alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Menakar Kesiapan Akuntan Hadapi Era Society 5.0

20 November 2020, 14: 55: 39 WIB | editor : Perdana

Menakar Kesiapan Akuntan Hadapi Era Society 5.0

Oleh : Suyatmin Waskito Adi,  Kabag ACEC-UMS Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS

PERKEMBANGAN teknologi informasi telah membawa dampak luas di belahan bumi mana pun, perkembangan terbaru yang marak diperbincangkan saat ini munculnya Era Society 5.0 sebagai langkah lanjutan setelah Era Revolusi Industri 4.0.

Kemajuan ilmu dan teknologi informasi telah banyak mengubah cara pandang dan gaya hidup masyarakat dalam menjalankan aktivitas dan kegiatannya. Keberadaan dan peranan teknologi informasi dalam sistem informasi akuntansi telah membawa era baru perkembangan dunia ekonomi, tetapi perkembangan tersebut belum diimbangi dengan peningkatan sumber daya manusia yang menentukan keberhasilan dunia ekonomi di Indonesia pada umumnya.

Era Society 5.0 sudah diperkenalkan Pemerintahan Jepang sejak 2019 dan baru diresmikan pada 21 Januari 2019 yang dibuat sebagai solusi atas Era Revolusi Industri 4.0 yang ditakutkan akan mendegradasi umat manusia.

Era Society 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based). Era Society 5.0 yang sebenarnya juga tidak lepas dari perkembangan teknologi, akan tetapi dalam revolusi ini lebih mengarah pada tatanan kehidupan bermasyarakat, di mana setiap tantangan yang ada dapat diselesaikan melalui perpaduan inovasi dari berbagai unsur yang terdapat pada Era Revolusi Industri 4.0.

Segala hal menjadi tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited), karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin.

Konsep revolusi industri 4.0 dan society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan (artificial intellegent) sedangkan society 5.0 memfokuskan kepada komponen manusianya. Konsep society 5.0 ini, menjadi inovasi baru dari society 1.0 sampai society 4.0 dalam sejarah peradaban manusia.

Society 4.0 memungkinkan kita untuk mengakses juga membagikan informasi di internet. Society 5.0 adalah era di mana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan.

Society 5.0 menawarkan masyarakat yang berpusat pada manusia yang membuat seimbang antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat menghubungkan melalui dunia maya dan dunia nyata. Jika Revolusi Industri 4.0 menggunakan AI, dan kecerdasan buatan yang merupakan komponen utama dalam membuat perubahan di masa yang akan datang. Sedangkan Society 5.0 menggunakan teknologi modern hanya saja mengandalkan manusia sebagai komponen utamanya.

Akuntan publik merupakan profesi yang memberikan pelayanan bagi masyarakat umum khususnya di bidang audit yang disediakan bagi pemakai laporan keuangan. Akuntan publik dituntut dapat memberikan opini audit yang berkualitas bagi klien. 

Untuk meningkatkan kualitas yang baik maka auditor harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan independensi, etika profesi dan kepuasan kerja auditor. Akuntan merupakan sebuah profesi yang berkembang dari abad ke-abad dan telah mengalami pasang surut dalam mempertahankan eksistensinya.

Teknologi informasi digunakan oleh para profesi akuntan untuk mekanisasi tugas-tugas departemen akuntansi, seperti pelaporan dan pengumpulan data. Profesi akuntan harus dapat memanfaatkan dan mengembangkan teknologi informasi kedalam cara yang dapat memberi nilai tambah kepada profesinya.

Hal ini mengisyaratkan bahwa profesi akuntan harus peduli dengan perkembangan terakhir dalam teknologi dan mampu mengadopsi teknologi tersebut untuk meningkatkan kinerja secara keseluruhan.

Menurut Kepala Pusat Pembinaan Profesi Keuangan Sekretariat Jendral Kementerian Keuangan, bahwa kemungkinan profesi akuntan tergantikan oleh robot adalah 95 persen. Besaran persentase tersebut dikarenakan perkembangan robotics and data analytics (big data) yang mengambil alih pekerjaan dasar yang dilakukan oleh akuntan (mencatat transaksi, mengolah transaksi, memilah transaksi).

Dampak dari revolusi industri yaitu menimbulkan banyak anggapan bahwa profesi akuntan akan tergantikan dengan adanya big data dan cloud computing. Anggapan yang seringkali terbesit yakni sebagian  besar tugas akuntan sudah tergantikan oleh kecanggihan teknologi maka tidak perlu merekrut terlalu banyak akuntan.

Namun juga ada yang beranggapan bahwa adanya big data dan cloud computing justru memudahkan pekerjaan para akuntan. Karena dengan adanya big data dan cloud computing membuat akuntan untuk berinovasi guna menghadapi perkembangan jaman, dan meningkatkan efesiensi.

Maka bagi seorang akuntan dengan ada revolusi tersebut mejadikan tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satu tantangan yang timbul adalah perkembangan aplikasi baru yang menjadikan peran akuntan tidak dibutuhkan lagi. Persaingan antara pekerja akuntan untuk berlomba-lomba membuat inovasi baru guna mempertahankan posisi mereka.

Kecerdasan mesin semakin pintar dan murah, mengakibatkan lebih memilih beralih pada mesin dibandingkan tenaga manusia karena lebih sedikit mengeluarkan biaya. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya