalkan risiko penyebaran Covid-19. Sebab, dalam SE tersebut dilengkapi video simulasi penerapan prokes.

“Hajatan yang diperbolehkan hanya sistem banyu mili. Tidak ada resepsi, standing party, atau kegiatan kerumunan lainnya. Hiburan silakan disediakan. Tapi tidak boleh ada tamu yang joget-joget,” ujarnya.

Aturan lainnya, bagi tetangga atau kerabat pemilik hajatan yang membantu memasak hidangan, diperbolehkan. Dengan catatan ada pembatasan jumlah. Khusus bagi warga atau kerabat yang benar-benar ahli memasak.

“Sehingga meski ada kegiatan di tenagh masyarakat, protokol kesehatan tetap terpenuhi. Intinya, semua tetap jalan. Ekonomi jalan, pencegahan penularan Covid-19 juga jalan,” bebernya.

Sementara itu, data Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, periode 8-13 Desember, terjadi penambahan 163 kasus baru. Rinciannya, 8 November terdapat tambahan 45 kasus baru. Disusul 10 kasus baru pada 9 November, 15 kasus pada 10 November, 14 kasus pada 11 November, 60 kasus pada 12 November, dan 19 kasus pada 13 November.

Penambahan kasus ini membuat status Kota Susu meningkat. Dari sebelumnya zona oranye jadi merah. Indikatornya dari skor indeks kesehatan masyarakat yang melonjak jadi 1,45.

“Di Boyolali, selain jumlah kasus positifnya bertambah banyak, kasus kematiannya juga meningkat,” kata Kepala Dinkes Boyolali Ratri S. Survivalina.

Tambahan 163 kasus baru itu tersebar di 17 kecamatan. Tertinggi dari Kecamatan Cepogo. Mencapai 30 kasus. “Sebagian besar disumbangkan klaster takziah di Desa Paras, Kecamatan Cepogo,” papar wanita yang akrab disapa Lina tersebut.

Menurut Lina, di Kota Susu terdapat 22 klaster aktif. Mayoritas klaster keluarga. Bahkan, ada dua klaster keluarga yang menyumbang kasus cukup besar. Yakni pasien JSO dari Desa Jeron, Kecamatan Nogosari yang menularkan 14 kasus. Serta pasien SRS, juga dari Desa Jeron sebanyak 15 kasus.

Selain itu, muncul sejumlah klaster baru. Yakni klaster takziah di Desa Paras, Kecamatan Cepogo. Menularkan 34 kasus. Tiga orang di antaranya dinyatakan sembuh.

“Ada pula klaster rekreasi dari Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo dengan total 10 kasus. Jadi, ada kegiatan rekreasi yang dilaksanakan rombongan. Akhirnya menularkan Covid-19,” paparnya.

Secara kumulatif, kasus positif Covid-19 di Boyolali mencapai 1.409 orang. Dari jumlah tersebut, 1.043 orang sembuh, 114 orang dirawat, 193 orang isolasi mandiri, dan 59 orang meninggal dunia. (wid/fer/ria) 

(rs/wid/per/JPR)

 TOP