alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Mengenal Komunitas Exalos, Spesialis Tangani Ular Masuk ke Permukiman

04 Januari 2021, 22: 08: 39 WIB | editor : Perdana

Anggota komunitas Exotic sedang mengamankan ular.

Anggota komunitas Exotic sedang mengamankan ular. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

Tidak sembarang orang berani berurusan dengan binatang melata. Namun, bagi relawan tergabung dalam Exotic Animal Lovers Indonesia (Exalos), ini justru menjadi sebuah hobi. Selama empat tahun terakhir, komunitas ini sering membantu warga menangkap ular yang masuk ke permukiman. 

ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

BEBERAPA relawan Exalos sedang melakukan rescue anakan ular kobra di salah satu rumah warga di Blulukan, Colomadu, Karanganyar. Mereka tampak cekatan mengamankan binatang berbisa ini. Bukan sembarang menangkap. Namun, mereka juga belajar soal teori bagaimana menangani binatang melata ini.

“Iya, ini diminta tolong warga karena ada ular kobra masuk ke permukiman,” ujar Janu Wahyu Widodo yang didapuk sebagai ketua Exalos Indonesia.

Awalnya komunitas ini sebagai wadah para pecinta hewan reptil.  Namun sejak 2018, Janu dan kawan-kawan tergerak di bidang penanganan ular yang masuk ke permukiman warga. Sebab, memang penanganan ular ini perlu kehati-hatian. Meski ahli, bila salah langkah reptil melata ini bisa menyerang balik. 

Janu menuturkan, sebenarnya ular merupakan hewan yang tenang dan sangat jarang menyerang. Hewan ini baru akan menyerang dalam kondisi terdesak atau terganggu. “Nah, yang terjadi, ketika berpapasan dengan ular, kita pasti panik. Ular mengartikan itu sebagai ancaman," katanya.

Contohnya kobra. Ular ini mendeteksi lewat gerakan. Maka apabila berpapasan dengan kobra harus tenang. Setelah itu, bisa mencari sapu atau kayu untuk menjauhkan kepala ular dari tubuh. 

“Setelah itu bisa mengarahkan kepala ular ke mulut botol. Nanti dia masuk sendiri. Atau yang paling mudah, kalau ada ular ambil ember besar, kemudian secara perlahan langsung tutup ular dengan menggunakan ember, terus timpa menggunakan benda berat. Setelah itu panggil yang berpengalaman,” tutur Janu. 

Dia juga mengingatkan agar tidak menggunakan karung atau kain. Cara matador ini sangat berisiko. Ular rentan menggigit. “Saya bicara begini karena pernah mengalaminya,”  ungkap Janu.

Apabila tergigit ular berbisa, lanjut Janu, maka cara pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pembidaian seperti halnya orang patah tulang. Sebab, bisa ular menyebar tidak melalui darah, tetapi lewat kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening ini mengalir atau mungkin menyebar dikarenakan kontraksi otot.

“Jadi pada saat kita tergigit langsung lakukan pembidaian di tempat yang tergigit itu agar tidak bergerak. Maka kelenjar getah bening itu tidak akan menyebar. Itu untuk yang terkena bisa hanya kawasan lokal saja. Tidak perlu membutuhkan antibisa. Setelah itu langsung ke rumah sakit. Kalau observasi itu nanti sekitar 48 jam. Misalkan tidak terjadi fase penyebaran atau sistemik itu, berarti aman,” urai Janu.

Menurut dia, Exalos sengaja dibentuk memang untuk membantu masyarakat yang kewalahan  atau malah takut melakukan evakuasi terhadap ular. “Kami 24 jam on call. Pernah kami melakukan evakuasi dari pukul 22.00 sampai 02.00 dinihari,” katanya.

Anggota Exalos saat ini sudah tersebar di 16 kota di delapan provinsi. Dalam sehari, sedikitnya ada  tiga laporan masuk yang meminta membantu evakuasi ular. Saat ini ular yang paling banyak ditangkap adalah anakan kobra, lisodon, ular pelangi, dan ular hijau ekor merah. Meski masih anakan, ini lebih berbahaya dibandingkan kobra dewasa. Sebab, mereka belum bisa mengontrol keluarnya bisa.

“Kalau kobra dewasa ada yang namanya dry bite atau gigitan tanpa bisa. Sedangkan kemampuan itu belum bisa dilakukan anakan kobra. Karena sejak menetas mereka sudah memiliki bisa,” ucapnya

Ditanya soal fenomena anakan kobra yang merebak dalam beberapa waktu terakhir, Janu mengatakan, saat ini hingga bulan depan memang merupakan musim menetas bagi reptil yang memiliki racun mematikan ini. Kondisi ini diperparah karena predator ular kobra seperti musang, biawak, garangan, burung elang, dan burung hantu habis diburu manusia.

“Untuk itu, kami juga saat ini menangkar biawak agar bisa melepas di permukiman warga. Harapannya bisa sedikit mengurangi populasi kobra di lingkungan masyarakat secara alami,” jelas Janu. 

Untuk ular-ular yang dievakuasi ini akan ditangkar dan dilepas ke alam bebas yang jauh dari permukiman. Lokasinya sengaja dirahasiakan demi menjaga populasi. Sebab, hewan-hewan melata ini juga termasuk rantai makanan. Kalau hilang, maka keseimbangan akan terganggu. 

Selain melakukan evakuasi, komunitas ini juga melakukan edukasi terhadap masyarakat terkait menanggulangi ular. Guna pencegahan, sebaiknya masyarakat saat ini mulai membersihkan rumah dari perkakas yang tidak dipakai.

“Kemudian taruh kapur barus di sudut-sudut rumah, karena ular anti dengan bau menyengat. Yang jelas, jangan menyebar garam, percuma, ular tidak takut. Karena ular adalah hewan bersisik, bukan berlendir,” ujarnya. (*/bun/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news