alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Learning Community Pacu Prestasi Belajar Siswa

30 November 2020, 16: 59: 42 WIB | editor : Perdana

Learning Community Pacu Prestasi Belajar Siswa

Oleh : Kavinji, S.Pd., MSI, Guru SMP N 1 Baturetno Kabupaten Wonogiri

Guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran. Strategi dan manajemen guru untuk mengatasi masalah pembelajaran sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru.

Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran masih sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan. 

Dalam implementasi materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) lebih menekankan aspek pengetahuan berpusat pada guru, mengarahkan bahan berupa informasi yang tidak mengembangkan berpikir nilai serta hanya membentuk budaya menghafal dan bukan berpikir kritis. 

Dalam pelaksanaan menilai pembelajaran IPS sangat menjemukan karena penyajiannya bersifat monoton dan ekspositoris sehingga siswa kurang antusias. Kondisi ini mengakibatkan pelajaran kurang menarik. Padahal, guru IPS wajib berusaha secara optimum merebut minat siswa karena minat merupakan modal utama untuk keberhasilan pembelajaran IPS.

Hal tersebut juga terjadi pada proses pembelajaran di kelas VII B SMP Negeri 1 Baturetno semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Hasil penilaian harian kompetensi dasar aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan rata-rata kelas 63,33. Dan hanya 50 persen siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) 75. Padahal, idealnya minimal harus mencapai 100 persen. 

Kondisi tersebut disebabkan oleh kenyataan sehari-hari yang menunjukkan bahwa siswa kelihatan jenuh mengikuti pelajaran IPS. Pembelajaran sehari-hari menggunakan metode ceramah dan latihan-latihan soal secara individual dan tidak ada interaksi antarsiswa yang pandai, sedang dan normal. Hal ini terbukti sebagian besar siswa mengeluh apabila diajak belajar IPS.

Solusi untuk mengatasi masalah ini, guru  menerapkan model pembelajaran kooperatif.  Salah satunya model pembelajaran learning community. Learning community dilandasi oleh konstruktivisme sosial. Kontruktivisme sosial merupakan paradigma pembelajaran yang digagas oleh Vygotsky. Pembelajaran berfokus pada proses dan interaksi dalam konteks sosial. Interaksi dan proses sosial menjadi perhatian dalam mencapai tujuan pembelajaran. 

Menurut Kennedy (2009), learning community berusaha menggeser pembelajaran yang bersifat individual menjadi pembelajaran yang bersifat sosial. Ini berarti iklim kompetitif dalam kelas harus diubah menjadi iklim sosial, sehingga tidak terjadi kesenjangan intelektual dan pengalaman di antara siswa. 

Langkah-langkahnya adalah, pertama, grouping,  yaitu menetapkan jumlah anggota komunitas, menentukan sumber, memilih topik dan merumuskan permasalahan. Kedua, planning, yaitu menetapkan apa yang akan dipelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya. Ketiga, investigation atau saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi. 

Keempat, organizing di mana anggota komunitas menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator dan notulis. Kelima,  presenting, yakni salah satu komunitas menyajikan, komunitas lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan. Keenam, evaluating. Masing-masing pelajar melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing.

Hasil pembelajaran dengan pendekatan learning community menunjukkan peningkatan prestasi belajar. Terbukti pada  kondisi awal sebelum melalui pendekatan learning community diperoleh data rata-rata 63,33 dan hanya 50 persen siswa mencapai KKM 75. Padahal idealnya minimal harus mencapai 100 persen siswa.

Pada siklus I meningkat rata – rata kelas menjadi 69,89 dan sebanyak 65 persen siswa memperoleh nilai tuntas. Di akhir siklus II terdapat kenaikan prestasi belajar lagi, yaitu rata – rata kelas menjadi 83,3 dan sebanyak 90 persen siswa memperoleh nilai tuntas. Peningkatan prestasi belajar pada siswa kelas VIIB ini menunjukkan bahwa  model pembelajaran learning community sangat cocok digunakan dalam pembelajaran IPS, khususnya pada kompetensi dasar aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news