alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radarsolo
Home > Boyolali
icon featured
Boyolali

Anak-Anak di Lereng Merapi Tetap Belajar Tatap Muka, Prokes Ketat

18 November 2020, 08: 41: 16 WIB | editor : Perdana

Siswa di SDN 2 Tlogolele, Kecamatan Selo, yang berada di lereng Merapi menggelar kegiatan belajar tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan sejak Senin lalu.

Siswa di SDN 2 Tlogolele, Kecamatan Selo, yang berada di lereng Merapi menggelar kegiatan belajar tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan sejak Senin lalu. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali masuk kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi. Seluruh warga di empat dusun di Tlogolele bahkan sudah diungsikan. Terutama warga yang masuk kategori rentan seperti anak-anak, ibu hamil (bumil), dan lanjut usia (lansia). Mereka menempati tempat penampungan pengungsian sementara (TPPS) di balai desa setempat.

Kendati demikian, kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi pengungsi anak-anak terus berjalan, dengan kombinasi daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan). Termasuk di SDN 2 Tlogolele. Sebagian siswa di sana sudah menjalani pembelajaran tatap muka (PTM) sejak Senin (16/11).

Kebijakan PTM ini dilakukan SDN 2 Tlogolele bukan tanpa alasan. Mengingat pembelajaran jarak jauh (PJJ) sistem online yang diterapkan sejak awal pandemi Covid-19 kurang berjalan maksimal. Sebab, mayoritas siswa tidak bisa mengakses PJJ. Terganjal akses internet dan ketersediaan fasilitas penunjang berupa handphone (HP).

“Kami menyadari (Boyolali) sekarang masih zona merah (Covid-19). Kami belum berani melakukan (pembelajaran) tatap muka. Terkait siswa yang datang ke sekolah, sebatas sosialisasi penerapan protokol kesehatan (prokes) pencegahan penyebaran Covid-19,” kata Kepala SDN 2 Tlogolele Sri Sukarni saat dijumpai Jawa Pos Radar Solo di sekolah setempat, kemarin (17/11).

Pantauan Jawa Pos Radar Solo di SDN 2 Tlogolele, kemarin, penerapan prokes sudah berjalan baik. Sebelum masuk lingkungan sekolah, siswa dicek suhu tubuhnya. Kemudian wajib cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir di wastafel yang tersedia di sejumlah titik. Selain itu, siswa wajib mengenakan masker dan face shield. Serta menjaga jarak selama berada di lingkungan sekolah.

“Seluruh siswa mulai dari kelas I-VI kami arahkan masuk sekolah. Tiap hari kami batasi dua kelas. Per kelas maksimal hanya lima siswa saja yang masuk. Durasi masuk sekolah hanya 1 jam. Mulai pukul 07.00-08.00,” imbuh Sri Sukarni.

Selama sosialisasi, pihak sekolah juga memberikan tugas kepada siswa. Tugas tersebut dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Selain itu, PJJ daring tetap dilakukan. “Kami juga sudah melakukan home visit. Guru mendatangi rumah siswa. Home visit dikelompokkan per dusun,” terangnya.

Diakui Sri Sukarni, ada sejumlah siswa yang terpaksa tidak bisa mengikuti PTM. Terutama siswa yang mengungsi di TPPS Desa Tlogolele. Terkait ini, pihak sekolah memberi kelonggaran. “Bagi siswa yang mengungsi, ya tidak masalah tidak ikut sosialisasi di sekolah,” bebernya. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali Darmanto mengatakan, sebagian sekolah belum bisa melaksanakan pembelajaran secara online. Ada beberapa faktor utama yang menjadikan pembelajaran secara online ini tak bisa berjalan. Yakni masalah ekonomis dan teknis. “Untuk itu, sekolah melaksanakan kearifan lokal karena siswa harus tetap belajar,” ujarnya. 

Darmanto menyebut masalah ekonomi menjadi faktor penting bagi siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar secara online. Sebab, tak seluruh siswa memiliki smartphone untuk media pembelajaran. Kemudian masalah paket data internet juga menjadi penentu pelaksanaan pembelajaran secara online ini. 

“Tidak semua orang tua memiliki atau menguasi metodologi pembelajaran,” ujarnya.  (mg20/mg21/wid/bun/ria)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP