alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Pemerintah Siapkan Sekolah Darurat untuk Anak-Anak Pengungsi Merapi

19 November 2020, 07: 27: 20 WIB | editor : Perdana

Dirjen PAUD- Dikdasmen Kemendikbud Jumeri meninjau kegiatan belajar mengajar di Kelas IV SD N 1 Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, kemarin (18/11).

Dirjen PAUD- Dikdasmen Kemendikbud Jumeri meninjau kegiatan belajar mengajar di Kelas IV SD N 1 Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, kemarin (18/11). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI meminta siswa dan guru mengintensifkan latihan tanggap bencana erupsi Merapi. Hal itu dilakukan guna meningkatkan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah karena erupsi Merapi tidak dapat diprediksi. Selain itu, tenda untuk sekolah darurat bakal disiapkan untuk memfasilitasi belajar anak-anak di barak pengungsian. 

“Kedatangan kami ke sini untuk melihat situasi di lapangan. Termasuk mendiskusikan hal-hal apa yang bisa kami lakukan. Salah satunya membagikan 300 paket school kit yang berisikan seragam, tas, sepatu, dan alat tulis,” jelas Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD- Dikdasmen) Jumeri di sela-sela kunjungannya di SDN 1 Balerante, Kemalang, Rabu (18/11).

Jumeri menjelaskan, dengan pemberian school kit itu siswa bisa membawanya sewaktu-waktu bila terjadi erupsi Merapi. Dia ingin memastikan hak-hak belajar anak di tengah ancaman bencana erupsi Merapi tetapi terpenuhi. Ke depan pemberian bantuan menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

Kemendikbud juga menyiapkan tenda darurat yang bisa digunakan anak-anak sebagai tempat belajar selama di barak pengungsian nanti. Tenda itu disediakan baik dari pusat, Pemprov Jawa Tengah, dan Pemkab Klaten. Diharapkan tenda yang disediakan itu bisa memenuhi kebutuhan untuk kegiatan belajar dan mengajar selama tanggap darurat.

“Saya kira guru-guru sudah cukup paham. Hanya saja, perlu dilatih terkait feeling anak-anak terkait tanggap bencana ini. Bagaimana mereka harus lari ke lokasi yang aman. Ini yang perlu dilatih di tengah situasi tanggap bencana. Saya kira itu penting,” jelas Jumeri.

SDN 1 Balerante yang memiliki 67 siswa menjadi salah satu sekolah di lereng Merapi yang masih melaksanakan tatap muka terbatas. Terutama untuk kelas IV, V, dan VI yang jam masuknya telah dijadwalkan. Sedangkan untuk kelas I, II, dan III masih melaksanakan pembelajaran secara daring.

“Untuk anak-anak sendiri sudah siap untuk menghadapi erupsi di tengah pembelajaran nantinya. Apalagi yang masuk sekolah secara tatap muka terbatas hanya kelas atas saja yakni IV, V, dan VI. Sedangkan 17 siswa kami dari Dusun Ngipiksari dan Gondang sudah berada di pengungsian karena domisilinya ada di KRB III,” jelas Kepala Sekolah SD N 1 Balerante Jeminah.

Dia mengungkapkan, untuk siswa yang berada di barak pengungsian tetap dilakukan pendampingan untuk pembelajarannya. Yakni dengan menyiagakan dua guru setiap harinya untuk mengajar siswa SDN 1 Balerante yang sudah mengungsi tersebut. Pendampingan itu sudah dilakukan selama tiga hari ini.

“Tidak ada kendala yang berarti. Siswa tetap merasa senang karena pembelajaran yang kami berikan dengan hal menyenangkan. Kami tetap semangat dalam memberikan pendampingan,” Jeminah.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten Wardani Sugiyanto menjelaskan, dalam menghadapi bahaya erupsi Merapi kali ini, pemkab sudah menyiapkan satgas yang dinamakan Sahabat Merapi. Beranggotakan 40 orang yang berasal dari para guru di Kecamatan Kemalang.

“Mereka memiliki tugas untuk menjamin keberlangsungan pembelajaran kalau nanti ada erupsi. Terutama yang berada di tiga desa yang masuk ke KRB III yakni Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo,” jelasnya. (ren/bun/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP