alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

Anggota KPPS Merasa Dicovidkan, Hasil Swab Test Mandiri Berbeda

03 Desember 2020, 06: 38: 40 WIB | editor : Perdana

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen Hargiyanto.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen Hargiyanto. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Salah seorang warga Desa Wonotolo, Kecamatan Gondang merasa sengaja dicovidkan. Selain itu, dia menilai hasil swab test di tempat karantina Technopark tidak akurat. Lantaran hasil swab test di Technopark dengan swab mandiri berbeda.

Seoarang warga Dusun Kedung gandu, Desa Wonotolo, Kecamatan Gondang dengan inisial NAN, 36, merasa tidak mendapat informasi yang tepat soal Covid-19. NAN yang mendaftar sebagai kelompok panitia pemungutan suara (KPPS) mengikuti rapid test dan dinyatakan reaktif. Lalu menjalani swab test di Technopark Sragen dan hasilnya keluar positif pada Jumat (20/11).

NAN menolak saat dijemput petugas untuk karantina di Technopark. Sebab, NAN merasa dirinya sehat. Dia lalu mengambil langkah melakukan swab test mandiri di Rumah Sakit dr Oen Solo dan hasilnya keluar negatif.

”Swab di Technopark Sragen hasilnya positif. Terus saya curiga hasil dari Moewardi itu tidak ada tanda tangan yang yang bertanggung jawab di bawahnya. Saya bandingkan dengan hasil yang dari dr Oen itu ada tanda tangannya dari dokter lab,” terangnya.

Ya, karena ragu hasil swab test di Technopark Sragen, dengan biaya sendiri NAN lantas melakukan swab test di RS dr Oen Solo. Hasilnya negatif, tapi dia harus merogoh kocek pribadi senilai Rp 1,3 juta.

”Di Technopark hasilnya keluar tigza hari setelah swab, dari dr Oen duahari langsung keluar. Intinya nggak percaya karena tidak ada tanda tangan di bawahnya. Hasilnya di share lewat WA, bukan surat resmi," ujarnya.

Pihaknya berharap setelah ini pemmerintah memberikan kepastian hukum. "Yang namanya hasil swab itu tidak main main, yang jelas waktu malaksanakan swab mandiri kok ternyata negatif," ucap dia.

Tokoh masyarakat Desa Wonotolo, Joko Riyanto yang mendampingi NAN juga heran karena kabar NAN yang positif Covod-19 membuat warga sekitar resah. Tapi, pihaknya melihat dari pemerintah seperti tidak ada tindakan. Pemerintah maupun dinas kesehatan (dinkes) juga tidak ada tindakan ke rumah. ”Minimal ya ada penyemprotan, ini tidak ada sama sekali,” bebernya.

Joko justru merasa kasihan pada NAN karena hasil yang dikeluarkan tidak akurat. Kondisi itu berdampak pada keadaan ekonomi dan sosialnya. ”Yang bersangkutan yang juga takmir masjid juga dijauhi jamaah. Usaha tempe kripiknya tidak laku. Terpaksa dikasihkan ke hewan ternak sapi,” ungkap mantan kepala Desa Wonotolo itu.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sragen Hargiyanto menyampaikan, untuk NAN pertama diambil swab test pada Selasa (17/11) di Technopark. Hasilnya keluar pada Jumat (20/11) dinyatakan positif. Kemudian yang bersangkutan swab test mandiri di RS dr Oen pada Kamis (26/11). Hasil keluar dua hari setelahnya dinyatakan negatif.

"Swab test mandiri selang sembilan hari dari swab test pertama. Masa Inkubasi virus itu yakni 14 hari. Jika yang bersangkutan sudah tertular sebelumnya dan waktu swab kedua masa inkubasinya selesai, kan mungkin juga,” terang Hargiyanto.

Ditambahkan dia, untuk yang tanpa gejala, dalam 14 hari sudah dinyatakan sembuh. ”Jadi mungkin virus waktu hidupnya tinggal sebentar. Kalau mau cari second opinion selang beberapa hari dan hasilnya negatif, ya memungkinkan. Beberapa kasus juga ada seperti ini,” bebernya.

Bagaimana dengan tidak adanya tanda tangan hasil swab test di Technopark? Hargiyanto mengatakan, swab test di sana memang program karena beban biaya ditanggung pemerintah. Pemberitahuan tanpa tanda tangan dari program tersebut sudah dianggap sah.

”Sragen saja dalam sehari bisa 300 (hasil swab test keluar). Kalau suruh tanda tangan satu per satu, belum tentu mau dokternya,” ujarnya. (din/ria)



(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news