alexametrics
Kamis, 28 Jan 2021
radarsolo
Home > Boyolali
icon featured
Boyolali

Fase Awal Erupsi Merapi Dimulai, Waspada Ancaman Lebih Besar

06 Januari 2021, 20: 29: 13 WIB | editor : Perdana

Salah satu petugas Posko Induk Merapi di Pendapa Pemkab Klaten saat memantau kondisi Gunung Merapi.

Salah satu petugas Posko Induk Merapi di Pendapa Pemkab Klaten saat memantau kondisi Gunung Merapi. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Fase erupsi Gunung Merapi sudah dimulai sejak 4 Januari lalu. Warga di kawasan rawan bencana (KRB) diminta semakin waspada kemungkinan terjadi erupsi lebih besar.

Kepala Seksi (Kasi) Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Agus Budi Santoso mengungkapkan, per 4 Januari 2021, Gunung Merapi sudah kembali erupsi. Hal itu dilihat dari adanya luncuran lava dari puncak Merapi.

“Merapi sudah mulai erupsi kembali. Erupsi ini baru awal cerita erupsi Gunung Merapi,” katanya usai rapat evaluasi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Selo di Alua SMKN Selo, Rabu (6/1).

Agus menyebut, berdasarkan data pemantauan seismik dan deformasi menunjukkan peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Bahkan, dalam pengamatan visual pada 4 Januari lalu muncul lava pijar akibat guguran material puncak Merapi.

Luncuran lava pijar beberapa kali berasal dari dasar lava 97 berada di barat daya kawah Merapi.  Selain itu, juga terdapat api diam dan munculnya gundukan material baru berupa kubah lava 2021. Dengan begitu, tak menutup kemungkinan lava dapat muncul di tempat lain atau lava tebing seperti kejadian erupsi 1930 lalu.

“Barat daya dan barat masih terancam bahaya erupsi Merapi. Sedangkan wilayah yang terancam masih sama seperti saat ditingkatkan statusnya menjadi siaga, November lalu,” ujarnya.

Pihaknya meminta masyarakat tetap bersabar dengan kondisi Merapi saat ini. Sebab, dari kesimpulan data pengamatan ancaman bahaya Merapi masih sama seperti yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Mudah-mudahan yang kami harapkan ini segera berakhir dan masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa. Masyarakat kami mohon untuk tetap bersabar,” ujarnya. 

Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencaaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida menambahkan, aktivitas Gunung Merapi terus meningkat dengan rata-rata laju deformasi yang diukur dari electronic distance measurement (EDM) mencapai 21 cm per hari. Sebelum akhirnya pada Rabu (6/1) siang menurun menjadi 11 cm per hari. Tetapi deformasi atau penggelembungan badan Merapi sejak 22 Juni 2020 hingga saat ini total sudah mencapai 8 meter.

“Deformasi ini akibat dari desakan magma yang terjadi secara maksimum. Dari awalnya pelan-pelan per minggu menjadi per hari. Dari 1 cm dan 2 cm menjadi 21 cm per hari pada 22 Desember lalu,” jelasnya, Rabu (6/1).

Hanik mengungkapkan, penurunan laju deformasi kali ini karena magma sudah mencapai permukaan. Apalagi desakan magma ke badan Merapi yang selama ini cenderung mengarah ke barat juga menurun. Meski begitu munculnya magma ke permukaan menandai sebagai fase awal terjadinya erupsi.

Munculnya magma ke permukaan hingga luncuran lava pijar yang terjadi sebanyak empat kali pada Selasa (5/1) tidak menaikkan status Merapi saat ini. Status Merapi masih berada di level III alias siaga. Meski begitu, warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III diminta untuk meningkatkan kewaspadaannya.

“Kalau lava pijar semalam jangkaunnya sampai 400 meter. Tetapi statusnya masih sama yakni siaga. Radius bahaya erupsi Merapi masih 5 km. Potensi bahaya juga masih sama tetapi kewaspadaannya lebih ditingkatkan,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, kubah lava di puncak Merapi saat ini terus tumbuh. Apabila nanti tidak stabil dan terjadi guguran, maka bisa berpotensi terciptanya awan panas. Karena itu, dia berharap segala aktivitas penambangan dan pariwisata di KRB III benar-benar dihentikan karena erupsi Merapi tidak dapat diprediksi.

“Prediksi kami gejala yang terjadi saat ini masih terus berlanjut. Mengingat baru fase awal erupsi. Hanya saja sampai kapan terjadi, itu yang kami tidak tahu,” jelasnya.

Hanik mengungkapkan, dari hasil pemantauan yang dilakukan BPPTKG Jogja terhadap seluruh aktivitas Merapi dan data deformasi serta perubahan morfologi lereng untuk bahaya erupsi Merapi berada di wilayah Barat hingga Barat Laut.

Dia juga mengingatkan agar warga KRB III untuk selalu mengikuti arahan dari pemkab dan tidak berpengaruh dengan berita yang tidak jelas sumber dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Sip Anwar menambahkan, pihaknya terus koordinasi dengan BPPTKG Jogja terhadap perkembangan Merapi.

“Memang aktivitasnya terus meningkatkan dan mengeluarkan lava pijar, tetapi kapan erupsinya, sulit diprediksi. Tetapi kami sudah mengimbau masing-masing desa yang masuk di KRB III untuk meningkatkan kewaspadaannya. Termasuk mengecek logistik maupun ronda malam setiap harinya,” ujarnya. (wid/ren/bun/ria)

(rs/wid/ren/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news