alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Kritik Pelitnya Perizinan Liga, Pelatih: Tarkam & Laga Amal Saja Bebas

01 Desember 2020, 13: 18: 57 WIB | editor : Perdana

Bintang PSS Sleman Yevhen Bokhashvili (kiri) bergabung dengan Sandung Riwut FC di laga amal kontra Tawangmangu All Star di Lapangan Plumbon, Tawangmangu, beberapa waktu lalu.

Bintang PSS Sleman Yevhen Bokhashvili (kiri) bergabung dengan Sandung Riwut FC di laga amal kontra Tawangmangu All Star di Lapangan Plumbon, Tawangmangu, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Share this      

SOLO – Pandemi Covid-19 sudah berjalan sembilan bulan lamanya di Indonesia. Hal ini membuat kompetisi Liga Indonesia juga terhenti karena izin dari pihak kepolisian belum diturunkan. Padahal jika melihat fakta, banyak acara yang mengundang massa masih tetap digelar tanpa larangan.

Selain itu, beberapa kompetisi antarkampung (tarkam) juga bisa digelar bebas. Beberapa fun football hingga laga amal juga masih digelar. Bahkan, beberapa laga malah dihadiri cukup banyak penonton.

Dua eks penggawa Arseto Solo, I Komang Putra dan Eduard Tjong mengakui kompetisi yang dihentikan sementara memang jadi perdebatan.

Edu tetap menghormati keputusan pemerintah untuk selalu menerapkan protap kesehatan yang ketat selama pandemi. Termasuk menghormati pihak kepolisian yang belum memberikan izin keramaian dan gelaran Liga 1 maupun Liga 2.

Namun, ditundanya  kompetisi liga sepak bola di seluruh Indonesia membuatnya bertanya-tanya. Sebab, sudah hampir setahun kompetisi sepak bola ditiadakan. Padahal liga di luar negeri bisa digelar dengan menjalani protokol kesehatan ketat.

Eks pelatih Persis Solo, Persela Lamongan, PS TNI hingga Persija IPL tersebut menilai regulasi soal protokol kesehatan yang dirancang PT Liga Indonesia Baru  (LIB) selaku operator  kompetisi untuk menjalani Liga 1 dan Liga 2 dirasa cukup aman. Baik buat pemain dan elemen yang ada di sekitarnya. Bahkan pemain diwajibkan menjalani swab, ditambah kompetisi juga bisa digelar dengan tanpa penonton.

”Okelah (kalau alasan) adanya pilkada, harusnya sepak bola bergulir dahulu. Nanti jika pilkada dimulai baru persepakbolaan Indonesia dihentikan untuk sementara. Sebagai orang lapangan mewakili pelatih dan pemain kami sangat kecewa dengan pihak kepolisian yang mengizinkan adanya demo dan pilkada, sedangkan sepak bola tidak," ucapnya ketika dijumpai Jawa Pos Radar Solo di Lapangan Blulukan, Colomadu, belum lama ini.

Ungkapan serupa juga dilontarkan pelatih kiper PSIS Semarang I Komang Putra. Dia juga merasa kecewa karena kompetisi sepak bola dihentikan sementara. Padahal ini merupakan mata pencaharian para pelatih dan pemain.

"Semoga segera ada titik terang kapan akan digelar kembali kompetisinya. Karena kalau kompetisi macet terus-terusan, pelatih dan pemain mau nyari makan dari mana. Karena kami terbiasa cari rezeki di sepak bola," tuturnya.

Di sisi lain, kabar Bhayangkara FC yang siap menggelar latihan kembali pertengahan Desember mendatang di Solo, tentu membuat banyak klub kompetitor menganggap ada sinyal terang liga akan digelar lagi. Terlebih Bhayangkara adalah klub bentukan Polri.

Edu sendiri menanggapi atas terbentuknya Bhayangkara Solo FC. Dia optimistis akan banyak pemain potensial di Kota Solo yang bisa tertampung bakatnya. 

"Positif saja sih mikirnya. Asal bisa merangsang bibit muda sepak bola asal Sol. Semoga bisa menyatu dengan masyarakat Solo, kenapa tidak," ungkapnya.

Jika ada perdebatan di pihak Pasoepati tentang keberadaan Bhayangkara FC di Solo, Edu menyarankan, alangkah baiknya Pasoepati bisa duduk bersama dengan manajemen Bhayangkara. Sehingga bisa berdiskusi hingga bisa dipahami lebih jelas dan mendalam alasan niat klub bentukan Polri itu pindah home base ke Solo. (ryn/nik/ria)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news