alexametrics
Selasa, 19 Jan 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

2 Kali Merapi Luncurkan Awan Panas, Siapkan Sister Family untuk Warga

07 Januari 2021, 18: 46: 30 WIB | editor : Perdana

Warga Sidorejo, Kecamatan Kemalang melihat ke arah Gunung Merapi saat luncuran awan panas guguran terjadi.

Warga Sidorejo, Kecamatan Kemalang melihat ke arah Gunung Merapi saat luncuran awan panas guguran terjadi. (ISTIMEWA)

Share this      

KLATEN - Gunung Merapi meluncurkan guguran awan panas sebanyak dua kali pada Kamis (7/1) sekitar pukul 08.00 dan pukul 12.50. Seluruhnya mengarah ke hulu Kali Krasak dengan durasi 139 detik dan 154 detik

Kondisi tersebut tidak membuat warga Klaten yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III melakukan pergerakan ke bawah secara siginifikan. Meski begitu, masing-masing desa telah meningkatkan kewaspadaannya terhadap peningkatan aktivitas Gunung Merapi.

“Untuk warga Desa Sidorejo sendiri masih siap, tetapi belum bergeser. Warga tadi justru melihat ke arah gunung. Saat luncuran itu tidak diikuti dengan suara gemuruh,” jelas Relawan Desa Sidorejo, Sukiman saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Lebih lanjut Sukiman mengungkapkan, saat terjadi luncuran awan panas memang sedikit terlihat dari Dusun Deles. Sebab, tertutup awan. Warga pun keluar rumah untuk melihat peristiwa tersebut.

Meski Siderejo merupakan satu-satunya desa di Klaten yang warganya belum menempati tempat evakuasi sementara (TES) di GOR Kalimosodo, tetapi semua tetap meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya dengan menyiapkan sister family yang telah dilakukan pendataan ketika kondisinya semakin membahayakan.

“Sister family ini kalau sudah status Gunung Merapi menjadi awas. Atau setidaknya jika kondisi sudah semakin membahayakan,” ucapnya.

Dengan penerapan sister family itu, warga dusun yang berada di KRB III sudah memiliki lokasi untuk bergeser maupun mengungsi tersendiri. Tetapi masih dalam satu persaudaraan, baik masih satu domisili di Desa Sidorejo maupun desa lainnya di Kecamatan Kemalang.

Sementara itu, Koordinator Relawan Desa Tegalmulyo, Subur menjelaskan, awan panas guguran yang terjadi dua kali tidak terpantau dari desanya. Mengingat luncuran ke arah barat dan hujan deras mengguyur. Sehingga pantauan terhadap wedhus gembel itu tidak maksimal.

"Kalau pengaruh ke warga tidak ada karena meluncurnya ke arah barat atau barat daya. Jadi di Tegalmulyo tidak begitu kena pengaruh. Hanya peningkatan kewaspadaan saja dengan kondisi Merapi saat ini,” ucap Subur.

Dalam rangka mempersiapkan diri terhadap bahaya erupsi Merapi, kata Subur, pihaknya terus meningkatkan koordinasi. Terutama dengan desa paseduluran yang nantinya akan menerima pengungsi dari desanya.

“Kebetulan ini kami baru di Desa Demakijo, Kanoman dan Gatak. Kami dengan teman-teman baru berkoordinasi bilamana nanti warga Tegalmulyo harus bergeser dari TES ke tempat evakuasi akhir (TEA). Ini kami sedang survei lokasi yang disediakan oleh teman-teman Demakijo, Kanoman, dan Gatak,” jelasnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Endang H.S. menjelaskan, koordinasi desa paseduluran terus diperkuat. Sehingga warga KRB III mengetahui lokasi pengungsian yang ada di TEA.

“Tujuan pertemuan yang kami adakan antara desa pengungsi dan penerima ini, jika terjadi erupsi, warga menjadi lebih siap. Di samping itu, kami ingin memastikan tempat-tempat di mana nanti sedulur saat mengungsi,” pungkasnya. (ren/ria)

 

 


(rs/ren/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news