alexametrics
Sabtu, 23 Jan 2021
radarsolo
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Pendaki Gunung Merbabu Dibekali Gelang Pintar RFID, Ini Fungsinya

Jumlah Pendaki Merbabu Tertinggi Ke-5

29 November 2020, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Keindahan Gunung Merbabu menjadi daya tarik pendaki.

Keindahan Gunung Merbabu menjadi daya tarik pendaki. (BALAI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU FOR RADAR SOLO)

Share this      

Keelokan alam Gunung Merbabu menjadi magnet ratusan ribu pendaki tiap tahunnnya. Keamanan dan keselamatan mereka selama mengeksplor keberagaman flora dan fauna menjadi prioritas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu.

DIKENAL sebagai gunung tidur, Gunung Merbabu memiliki lima kawah eksotis, yakni Condrodimuko, Kombang, Kendang, Rebab, dan Sambernyowo. Pengunjung juga bakal dibuat takjub dengan sunset maupun sunrise dari dua puncak tertingginya. Puncak Syarif 3.119 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan Puncak Kenteng Songo 3.142 mdpl. Kekayaan alam tersebut  membuat Gunung Merbabu masuk dalam deretan taman nasional terfavorit di tanah air. 

Rilis Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian Lingkungan  Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 2019, total kunjungan ke taman nasional di seluruh Indonesia mencapai 7.930.488.

Pendaki Gunung Merbabu dibekali gelang pintar RFID

Pendaki Gunung Merbabu dibekali gelang pintar RFID (BALAI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU FOR RADAR SOLO)

Dari 50 taman nasional yang ada, Taman Nasional Gunung Merbabu bertengger di urutan kelima dengan 318.388 pengunjung pada tahun lalu. 

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Junita Parjanti berkomitmen terus meningkatkan pelayanan pariwisata, baik dari sisi monitoring dan program perlindungan keselamatan pengunjung.

“Sarana prasarana infrastruktur terus kami benahi. Jaringan dan software kami lakukan inovasi untuk memberikan peningkatan kualitas layanan dan perlindungan pengunjung,” bebernya, kemarin (28/11).

Perlindungan kelestarian Taman Nasional Gunung Merbabu dari ancaman sampah maupun vandalisme dilakukan dengan penerapan program garbage in-out yang ketat. Dibarengi kegiatan bersih gunung secara rutin dan patroli pengawasan efektif, serta pengolahan sampah.

Dengan semakin baiknya pelayanan wisata, diharapkan meningkatkan kualitas pariwisata Taman Nasional Gunung Merbabu yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Saat ini setidaknya dusun di pintu pendakian Selo (genting) sudah menjadi Kampung Basecamp. Perputaran uang cukup besar di sana. Mulai dari jasa transit (singgah), makan,minum, parkir, travel, sewa kendaraan, suvenir, jasa porter dan guide,” ucap Junita. 

Salah satu inovasi Balai Taman Nasional Gunung Merbabu adalah membuat gelang pintar. Gelang berbahan karet ini mengadopsi teknologi radio frequency identification (RFID).

Chip yang tertanam di dalam gelang berfungsi memancarkan sinyal yang dapat ditangkap oleh menara pemancar di sejumlah titik pendakian. Tujuannnya, mempermudah monitoring para pendaki, serta sebagai upaya mitigasi bencana di Gunung Merbabu. 

“Gelang ini penting untuk melacak para pendaki. Misalnya jika mereka tersesat atau mengalami kondisi gawat darurat. Kami bisa cepat mengerahkan tim rescue ke lokasi sesuai sinyal yang dipancarkan dari gelang tersebut. Dengan begitu, upaya pertolongan bisa lebih efisien,” beber Kepala Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Johan Setiawan.

Hingga saat ini, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu sudah memiliki 1.000 buah gelang pintar untuk dipinjampakaikan kepada para pendaki.

Sebelum tersedia gelang pintar, ketika terjadi kondisi darurat, beberapa dari pendaki turun gunung mencari bantuan, sedangkan lainnya menunggu di lokasi kejadian.

Aktivitas tersebut butuh waktu sekitar 3-4 jam. Belum termasuk perjalanan tim rescue menuju tempat kejadian, sehingga upaya pertolongan tidak bisa dilakukan cepat. 

Sementara ini, gelang pintar dipinjampakaikan kepada satu orang dalam satu regu pendaki. Ke depan, diupayakan satu pendaki, satu gelang pintar. 

Memaksimalkan fungsi gelang pintar RFID, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu membuat aplikasi pendaftaran online calon pendaki sejak 2018 yang diberi nama Sidaring. 

Cukup menggunakan smartphone, calon pendaki bisa mengakses Sidaring. Dalam aplikasi tersebut, pendaki diminta mengisi data pribadi, nomor telepon, hingga merinci logistik yang dibawa selama pendakian.

“Banyak pendaki yang belum memiliki pengetahuan tentang logistik dan alat keamanan selama pendakian. Dengan Sidaring ini, kami bisa memonitor dan menentukan apakah logistik yang dibawa sudah sesuai standar atau belum. Jika belum, ada pemberitahuan apa saja yang perlu ditambah,” ujar Johan. 

Calon pendaki juga bakal mendapat informasi terbaru terkait kondisi cuaca di lapangan. Termasuk titik jalur pendakian yang sudah dilengkapi kamera pemantau dan koneksi internet guna memaksimalkan pengawasan.

Aplikasi Sidaring juga mempermudah petugas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu mendata jumlah pendaki. Sekaligus memastikan jalur pendakian sudah over kapasitas atau masih dapat menampung pendaki lainnya.

Untuk sementara, pembayaran retribusi pendakian masih dilakukan secara langsung alias bayar di tempat. Namun, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu mulai ancang-ancang menyempurnakan sistem pendaftaran dan pembayaran pada tahun depan. 

Tidak cukup dengan gelang pintar dan Sidaring, tahun ini, Balai Taman Nasinal Gunung Merbabu mengembangkan sistem mitigasi bernama panic button. Fungsinya mengirimkan sinyal kedaruratan yang bisa langsung direspons petugas.

Hebatnya, meski berada di daerah blankspot, panic button  dapat memberikan tanda kedaruratan kepada petugas untuk segera mengambil tindakan penyelamatan. (ves/wa/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news