alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarsolo
Home > Nasional
icon featured
Nasional

Pemprov Jabar Berikan Tas Bakti Guru Kunjung bagi Guru di Pelosok

21 Desember 2020, 16: 10: 50 WIB | editor : Perdana

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Supandi.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Supandi.

Share this      

BANDUNG - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Jabar) bekerja sama dengan PT SMI, JAGI Foundation, Rumpun Indonesia menggagas program bantuan untuk guru yang diberi nama Tas Bakti Guru Kunjung. Program ini sebagai solusi bagi para guru di pelosok atau daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur pendidikan saat memberikan pembelajaran kepada peserta didik saat pandemi Covid-19. 

"Untuk tahap awal, kami akan mengadakan Tas Bakti Guru Kunjung itu sekitar 300 buah. Namun, yang dibagikan pada launching ini sebanyak 150 buah," kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Supandi saat peluncuran Tas Bakti Guru Kunjung secara daring, Sabtu (19/12) lalu.

Tas Bakti Untuk Guru Kunjung ini terdiri atas perlengkapan protokol kesehatan, seperti masker, handsanitizer dan face shield. Serta dilengkapi  meja, papan tulis jalan, dan USB yang berisi bahan pengajaran dari Tikomdik Disdik Jawa Bara lalu video motivasi untuk tetap berintegritas.

Tak hanya itu, isi di dalam Tas Bakti tersebut ternyata juga mengandung nilai kearifan lokal gotong royong. Seperti masker yang dibuat pelajar SMKN 9 Bandung, handsanitizer dibuat pelajar SMKN 5 Bandung. Kemudian, tas yang bisa diubah menjadi meja dan papan tulis dibuat alumni desainer ITB. Sementara materi bahan ajar pembelajaran kontektual-kolaboratif yang telah diunduh ke dalam USB disusun oleh Tikomdik Disdik Jabar dan para talent siswa SMA/SMK/SLB.

Dedi mengatakan, dalam menghadapi tantangan pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi Covid-19, terdapat banyak guru di Jawa Barat yang memiliki integritas dan dedikasi tinggi. Para guru tersebut melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk tetap memberikan layanan pendidikan bagi siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi dan akses teknologi.

Untuk itu, Jabar Masagi sebagai program unggulan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di bidang pendidikan karakter khas Jawa Barat berkolaborasi dengan PT SMI, JAGI Foundation, Rumpun Indonesia, dan Tikomdik Disdik Jawa Barat memberikan Tas Bakti Guru Kunjung sebagai solusinya.

"Hampir delapan bulan sejak pandemi Covid-19 mulai masuk Indonesia, para pelajar di Jawa Barat terpaksa belajar di rumah. Sehingga dengan kebijakan belajar di rumah ini, sebagian peserta didik bisa tetap berkomunikasi dengan gurunya melalui perangkat teknologi informasi," tutur dia.

Akan tetapi, di daerah terpencil atau pelosok Jawa Barat, sebagian guru dan peserta didik kesulitan mengakses jaringan komunikasi. Sebab, rumahnya masuk kawasan blank spot tanpa jaringan atau sinyal internet. Oleh karena itu, para guru melakukan pertemuan terbatas dengan para pelajar atau muridnya, sampai mendatangi ke rumah-rumah mereka untuk memberikan materi pengajaran.

Dikatakan Dedi, hal tersebut sudah berjalan di sejumlah kawasan di Jawa Barat, semenjak kasus-kasus Covid-19 bermunculan dan menyebar. Selain itu, tidak jarang para guru harus berjalan sampai ribuan meter untuk berkeliling mengunjungi rumah-rumah pelajar.

Menurut dia, pembelajaran secara daring memang merupakan sebuah tantangan berat bagi semua pihak di dunia pendidikan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun menyadari pembelajaran daring ini mempunyai kelemahan, terutama di kawasan yang tidak terlayani jaringan internet. Tidak semua pembelajaran bisa dilakukan dengan daring, terutama bagi pelajar SMK yang memiliki mata pelajaran praktik.

Dinas Pendidikan Provinsi Jabar memberikan 2,2 juta paket data internet kepada para pelajar dan guru untuk membantu proses pembelajaran daring. Termasuk peminjaman gawai milik sekolah kepada pelajar yang tidak memiliki gawai.

"Ternyata itu pun belum semua memenuhi karena kondisi geografis di Jawa Barat ini masih banyak memiliki area yang blank spot. Ada sekitar 1.200 desa dengan status desa desa hutan," kata dia.

"Kalau letak sekolahnya mungkin masih ada di pusat kecamatan, tapi siswa-siswanya kebanyakan di pelosok yang tidak terjangkau jaringan. Akhirnya, tidak sedikit guru yang berkunjung ke rumah-rumah siswa," tandad Dedi. (rls/yun/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news