alexametrics
Jumat, 22 Jan 2021
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

UMK Solo 2021 Naik 2,94 Persen, Serikat Pekerja Kurang Puas

23 November 2020, 09: 52: 09 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi

Share this      

SOLO – Upah Minimum Kota (UMK) Surakarta 2021 naik 2,94 persen dari tahun sebelumnya. UMK ini disahkan bersamaan dengan upah minimun di 35 kabupaten/kota lain di Jateng oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Sabtu (21/11) malam. Di sisi lain, kenaikan upah itu masih kurang memuaskan bagi serikat pekerja, mengingat sebelumnya mereka mengusulkan kenaikan pada kisaran 5,8 persen.

Kenaikan UMK Kota Surakarta pada 2021 sebesar 2,94 persen atau setara dengan Rp 48.810 dari UMK 2020, yakni Rp 1.965.000. Dengan kenaikan ini, angka UMK per 1 Januari 2021 sebesar Rp 2.013.810. 

"Ya benar, Pak Ganjar Pranowo (gubernur Jateng) telah mengesahkan kenaikan UMK untuk Kota Surakata di tahun 2021 sebesar Rp 2.013.810," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerperin) Kota Surakarta Ariani Indrastuti, kemarin.

Ariani menjelaskan kenaikan UMK Solo sebesar 2,94 persen ini sudah sesuai usulan Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Meski demikian, dia mengakui sempat terjadi tarik ulur antara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dengan serikat buruh dalam pembahasan UMK tahun 2021. 

"Pembahasan UMK sempat terjadi deadlock. Apindo Solo inginya kenaikan UMK 0 persen dan buruh minta ada kenaikan. Ya sampai akhirnya keputusan akhir ada di tangan wali kota," papar dia.

Kenaikan UMK Surakarta ini tetap mengacu pada kenaikan UMP Provinsi Jateng  yang ditetapkan Guberbur sebesar 3,27 persen. "SK (surat keputusan) resmi kenaikan belum kami terima. Kemungkinan SK resmi baru kami terima Senin," kata Ariani.

Setelah SK diterima, pihaknya baru melakukan sosialisasi pada perusahaan dan perwakilan buruh. SK kenaikan UMK itu juga akan diperbanyak untuk diberikan pada Apindo dan pemilik perusahaan. "Kami berharap UMK 2021 bisa dijalankan sesuai peraturan, meskipun kondisi ekonomi sekarang seperti ini (pandemi Covid-19). Jika ada perusahaan tidak mampu membayar, mereka harus ada kesepakatan dengan karyawannya," tegas dia.

Di sisi lain, kenaikan UMK sebesar 2,94 belum memuaskan serikat pekerja. Mengingat usulan mereka adalah kenaikan 5,8 persen. "Kawan-kawan dari serikat yabg tergabung di dewan pengupahan sebetulnya sudah berupaya maksimal dengan mengusulkan kenaikan sebesar 5,8 persen. Namun kemudian hanya diperbolehkan naik sampai 2,94 persen. Dikatakan menerima juga tidak, tapi kalau dikatakan tidak menerima juga agak susah jika melihat keadaan kawan-kawan yang memang terpuruk," tutur Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kota Surakarta Wahyu Rahadi.

Ia akan memgevaluasi perihal persentase kenaikan upah itu kepada kawan-kawan serikat pekerja yang tergabung di dewan pengupahan. Mengingat Gubernur Jawa Tengah sendiri telah mengumumkan kenaikan upah minimal provinsi (UMP) adalah 3,27 persen. 

"Kalau tidak puas jelas kurang puas, tapi kami memang harus tahu diri karena Apindo sendiri menginginkan 0 persen kenaikan. Lihat saja dengan Karanganyar Rp 2.054.000, selisihnya makin jauh dengan Solo," papar dia.

Ditambahkan Wahyu, kenaikan ideal yang dibutuhkan pekerja adalah kenaikan riil. Sementara saat ini hanya berupa penyesuaian. Mestinya, kata dia, harus ada penambahan dari perkiraan inflansi tahun depan atau minimal dilakukan survei sesuai PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. 

"Proses pembicaraan kenaikan mestinya dimulai sejak April, namun tahun ini karena pandemi pembicaraan baru dilakukan di akhir. Jika dibandinglan dengan Semarang harusnya tidak begitu jauh, faktanya kita hanya diangka 65-75 persen dari UMK di Semarang. Padahal dari konsekuensi kerja dan kondisi ekonomi tak berbeda jauh. Di Jawa Tengah makanan dan lainnya kan hampir semua sama harga barangnya," terang Wahyu.

Pihaknya berharap pemerintah bisa lebih detail dalam melihat perbedaan upah di Jawa Tengah ini. "Pemerintah harus mulai melihat akan diferensiasi angka. Ke depan harusnya ada keadilan sehingga tidak terlalu jauh perbedaannya. UMK Surakarta sudah terendah di Pulau Jawa, di Jateng pun juga rendah. Saya pikir ini kemenangan dari Apindo dalam proses negosiasi yang ada," tandas dia. (ves/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news