alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Jateng
icon featured
Jateng

UKM Virtual Expo II, Hadirkan Ribuan Produk Fashion Jateng

19 November 2020, 16: 45: 10 WIB | editor : Perdana

Siti Atikoh Ganjar Pranowo dan desainer kondang Anne Avantie membuka gelaran  UKM Virtual Expo II.

Siti Atikoh Ganjar Pranowo dan desainer kondang Anne Avantie membuka gelaran UKM Virtual Expo II.

Share this      

SEMARANG – UKM Virtual Expo (UVO) II dihelat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sebanyak 2.595 produk UMKM fashion meramaikan event yag digelar mulai Kamis-Jumat (19-20/11) itu.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng Siti Atikoh Ganjar Pranowo didamping perancang busana kondang nasional Anne Avantie membuka gelaran bergengsi tersebut secara virtual. Dengan  spirit “Yes U Can! Ojo Sambat Ojo Kendo”,  masyarakat bisa mulai berbelanja produk-produk UMKM dalam negeri melalui www.ukmvirtualexpo.com. Masyarakat pun bisa leluasa memilih produk karena terdapat ratusan toko online fashion yang memajang produk UMKM se-Jawa Tengah.

Siti Atikoh yang hadir di kantor Diskop UMKM Jateng mengapresiasi acara UVO II. Atikoh menuturkan, UMKM sektor fashion mulai menggeliat. Menurutnya, yang sekarang perlu dilakukan UMKM adalah menyiasati peluang pasar. Yang mana, itu berbeda kondisinya dibanding sebelum pandemi. 

Seperti yang dilakukan Anne Avantie. Sebelumnya, desainer yang kondang dengan karya-karya kebanyanya itu banyak membuat produk UMKM kelas premium. Namun, ekarang harus memikirkan pula produk pakaian kasual dan nyaman dipakai. Ini sebagai bentuk pemenuhan masyarakat yang banyak beraktivitas di rumah. Sebab, mereka tetap beraktivitas, namun melalui daring. “UMKM harus bisa mensiasati itu,” kata dia.

Ketua TP PKK Jateng ini menuturkan, sekarang sudah saatnya pelaku UMKM  beralih memasarkan produknya dengan memanfaatkan teknologi informasi. Baik itu promosi sampai peragaan busana. 

Oleh karena itu, pelaku UMKM dituntut harus bisa menguasai teknologi. Tentu dengan cara memanfaatkan pemasaran secara digitalisasi. Seperti dari sisi teknik pengambilan foto produk biar menarik, menangkap peluang marketplace, dan bekerja sama dengan platform pemasaran digital.

“Mau tidak mau, suka tidak suka, UMKM ayo belajar bersama-sama untuk bisa menguasai teknologi. Sehingga bisa meraih pangsa pasar,” sambung Atikoh.

Dia menilai pasar digital memiliki potensi luar biasa ke depannya. Dengan menguasai teknologi pada penjualannya, sama saja bisa memasarkan produknya di pasar tanpa batas.

“Banyak yang melihat. Tidak hanya warga lokal, tapi secara global. “Jadi transaksi bisa secara dunia,” imbuh dia.

Pemerintah provinsi juga selalu mendorong pelaku UMKM. Seperti dengan memberikan pelatihan pemasaran secara online, membantu memetakan produk yang dibutuhkan sampai melakukan pelatihan administrasi keuangan.

“Ada yang secara offline atau online. Juga didampingi sampai eksekusinya. Seperti kita mencoba Rembang ya akan menjadi klaster untuk fashion karena Rembang punya potensi luar biasa,” bebernya.

Dia menuturkan Rembang memiliki potensi luar biasa seperti batik Lasemnya yang luar biasa. Harapannya itu akan menjadi tren di Jawa Tengah hingga nasional. 

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Jawa Tengah Ema Rachmawati mengatakan, UVO II kali ini mengkhususkan pada produk fashion dengan spirit Yes U Can! Ojo Sambat Ojo Kendo. 

Anda semua bisa, tidak boleh mengeluh dan jangan mengendorkan semangat untuk terus berjualan,” kata dia.

Dalam gelaran UVO II, pihaknya ingin mengenalkan produk fashion Jawa Tengah yang sangat beragam. Tidak hanya Pekalongan, Semarang, maupun Solo. Sebab, banyak potensi kota lain bermunculan. 

Target selanjutnya adalah mendorong kabupaten dan kota yang memiliki kain agar membuat produk baju. Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar semua daerah membangun fashion Jawa Tengah dengan kain mereka semua. 

“Batik, lurik dan tenun. Itu yang ingin kita bangun adalah mendorong teman-teman kabupaten kota. Hari ini, total ada sekitar 110 UMKM fashion dengan produknya mencapai 2.595 yang tampil di UVO 2. Seperti daster, topi, dan lainnya. Daster itu omzetnya naik 300 persen,” papar Ema.

Sementara itu, Anne Avantie menekankan pentingnya berbagi kisah sukses (true story) dan teori. Jadi tidak melulu dengan produk. “Orang sekarang lebih mendengar true story dibanding teori. Mungkin saya adalah tokoh true story,” kata Anne.

Dia mengatakan, kekuatan UMKM bukan hanya pada produk, tapi juga kepopuleran personal branding seperti dirinya. Sebab, dirinya memang memiliki keinginan untuk menjadi pribadi yang populer. Sehingga saat popularitas sudah digenggam, maka dia yakin, orang-orang akan lebih mendengar, dan melihat lebih dalam personalnya dan juga produk.

“Popularitas itu seperti bensin. Naik mobil lebih cepat sampai dibanding yang lain,” ujarnya yang juga warga Kota Semarang ini.

Oleh karena itu, dia bersama jajaran pemerintah Jateng berharap pelaku UMKM Jawa Tengah mengubah sudut pandang bahwa produk saja tidak cukup. Tapi juga ada kerja keras, kerja cerdas, dan juga kerja cermat.

“Di sinilah letaknya bahwa UMKM harus sadar bahwa dirinya adalah sebuah energi yang akan mendorong produknya untuk laku. Maka, jangan takut ketika kamu harus di depan sendiri,” harapnya.

Hal itu akan dibagikannya kepada pelaku UMKM di Jawa Tengah agar nantinya muncul seseorang yang menjadi tokoh UMKM. Yang ketokohannya tetap memberikan hal positif. “Tetap harus popular, harus mengejar popularitas dalam standar positif,” pungkasnya. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP