alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Tak Langsung Dikubur, Pasien Probable Covid Malah Dibawa ke Rumah Duka

01 Desember 2020, 22: 36: 02 WIB | editor : Perdana

Prosesi pemakaman yang dilakukan oleh tim Jogo Tonggo di salah satu desa di Kecamatan Slogohimo, Selasa (1/12). Jenazah sempat disemayamkan di rumah duka.

Prosesi pemakaman yang dilakukan oleh tim Jogo Tonggo di salah satu desa di Kecamatan Slogohimo, Selasa (1/12). Jenazah sempat disemayamkan di rumah duka. (ISTIMEWA)

Share this      

WONOGIRI - Salah satu pasien probable Covid-19 berinisial S, 40, berjenis kelamin laki-laki asal Kecamatan Slogohimo tak langsung dimakamkan. Jenazah sempat disemayamkan di rumah duka terlebih dahulu sembari menunggu pembuatan liang lahat.

Camat Slogohimo Khamid Wijaya mengatakan, ada satu warga di salah satu desa di sana yang dimakamkan dengan protokol kesehatan. Warga itu meninggal pada Senin (30/11) malam, di Rumah Sakit Amal Sehat Slogohimo.

"Tadi pagi (1/12) pukul 09.30 sudah dimakamkan dengan protokol kesehatan atau protokol Covid-19. Selesai pukul 10.00," ungkapnya lewat sambungan telepon.

Camat menjelaskan, pasien tersebut meninggal dengan hasil rapid test reaktif. Kemudian dari pihak keluarga meminta agar jenazah dibawa ke rumah duka. Pihak rumah sakit pun akhirnya mengantarkan jenazah ke rumah duka. Sempat pula ada orang-orang yang melayat.

"Sempat ada takziah juga, tapi tidak banyak. Tadi pagi sudah dimakamkan oleh tim Jogo Tonggo dengan APD lengkap. Yang memakamkan dan tuan rumah saat ini menjalani isolasi mandiri hingga hasil swab test-nya keluar," jelas Khamid.

Dihubungi terpisah, Bagian Humas Rumah Sakit Amal Sehat Slogohimo Imawan Haris Nursalim mengatakan, jenazah pasien dibawa ke rumah duka karena diminta oleh pihak keluarga. Pihaknya telah memberikan edukasi kepada keluarga dan ketua RT setempat. Selain itu, pihaknya juga melapor kepada pihak-pihak terkait.

"Dari informasi yang kami dapat, itu (disemayamkan di rumah duka) sembari menunggu pembuatan lubang makam. Dapat info juga kalau itu (pemakaman) menunggu petugas pemakamannya juga," kata dia.

Saat pihak rumah sakit mengantarkan jenazah ke rumah duka, sudah dilakukan pemulasaraan jenazah dengan protokol kesehatan. Peti pun sudah disetting sedemikian rupa sesuai protokol kesehatan.

Jenazah diantarkan ke rumah duka pada Senin (30/11) sekitar pukul 23.00. Pihak rumah sakit telah menekankan kepada keluarga agar tidak membuka peti jenazah sembari menunggu pemakaman. Dan hal itu ditaati oleh keluarga.

Imawan Haris juga mengamini bahwa berdasarkan hasil rapid test, pasien meninggal itu reaktif. Sudah diambil sampel swab pasien untuk mengetahui apakah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 atau tidak.

"Pasien tersebut masuk sekitar tiga hari lalu. Saat masuk memang kondisinya sudah agak berat. Pasien juga dirawat di bangsal isolasi yang ada karena kami juga rumah sakit rujukan lini tiga," kata Imawan.

Ditanya terkait prosedur pemulasaraan jenazah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri Adhi Dharma mengungkapkan, secara prosedur pemulasaran jenazah Covid-19 haruslah dengan protokol yang telah ditetapkan. Baik itu untuk kasus suspek, probable, dan terkonfirmasi positif Covid-19.

Saat pemulasaraan jenazah para petugas harus menggunakan APD lengkap. Sama dengan menangani pasien penyakit infeksius lainnya. Setelah proses pemulasaraan klir, perlu dilakukan koordinasi dengan satgas penanganan Covid-19.

"Nggak bisa kalau ada orang yang mengambil jenazah pasien sendiri. Harus koordinasi dengan satgas. Ada tim yang sudah terlatih dalam memakamkan pasien Covid-19," kata dia.

Jika satgas di tingkat desa belum mampu mem-back up proses pemakaman pasien Covid-19, harus segera melapor ke satgas di tingkat kecamatan. Apabila di tingkat kecamatan juga kesulitan, satgas tingkat ini harus melaporkan ke satgas kabupaten.

"Setidaknya laporan dulu. Meminta petunjuk terkait mekanisme atau lainnya. Itu pun (jenazah pasien Covid-19) tidak bisa disemayamkan. Boleh disemayamkan kalau kondisinya sulit, misalnya hujan deras," papar Adhi.

Hal itu pun harus dengan sepengetahuan satgas. "Tapi dalam kurun waktu 24 jam harus sudah klir," imbuh dia.

Akan lebih ideal lagi apabila pihak rumah sakit berkomunikasi dengan satgas Covid-19 saat terjadi kematian pasien Covid-19. Dengan begitu, satgas Covid-19 bisa berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menyiapkan makam dan lain sebagainya.

"Jadi saat makam siap, petugasnya siap, jenazah dikirim. Tidak harus menunggu," kata dia.

Disinggung terkait kejadian di Slogohimo, Adhi mengaku sudah mengetahui. Pihaknya juga bakal menindaklanjuti hal tersebut dengan melakukan tes Covid-19.

"Bisa kami lakukan swab atau rapid test bagi petugas pemakaman atau yang di rumah. Untuk yang takziah kami lakukan tracing dulu. Kami tunggu dulu berdasarkan masa inkubasinya," ucap dia.

Lebih lanjut dijelaskan Adhi, pasien meninggal di Slogohimo itu berstatus probable. Pasien probable adalah pasien suspek yang sudah diambil sampel swab dan kini menunggu hasilnya keluar.

Namun demikian, idealnya jenazah pasien Covid-19, baik yang suspek, probable ataupun positif dari rumah sakit langsung dibawa ke tempat pemakaman. Dengan begitu, jenazah bisa langsung dimakamkan tanpa disemayamkan di rumah.

Masyarakat saat ini juga sudah memahami hal tersebut. Seharusnya, kata Adhi, kejadian seperti di Slogohimo itu tidak terulang kembali. Sebab, pemerintah tak ingin mengambil risiko.

"Tidak hanya kasus positif yang meninggal yang harus langsung dimakamkan. Kasus suspect, probable maupun terkonfirmasi positif perlakuannya adalah perlakuan penanganan Covid-19," pungkas Adhi. (al/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news