alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsolo
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Alam Merbabu kian Mempesona,Reaktivasi Butuh Persiapan Matang

13 Desember 2020, 07: 35: 59 WIB | editor : Perdana

ANUGERAH ILAHI: Pendaki menikmati keindahan alam Gunung Merbabu sebelum pandemi. BTNGMb berharap tahun depan aktivitas pendakian kembali aktif menyusul berakhirnya pandemi. 

ANUGERAH ILAHI: Pendaki menikmati keindahan alam Gunung Merbabu sebelum pandemi. BTNGMb berharap tahun depan aktivitas pendakian kembali aktif menyusul berakhirnya pandemi.  (BTNGMb FOR RADAR SOLO)

Share this      

Terhitung sudah sepuluh bulan Gunung Merbabu ditutup untuk pendakian. Sejak pandemi Covid-19 pada Maret lalu, kawasan pendakian Gunung Merbabu di lima jalur belum menerima tamu. Para pendaki yang sudah rindu dengan suasana alam Gunung Merbabu harus bersabar lebih lama lagi. Bocorannya, saat ini Gunung Merbabu sedang cantik-cantiknya. 

HAMPIR setahun ditutup imbas Covid-19, membuat Gunung Merbabu istirahat dari hiruk pikuk pendakian. Sisi lain dari pandemi covid-19 ini adalah me-refresh alam Gunung Merbabu. Jalur pendakian yang biasa dilintasi para pendaki, sekarang mulai tertutup vegetasi. Bunga Edelweis pun mulai tumbuh subur.

"Alam Merbabu sedang cantik sekali. Kami monitor terus melalui aplikasi Sidaring dan lewat CCTV. Banyak pertanyaan dari pendaki kapan Merbabu dibuka lagi. Kami selalu jawab, sabar dulu. Yang sudah kangen dengan Merbabu, ditahan dulu. Nanti saat sudah dibuka kembali, Merbabu menerima pendaki dengan cantik," ungkap Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) Johan Setiawan kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Pihaknya masih menunggu perkembangan pandemi Covid-19 di Indonesia. Termasuk bagaimana proses reaktivasi untuk wisata pendakian.

“Semoga tahun depan sudah bisa dibuka kembali lima jalur pendakian. Selo, Wekas, Suanting, Tekelan, dan Cunthel. Karena reaktivasi wisata pendakian tidak semudah pariwisata biasa," jelasnya. 

Pada kondisi normal, pengelola TNGMb bisa naik-turun lima kali hanya untuk mengevakuasi pendaki yang cedera. Bisa dibayangkan jika pendakian dibuka di tengah pandemi Covid-19, akan jauh lebih merepotkan. Sebab, jika ada pendaki yang terpapar Covid-19, pertolongan butuh persiapan ekstra.

"Kalau tenaga kesehatan (nakes) mengevakuasi ke atas puncak, berat. Karena jalur pendakian rata-rata 5 kilometer jauhnya, dari bawah ke puncak. Maka kami harus betul-betul siap jika akan reaktivasi Gunung Merbabu," bebernya.

Selain itu, jika jalur pendakian dibuka saat ini, maka pendaki rentan menularkan Covid-19 ke masyarakat desa yang mayoritas orang tua dan anak-anak. Itulah salah satu alasan BTNGMb belum membuka jalur pendakian. Johan memohon para pendaki lebih bersabar menunggu situasi kondusif. 

“Ketika pendaki datang, jumlahnya ribuan, mereka ke desa (basecamp), maka berpotensi menularkan korona ke masyarakat,”  pungkasnya. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news