alexametrics
Sabtu, 23 Jan 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Adaptasi New Normal, Ki Purbo Asmoro Wayangan Online

27 November 2020, 22: 02: 26 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Ki Purbo Asmoro memainkan dalang melalui streaming di kediamannya, Griya Mayangkara, Kampung Gebang, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Solo, Agustus lalu.

Ki Purbo Asmoro memainkan dalang melalui streaming di kediamannya, Griya Mayangkara, Kampung Gebang, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Solo, Agustus lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Delapan bulan lebih kegiatan seni di Kota Bengawan harus berhenti karena wabah pandemi. Namun, ini tidak mematikan kreativitas mereka. Ki Purbo Asmoro punya cara unik agar tetap bisa menampilkan wayang kulit tanpa harus menghadirkan kerumunan massa.

Griya Mayangkara, tempat tinggal Ki Purbo Asmoro di Kampung Gebang, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, biasa digunakan tempat berkumpul para seniman pewayangan. Mulai dari sinden, pengrawit (penabuh gamelan), hingga penari yang mayoritas mahasiswa Ki Purbo di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Sejak pandemi, praktis berbagai kegiatan yang melibatkan kerumunan dibatasi. Bahkan terhenti demi mencegah penyebaran Covid-19. Tapi, bukan Ki Purbo kalau tidak bisa menelurkan ide-ide segar dan inovatif.

Pria kelahiran Pacitan, 17 Desember 1961 itu mulai menyesuaikan pergelaran wayang kulit dengan kenormalan baru (new normal). Dibuatlah pertunjukan wayang kulit lewat live streaming di Griya Mayangkara, 25 Maret lalu. Tanpa melibatkan banyak orang.

“Saya apa-apa sendirian. Jadi waktu itu, saya nabuh (memukul) gender (alat musik pukul logam) sendiri, mainkan wayang juga sendirian. Kalau sindennya pakai rekaman. Saya cuma dibantu live streaming sama anak saya,” kata lulusan Jurusan Pedalangan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Solo yang kini berubah jadi ISI Surakarta angkatan 1986 ini.

Ide wayang streaming ini muncul saat Ki Purbo duduk sendirian di rumah. “Saya berpikir, bagaimana tetap menghidupkan kesenian wayang kulit sesuai adaptasi kebiasaan baru. Lalu kepikiran buat pertujukan dengan media online,” imbuhnya.

Selain live streaming di media sosial, pergelaran wayang kulitnya juga di upload di channel YouTube Purbo Asmoro Official. Sehingga masyarakat dapat menyaksikannya, cukup melalui handphone (HP). Tanpa harus datang ke Griya Mayangkara.

Pertunjukkan tunggal itu mengusung lakon Sudamala. Artinya menghilangkan penyakit.  Tema ini menceritakan kutukan yang menimpa istri Batara Guru bernama Batara Umayi. Dalam ceritanya, Batari Umayi berubah menjadi rakshasi (raksasa wanita) bernama Batari Durga yang tinggal di Kahyangan Setragandamayit. Batari Umayi bisa kembali ke wujud aslinya, apabila diruwat oleh Sadewa, anggota Pandawa paling muda.

“Saya ambil lakon Sudamala dengan harapan wabah korona seperti sekarang ini segera berakhir. Kembali normal seperti semula,” beber dalang yang pernah tampil di Istana Negara, Inggris, Austria, dan Yunani tersebut.

Ide-ide segar tak pernah berhenti melintas di pikiran Ki Purbo. Dalam waktu dekat, dia ingin menampilkan pertujukan wayang kulit dengan Bahasa Indonesia. Bukan tanpa alasan. Sebab sasaran penontonnya kaum milenial. Yang kurang paham bahasa Jawa. Terutama Jawa alus (kromo inggil).

“Supaya anak-anak zaman sekarang paham. Sekaligus saya ajak nguri-uri budaya. Tapi tidak mudah. Sebab Bahasa Indonesia yang disampaikan harus memiliki estetika. Saya harus banyak belajar. Tidak bisa langsung instan,” katanya.

Selain estetika bahasa, juara I lomba dalang se-Jawa Tengah pada 1992 ini juga berniat memodifikasi pakeliran. Semua bunyi vokal maupun instrumental pendukung suasana dalam pergelaran wayang tersebut bakal disesuaikan dengan generasi milenial. Berupa pakeliran padat.

“Kaum milenial sekarang beda dengan orang-orang zaman dulu. Contohnya saya mendalang dengan durasi singkat, belum tentu diperhatikan. Makanya saya ingin mengadaptasi pakem pewayangan zaman dulu, dikombinasikan kondisi yang ada sekarang,” ujarnya.

Sementara itu, Ki Purbo Asmoro pernah melakukan aksi fenomenal. Mendalang di dalam Goa Tabuhan, Pacitan, Jawa Timur, 15 Maret lalu. Hanya mengajak seorang pengrawit dan tiga sinden dari kelompok seni Goa Tabuhan. Menariknya, pengawit bukannya menabuh gamelan. Namun memukul batu stalaktit sebagai pengganti kempul, kenong, penerus, dan gong.

“Saya bawakan lakon Prahoro Jero Guo. Menceritakan kegaduhan yang dibuat Sugriwa dan Subali. Penontonnya ya pengunjung Gua Tabuhan,” kenang lulusan S2 Kajian Seni Pertunjukan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja pada 2003 itu.

Keunikan lain dari diri Ki Purbo, yakni masih setia HP jadul merek Nokia. Komunikasi hanya via telepon atau pesan singkat SMS. Alhasil, keluarga dan para relasi harus sedia pulsa jika ingin menghubunginya. Jika ada keperluan mengirim foto, gambar, atau dokumen penting, Ki Purbo terpaksa meminjam HP milik istrinya, Sudi Rahayu, yang juga pesinden.

 “Lebih nyaman pakai HP ini. Sudah hafal hurufnya. Ngetik-nya gampang. Sambil nyetir bisa, tanpa lihat layar HP. Kalau HP Android, kan harus lihat layarnya,” kelakar dalang unggulan pada festival Greget Dalang 1995 tersebut. (fer)

(rs/rgl/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news