alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Penembakan Mobil Bos Tekstil, Perbakin: Usut Asal Senjata Milik Pelaku

03 Desember 2020, 16: 06: 15 WIB | editor : Perdana

Salah satu bagian mobil yang terkena tembakan pelaku LJ.

Salah satu bagian mobil yang terkena tembakan pelaku LJ. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Selain mengusut kasus penembakan mobil pengusaha tekstil di Jalan Monginsidi, Banjarsari, Rabu (2/12), polisi juga harus mengusut asal muasal senjata yang digunakan pelaku, LJ, 72, yang tak lain adalah adik ipar korban. 

Ketua Bidang Target Perbakin Surakarta Heru Murwanto mengatakan, aksi penembakan mobil Alphard yang disopiri Kr dengan penumpang seorang perempuan pengusaha tekstil itu sudah masuk kategori kriminal. Diakui dia, untuk memiliki senjata Walter, seperti yang dimiliki pelaku, memang tidak sulit dan tak perlu menjadi anggota Perbakin. Izin bisa dilakukan di tingkat Polda maupun Mabes Polri. 

"Kemudian yang direkomendasikan memiliki senjata ini antara lain pengusaha, pimpinan perusahaan, dokter serta anggota dewan," tuturnya, Kamis (3/12).

Senjata berkaliber 22 ini sejatinya merupakan senjata untuk olahraga serta defence atau pertahanan. Sehingga seharusnya peluru yang digunakan merupakan peluru karet. Tapi dari hasil sitaan petugas, peluru yang digunakan pelaku LJ adalah peluru tajam. 

"Fungsinya melumpuhkan dan hanya digunakan ketika keadaan benar-benar terdesak. Tapi ini kan dengan sengaja digunakan dan peluru yang digunakan peluru tajam. Sehingga apa yang dilakukan pelaku ini sudah masuk kategori kriminalitas,” urainya.

Senjata keluaran Jerman ini apabila dijual secara resmi seharga Rp 100 juta sampai Rp 150 juta. "Sehingga siapa pelaku ini juga yang jelas pasti bukan orang sipil biasa," kata Heru.

Untuk itu, lanjut dia, harus dievaluasi kembali regulasi terkait kepemilikan senpi, khususnya pistol. Dengan memperketat syarat kepemilikan, maka kejadian serupa bisa dicegah sejak awal.

Heru menegaskan, LJ juga bukan merupakan anggota Perbakin Surakarta. Sebab, untuk anggota Perbakin yang hendak memiliki senjata api harus melewati serangkaian tes dan syarat yang wajib dipenuhi.

Perbakin pun memiliki aturan ketat kepada pada calon anggota mereka. Minimal para calon anggota harus magang terlebih dahulu selama setahun, baru bisa mengantongi kartu tanda anggota (KTA) dan punya hak untuk memiliki senpi.

"Magang ini untuk mengantisipasi masalah penguasaan senjata. Jadi kami lihat lingkungannya seperti apa, karakter kondisi orang tersebut, masalah kejiwaan. Apakah pernah terlibat kasus hukum atau tidak. Apakah layak mereka menjadi anggota kita dan kita rekomendasikan memiliki senjata,"  paparnya.

Setelah menjadi anggota, nantinya KTA tersebut harus diperbarui setiap dua tahun sekali sambil dinilai apakah anggota tersebut layak atau tidak untuk terus menjadi anggota. Ditambahkan Heru, baru-baru ini muncul kebijakan baru dari Perbakin Pusat, di mana anggota harus memiliki senjata resmi setelah empat tahun bergabung.

Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi penggunaaan senjata ilegal di kalangan penembak Perbakin. Untuk kepemilikan senjata, Heru mengurai, setiap anggota punya hak memiliki delapan pucuk senjata laras panjang dan sepuluh pucuk pistol. Namun, kalibernya harus berbeda satu sama lain.

"Namun kalau untuk Solo, punya empat saja itu sudah sangat banyak. Karena kita tahu harga senjata api itu tidaklah murah, bisa ratusan juta. Sebab, senjata api yang resmi dibeli oleh anggota itu impor," ujarnya

Heru mengamini jika pemilik senjata tidak boleh memegang senjata tanpa mengantongi SIASA. Selama ini untuk senjata laras panjang yang dimiliki anggota Perbakin Surakarta disimpan di gudang senjata Polresta Surakarta. Sementara untuk pistol disimpang di gudang milik Polda Jawa Tengah. Senjata tersebut baru dikeluarkan jika ada keperluan latihan, lomba atau berburu. (atn/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news